long chapter guys...
happy reading!
____________________________
“Apa maksudmu? Aku –aku bisa meminjam ponselmu untuk menelponnya.” Ujarku tergagap.
“Memangnya kau hafal nomor teleponnya?” tanyanya remeh.
“Tidak. Eh, maksudku aku –aku … tidak hafal.” Ujarku pasrah pada akhirnya.
Zayn tergelak singkat saat melihat reaksiku. Dia lalu menarik tanganku untuk memasuki apartemennya. Apakah dia serius untuk mengajaku tidur di apartemennya? Aku kira dia hanya bercanda untuk sekedar meledekku. Tapi, dia ‘kan hanya memiliki satu kamar dan juga satu tempat tidur. Lalu nanti aku tidur dimana?
Mana mungkin jika aku dan dia tidur satu-
aku menghentikan langkahku secara mendadak. Kenapa perutku tiba-tiba terasa mual?
Zayn ikut menghentikan langkahnya dan menghadapku --melihatku yang melepas genggaman tangannya untuk memegangi perut dan mulutku yang terasa ingin muntah.
“Kau kenapa?” tanyanya khawatir –atau mungkin bingung saat melihat reaksiku.
“Aku tidak apa-“ Perutku terasa makin sakit, kepalaku berdenyut pusing. Doubel sialan, apakah ini karena reaksi alkohol?! “Dimana toilet?” tanyaku cepat padanya.
Tangan kananku masih menutup mulutku yang terasa ingin muntah, ini sangat … Hah, aku butuh toilet sekarang!
“Di sebelah dapur bagian-“ Aku mengangguk dan langsung berlari ke arah dapur. Aku pernah melihat dapurnya, setidaknya pasti aku akan menemukan toilet yang dia maksudkan.
“Hey Clarisse, kau tidak apa-apa?” teriaknya saat aku berlari menuju toilet.
Sungguh, aku hanya membutuhkan tempat untuk mengeluarkan semua ini. Perutku sudah sangat sakit bukan main, aku tidak bisa menahannya lagi. Bahkan menunggu Zayn menyelesaikan ucapannya pun tidak bisa.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling dapur, dan benar saja, di bagian kanannya ada sebuah pintu bercat putih yang sangat kuyakini sebagai toilet. Pasti itu.
Dengan segera, aku langsung menuju pintu itu dan masuk. Kucepatkan langkah ke wastafel, ini sudah sangat-
“Clarisse kau baik-baik saja?” teriak seseorang dari luar.
Aku memegangi sisi wastafel dan terus melakukan hal untuk mengurangi rasa mualku –hal yang kurasa tidak perlu kukatakan karena ini sangat menjijikan.
Aku sedikit terengah-engah dan hal itu juga membuatku lemas. Sialan, harusnya aku tidak minum alkohol lagi. Aku sudah cukup puas dengan hungover yang pernah kualami.
“Hey, kau baik-baik saja?” tanya Zayn lagi yang ternyata sudah di sebelahku.
Aku memandangnya lewat kaca yang berada di depanku. Dia terlihat sedikit khawatir. Sedangkan aku –aku terlihat sangat pucat. Hell, yeah, aku baru muntah satu kali dan hasilnya…
Astaga. Perutku mual lagi.
Zayn memegangi bahu dan juga mengelus punggungku saat aku muntah, dia terlihat bingung dengan keadaanku yang seperti ini. Dia terlihat ingin menolong namun tidak bisa. Saat ini aku sangat berterimakasih karena dia melakukan hal itu, setidaknya pegangan tangannya di bahuku membuatku masih bisa berdiri. Kalau tidak, mungkin aku sudah jatuh terduduk saking lemasnya.
Aku selesai sekitar sepuluh menit kemudian. Ini melelahkan dan juga … membuatku pusing. Aku menghela nafas, harusnya aku tidak disini. Harusnya aku merasakan ini sendirian di apartemenku. Harusnya aku tidak merepotkannya … lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Protect You || Malik [au]
Fanfic"Ini hanya tentangku yang kau benci. Tentangku yang terlalu takut kehilanganmu. Tentangku yang mencintaimu dan terlalu pengecut untuk mengatakan yang sebenarnya padamu. Tapi, kumohon, jangan lagi mencoba menjauh dariku. Aku hanya ingin kau di sini...
![Protect You || Malik [au]](https://img.wattpad.com/cover/19988280-64-k658219.jpg)