Chapter 63

6.8K 771 67
                                        

Sorry for typo(s)

__________________________

C l a r i s s e

Aku menginjak pedal gas sekali lagi ketika melihat dia yang ternyata mengejarku. Perasaan déjà vu memasuki diriku ketika memikirkan apa yang sedang aku dan dia lakukan. Ini seperti kembali di masa-masa dulu ketika aku masih belum kenal dengannya. Ketika aku dan dia pernah melakukan balap bersama.

Air mata yang sudah hampir mengering selalu saja keluar ketika aku mengingatnya. Sialan karena dia menemuiku ketika aku sudah tahu semuanya. Aku tidak menyangka dia akan melakukan hal seperti itu padaku. Kukira dia tulus? Ha-ha tapi ternyata aku saja yang terlalu bodoh.

Aku membelokan mobil ke arah yang berlawanan dengan jalan dimana apartemenku berada. Tidak mungkin aku akan tinggal di sana. Mungkin flat milik Liz satu-satunya pilihan untukku bermalam. Bels sedang menginap di rumah temannya, hal itu membuatku tak perlu menghawatirkan keadaannya.

Sekali lagi, aku melihat pada spion mencoba memastikan apakah dia masih ada dibelakangku atau tidak. Tapi aku sudah tidak melihat mobil yang dikendarainya. Mungkinkah dia berbalik arah dan melepaskanku begitu saja?

Entahlah, aku tidak mau memikirkan hal itu sekarang. Aku sendiri tidak tahu perasaan apa yang sekarang kurasakan padanya saat ini. Aku marah, kecewa, dan aku membencinya. Tapi di sisi lain, aku tidak bisa mengabaikan rasa rinduku padanya. Kukira setelah dia kembali aku bisa memeluknya dan memintanya mengabaikan pertengkaran kami beberapa hari lalu. Lalu aku dan dia bisa menjalani hari-hari tenang kami seperti biasa.

Nyatanya, semua harapanku sia-sia. Aku tidak bisa memeluknya. Tidak ada hari-hari nyamanku dengannya. Tidak ada sikap manisnya yang selalu membuatku selalu mencintainya lebih dalam lagi.

Karena, sekarang aku tahu. Semua itu hanya palsu.

Aku lagi-lagi menyeka air mata yang kembali keluar. Oh, sampai kapan aku akan terus menangis tiap kali mengingatnya?

Mungkin saja aku bisa memaafkannya dengan mudah jika dia hanya berpura-pura mencintaiku. Aku masih mau mendengarkan penjelasannya dan mungkin saja dia benar. Tapi tentang kenyataan kalau dia lah pembunuh orang tuaku? Tidak, aku tidak akan bisa memaafkannya dengan mudah. Aku tidak bisa mendengarkan penjelasannya, karena aku tahu semua itu hanya omong kosong belaka.

Kenapa aku harus mendengar pernyataan itu dari orang yang ia anggap sebagai musuhnya? Kenapa aku tidak mendengarnya dari dirinya sendiri? Kenapa ia memperalatku dan hanya berpura-pura mencintaiku ketika aku sudah terlanjur jatuh padanya? Kalaupun ia memperalatku, kenapa dia mempermainkan perasaanku dalam semua rencana sialan itu?

Aku menutup pintu mobil dengan keras ketika sudah sampai di flat milik Liz. Kuusap pipiku, memastikan tidak ada air mata yang lagi-lagi keluar. Mungkin saja, Liz bisa melihat mata sembabku. Tapi sekarang aku tak peduli. Yang penting aku bisa bermalam di sini, dan menghindar dari dia. Aku belum siap melihatnya lagi. Karena jika aku tetap melihatnya, aku yakin kalau aku tidak akan bisa melupakannya.

Kuketuk pintu beberapa kali sebelum Liz membukakan pintu dari dalam. Ekspresi wajahnya kaget karena melihatku datang malam-malam seperti ini, tapi ia lebih kaget lagi ketika melihat bagaimana diriku sekarang.

"Astaga, Clarisse, apa yang terjadi?" ungkapnya sambil memegang kedua bahuku.

"Tidak ada apa-apa, bolehkah aku masuk? Tolong," ujarku sambil menurunkan tangannya.

Liz mengangguk dan langsung menyuruhku ke dalam. Ia kembali menutup pintu sedangkan aku berjalan lebih dulu di depannya.

"Duduklah dulu, Clarr, aku tahu kau kenapa-napa." Ujar Liz ketika kami sudah sampai di ruang tengah.

Protect You || Malik [au]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang