HEre we go, guys. Otak gue lagi konslet jadi maklumin aja kalo nggak memuaskan, wkwk. Gue juga ga yakin ini masih ada yg baca atau enggak.
Sorry nunggunya sampe lumutan!;)
______________________________
Buliran air mata sudah lagi tidak bisa dibendung oleh perempuan ini. Ia menangis dalam diam, memandang punggung dokter yang tadi baru saja memberitahukan padanya sebuah hasil pemeriksaan.
Hatinya terasa teriris.
Tidak tidak mungkin ini terjadi lagi. Aku sudah cukup mengalaminya.
Pernyataan yang dikatakan dokter tadi terus menerus terngiang di telinganya. Ia menggeleng, mengelap air matanya dengan punggung tangan.
Hal ini sudah terjadi hampir lima kali. Ia sudah tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana kepada suaminya. Mereka sudah menikah kurang lebih dua tahun, tapi ia selalu gagal memberikan mereka momongan karena perilahal bodoh yang sering diperbuatnya.
Kali ini, ia tidak mau lagi mengecewakannya. Dilepasnya selang infus itu dengan paksa. Rasa perih terasa di sepanjang pergelangan tangannya ketika sebuah jarum tidak sengaja sedikit menggores permukaan kulitnya. Tapi ia tidak peduli.
Dengan sedikit terhuyung, ia berjalan menghampiri pintu bercat putih untuk keluar dari sini. Lebih baik menjauh lebih dulu. Ia belum siap untuk langsung mengatakan semuanya setelah ia kembali.
Kegagalan itu lagi-lagi memukul dirinya, membuatnya merasa sangat tidak berguna.
Bayangan mengenai ekspresi senangnya ketika ia memberitahu bahwa ia positif mengandung, kembali berputar di otaknya. Untuk yang kesekian kali, perempuan ini tidak ingin mengecewakan seseorang lagi. Seseorang yang sudah menjadi bagian hidupnya.
Tangannya terasa dingin dan sedikit gemetar ketika berhasil mencapai pintu. Ia memutar kenopnya secara perlahan. Kepalanya terasa amat pusing, pegangannya di kenop pintu itu semakin mengerat.
Rasa pusing itu semakin menjadi, membuat penglihatannya buram. Hingga akhirnya, pintu terbuka. Tapi ia tidak bisa melihat apapun. Semuanya terasa gelap. Dan tanpa terasa, tubuhnya sudah ambruk di dasar lantai.
**
Aku tersentak dari tidur dan segera terduduk. Napasku terasa memburu, aku mengusap wajahku dengan kedua telapak tangan lalu menenggelamkannya di antara kedua lututku yang tertutup selimut.
Mimpi itu lagi.
Aku tidak menyangka akan terus dihampiri mimpi semacam ini. Mengenai kegagalan yang sangat kutakuti. Tentang sesuatu yang selama satu bulan terakhir ini terus menerus menghantuiku.
Aku dan Zayn sudah bersama selama dua tahun. Ya, kami bukan hanya bersama. Kami sudah menikah. Ia sudah resmi menjadi suamiku sejak dua tahun lalu. Saat di mana aku begitu terkejut akan rencananya yang tiba-tiba.
Selama dua tahun itu pula kami berencana untuk tidak punya momongan terlebih dahulu. Tapi akhir-akhir ini, sesuatu justru membuatku takut untuk sekedar mengandung. Mimpi tentang pendarahan yang terjadi sampai lima kali ini berhasil membuatku ngeri. Aku takut kalau hal seoerti itu terjadi padaku.
Awalnya, Zayn baik-baik saja dengan permintaanku untuk tidak punya momongan. Tapi, akhir-akhir ini aku juga berpikir bahwa rumah menjadi terasa sangat sepi. Sampai kapan kami akan seperti ini terus?
Aku yakin kalau aku tidak menangis. Dan kalaupun aku melakukannya, aku yakin bahwa suara tangisku tidak akan terdengar.
Tapi aku salah. Tangan seseorang terasa menyentuh kulit lenganku yang terbuka. Sisi tempat tidur sedikit bergerak ketika Zayn bangun untuk menjejeriku yang sedang terduduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Protect You || Malik [au]
Fanfiction"Ini hanya tentangku yang kau benci. Tentangku yang terlalu takut kehilanganmu. Tentangku yang mencintaimu dan terlalu pengecut untuk mengatakan yang sebenarnya padamu. Tapi, kumohon, jangan lagi mencoba menjauh dariku. Aku hanya ingin kau di sini...
![Protect You || Malik [au]](https://img.wattpad.com/cover/19988280-64-k658219.jpg)