Chapter 23

9.2K 873 11
                                        

Aku mendesah lega ketika melihat hasil kerjaku semalaman. Tidak sia-sia jika malam tadi aku tidur pagi. Kalian tau apa yang berhasil ku kerjakan? Jika kalian menebak tentang essay sialan itu berarti kalian benar. Aku memang masing berkutat dengan tugas esaay itu, dan berkat sedikit bantuan –uhm maksudku dengan banyak bantuan yang telah di berikan Zayn, aku bisa menyelesaikan satu essay dengan baik. Sekarang tugas essayku tinggal 19 lagi, bagaimana ada kemajuan bukan?

Tolong, jawab saja iya. Kalau seperti itu ‘kan bisa untuk menyemangatiku, sehingga aku tidak berkesan ‘Hey Clarisse, kau bodoh sekali. Dari 20 essay kau baru bisa mengerjakan 1? Hah.’ Itu menyakitkan, oke?

Karena sudah menyelesaikan satu buah essay ini, aku berniat untuk ke kampus hari ini dan menemui Ms. Grey. Jujur saja, aku penasaran dengan komentar yang akan di lontarkannya kali ini. Biasanya, dia akan mengelak jika pekerjaanku sudah benar. Seperti ; Ini benar, tapi kurang panjang Ms Morgan atau, lain kali jika teman-temanmu belum keluar kau jangan keluar terlebih dahulu dari ruang ujian. Menjengkelakan sekali memang.

Menata semua kertas yang berantakan di meja, aku pun berdiri. Karena sudah berniat ke kampus, aku juga sudah mandi. Padahal ini masih pagi. Dan, yeah Bels masih tidur. Aku sangat bersyukur akan hal itu.

Aku melangkahkan kaki ke kamar untuk sedikit bersiap-siap seperti mengganti baju dan sedikit menyisir rambut. Namun, saat aku membuka lemari, aku sedikit mengeryit. Aku baru sadar jika selama ini bajuku cukup sedikit, dengan model yang sama. Ini sedikit… memalukan, aku sangat tidak tau mode. Ugh, setidakpedulinyakah aku dengan penampilan? Aku bahkan sama sekali tidak punya dress.

Saat sedang memilah baju, aku mendengar sura erangan dari belakang. Tanpa menoleh pun aku tau siapa orang itu, siapa lagi kalau bukan Bels. Dia sedang menyipitkan matanya padaku, dan memandangku heran.

“Jam berapa ini kak?” tanyanya bingung. Sekilas aku menunjuk jam yang di gantung di dinding dengan ekor mataku. Lalu aku melanjutkan kegiatan memilah-milah baju.

“ jam 8? Pagi sekali. Mau kemana kau kak? Tidak biasanya kau pergi pagi-pagi di hari libur” Tanya Bels lagi. Aku merasa ketenanganku mulai terusik dengan bangunnya dia. Aku kira Bels tidak akan banyak Tanya lagi setelah pertanyaannya tadi malam.

“Kampus. Aku ingin menyetorkan tugas essay pada Ms. Grey” jawabku seadanya. Setelah beberapa detik aku tidak mendengar suaranya lagi. Bagus, dia tidak akan banyak Tanya pagi ini.

“Kau sedang memilih baju kak?” tanyanya yang sentak mengejutkanku. Bels ternyata sudah di sampingku –berdiri di depan lemari– dengan tangan yang ikut memilih-milih baju. “Yeah seperti yang kau lihat. Aku merasa jika bajuku terlalu … membosankan” ungkapku pada akhirnya.

Bels tertawa, dia lalu meandangku aneh. “Akhirnya, setelah sekian lama kau selalu tidak peduli penampilanmu sekarang kau sudah sedikit peduli kak,” aku mengeryit. Bels meneruskan ucapannya, “Tenang saja Kak, asal kau tau adikmu ini adalah styles handal di kalangan sekolah. Aku bisa memilihkan baju yang tepat untukmu”

Dia tiba-tiba membuka lemari lebar-lebar dan sedikit mengobrak-abriknya untuk mencari sesuatu. Nah, kelakuan aslinya mulai muncul saat ini. Dan dalam waktu tiga menit, dia sepertinya berhasil menemukan sesuatu yang di carinya.

“Aku menemukannya” teriaknya senang  dengan sebuah baju terusan berwarna cream 10 centi di bawah lutut di tangannya. Aku yang melihatnya  langsung mudur. Apakah Bels ingin aku memakai baju semacam itu? Maksudku, aku tidak pernah memakai rok!

“Apa?” kataku galak saat Bels mulai mengepaskan baju itu di tubuhku. “Pas sekali! Kau akan terlihat berbeda saat menggunakan ini Kak aku yakin. Apalagi jika rambutmu panjang, wah” jelasnya riang.

Protect You || Malik [au]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang