Chapter 60

7.9K 730 54
                                        

Ada yang kau sembunyikan dariku, Clarisse?”

Aku tersentak lalu menggigit bibir bawahku, merasa gugup. Wajah Zayn tampak sedang memandangiku tidak yakin dari balik layar. Sepertinya keputusanku untuk melakukan video call ini sedikit salah. Tapi aku sangat merindukannya, aku ingin melihat wajahnya meski hanya lewat perantara ini.

Pukul sembilan tadi, ia menelponku dan berkata kalau dia sudah mempunyai waktu luang sehingga bisa menghubungiku. Aku menerimanya dan meminta dia untuk melakukan video call saja, lalu kami mulai bercerita tentang apa yang kami lalui hari ini. Aku, dengan sebaik mungkin, menyembunyikan fakta tentang pertemuanku dengan Safaa dan juga obrolanku dengan William mengenai dia.

Aku berkata bahwa hari ini tidak ada hal lain selain kuliah yang membuatku suntuk. Tapi sialnya, aku mengatakan sesuatu yang membuatnya curiga.

“Kau bertemu dengan William?”

“Aku—“ matanya memicing ketika mulutku mulai berbicara sekaligus mencoba merangkai kebohongan yang akan kusampaikan. Tapi melihatnya yang kembali menatapku seperti itu membuatku membatalkan niatku untuk berbohong. Sia-sia saja usahaku untuk mengelak, karena faktanya dia pasti juga akan mengetahuinya sendiri.

“Ya, aku bertemu dengannya,” Gumamku lalu menghela nafas. “Jangan berpikiran macam-macam, dia sama sekali tidak menyampaikan hal buruk padaku. Dia pria yang baik, aku bisa menilainya sendiri. Dia juga menyampaikan padaku agar kau mau mengunjunginya—“

“Jangan pernah menemuinya lagi. Dan asal kau tahu, aku takkan pernah menemuinya lagi selain karena urusan bisnis.”

Ekpresinya sulit ditebak, ia tampak marah, kecewa, dan juga hal lain yang tak bisa kukatakan. Pandangan matanya tidak mau bertemu denganku, ia seolah-olah melihatku tanpa ingin melihat mataku. Tangannya terlihat mencari-cari sesuatu, dan beberapa detik kemudian ia memegang sebatang rokok dan menyalakannya.

“Kau sudah tahu semuanya?” tanyanya sambil menghisap rokok dan menghembuskannya perlahan.

Suaranya tidak sedingin tadi, tapi terdapat sarat kekhawatiran di sana. Aku tak tahu mengapa, yang jelas, aku yakin kalau ia tidak suka jika aku mengetahui serpihan dari masa lalunya. Ia seperti mengkhawatirkan sesuatu yang tak kumengerti.

“Tidak, hanya beberapa. Terutama tentang alasan mengapa kau membenci ayah angkatmu sendiri.”

Ia tertawa kecut, dan kembali menghisap rokoknya.

“Harusnya aku tidak meninggalkanmu sendiri di sana. Sudah pasti William berkata hal yang macam-macam padamu. Percayalah, sebagian besar ucapannya hanya omong kosong.”

“Tapi dia bukan pembunuh orang tuamu.”

“Aku tidak peduli mengenai hal itu. Aku tidak peduli siapa yang membunuh orang tuaku, atau alasan mengapa mereka terbunuh. Mereka sudah jelas tidak peduli denganku, jadi untuk apa aku peduli dengannya? Lagi pula, aku membeci Will karena dia yang memperalatku sejak dulu dan sialnya aku tak bisa menghentikan kelakuannya.”

“Kau masih peduli dengan orang tuamu, itulah alasan mengapa kau membenci William. Kau berasumsi jika dialah pembunuh orang tuamu karena kau melihat dia yang memegang pistol setelah orang tuamu mati tertembak. William tidak memperalatmu, dia hanya memberikan apa yang kau minta. Kau ingin bekerja padanya dan dia memberikanmu pekerjaan.”

Aku merasa terengah-engah stelah berkata sepanjang itu. Kupandangi Zayn dengan khawatir. Dan sialnya, dugaanku benar tentang reaksi dia jika sudah menyangkut masalah ini. Dia masih tidak bisa didebat. Garis rahangnya mengeras, seperti menahan marah.

“Aku tidak mau membicarakan hal ini lagi, Clarisse. Kau sudah mengingkari laranganku untuk menemui Will. Dan sekarang kau tidak bisa mengungkit ini semua karena aku akan tetap pada presepsiku sendiri. William dengan segala omong kosongnya. Selesai.” Ujarnya datar.

Protect You || Malik [au]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang