Aku terbangun begitu saja dan langsung mendapati lengan Zayn yang melingkar erat di perutku, membuat punggungku seolah bersandar pada dada bidangnya.
Dengan hati-hati, aku mengangkat lengannya yang melingkar di perutku lalu membalikan badanku menghadapnya. Memperhatikan bagaimana ia tidur, bagaimana dadanya naik dan turun secara teratur karena bernafas, matanya yang tertutup rapat, rahangnya yang sudah mulai ditumbuhi rambut tipis, dan bibirnya.
Aku menelan ludah saat memikirkan bagaimana ia menciumku malam itu. Dan langsung membuang pikiranku jauh-jauh ketika aku memikirkan hal yang tidak-tidak.
Mengulurkan lenganku, aku tidak dapat menahan keinginan untuk menentuh wajahnya. Bagaimana bisa seseorang tidur dengan wajah yang tetap tampan? Aku bahkan tidak berani melihat pantulan wajahku sendiri dari cermin ketika baru bangun tidur. Aku tidak menyangka bisa disandingkan dengan lelaki seperti dia. Terkadang hal itu membuatku bingung.
Apa yang ia lihat dari diriku?
Tepat ketika aku hampir menyentuh wajahnya, sebuah tangan memegang pergelangan tanganku. Zayn membuka matanya lalu mengangkat alis sebelum tersenyum miring.
“Apa yang sedang kau perhatikan, Clarisse?” ujarnya lalu mengangkat lalu
Telapak tanganku yang dipegang olehnya, mengecupnya.
Aku mendengus kesal. “Jadi dari tadi kau sudah bangun?”
Zayn mengangguk. “Tepat saat kau mengalihkan lenganku yang memelukmu.”
Aku ingin sekali berteriak karena malu. Kenapa ia tidak bangun saja kalau memang sudah bangun? Kenapa ia membiarkanku malu karena tertangkap basah sedang memperhatikannya?
Alih-alih melakukannya, aku justru bangun terduduk dan menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul tujuh. Bagus, sepertinya keputusanku untuk absen kuliah cukup tepat.
“Ini masih pagi,” gumam Zayn. “Tidur lagi saja. Aku masih ingin tidur.” ungkapnya sambil menarikku agar kembali berbaring.
Aku mengerang ketika melihatnya kembali menutup mata dengan tangan yang masih memegang lenganku.
Melepasnya, aku segera bangkit dan merangkak turun dari ranjang. “Ini sudah siang untukku Zayn, aku harus menemui Bels. Ia butuh sarapan sebelum sekolah. Yeah, setidaknya aku harus mengeceknya dulu.”
Aku mendengar helaan nafasnya dan saat aku berbalik, aku melihatnya yang sudah bangkit dari tempat tidur. Matanya setengah terpejam, ia mengampiriku yang berada di sisi lain tempat tidur.
“Baiklah. Aku mandi dan kau mengurus Bels. Memang, sekarang bukan waktu yang tepat untuk tidur seharian karena kita punya rencana.”
“Rencana kencan?”
Ia mengangguk sambil tersenyum separuh. “Yeah, terserah apa katamu. Buatkan aku sarapan kalau begitu.”
Aku terdiam beberapa saat. Teringat akan niatanku yang ingin membeli bahan makanan tadi malam tapi justru berakhir di apartemennya tanpa membawa apapun. Bels akan sangat kesal karena ini.
“Baik. Mungkin ada sesuatu yang bisa kubuat untuk sarapan.” ujarku padanya lalu beranjak pergi.
Zayn menghentikanku. “Morning kiss?” ucapnya sambil mengangkat alis.
Aku memutar bola mataku. Morning kiss bukan ide bagus. Maksudku, kami baru saja bangun tidur. Betul?
“Tidak, Zayn. Aku ingin mandi dulu kalau bisa, sebelum membuat makanan.”
Setelahnya aku berbalik sebelum akhirnya dikejutkan oleh sebuah kecupan di pipiku. “Baiklah kalau begitu,” ia tersenyum. “Buatkan makanan yang enak. Kecuali kalau kau ingin kumakan.” Lanjutnya sambil tergelak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Protect You || Malik [au]
Fanfiction"Ini hanya tentangku yang kau benci. Tentangku yang terlalu takut kehilanganmu. Tentangku yang mencintaimu dan terlalu pengecut untuk mengatakan yang sebenarnya padamu. Tapi, kumohon, jangan lagi mencoba menjauh dariku. Aku hanya ingin kau di sini...
![Protect You || Malik [au]](https://img.wattpad.com/cover/19988280-64-k658219.jpg)