Chapter 65

6.7K 732 75
                                        

Sorry for typo(s)

_______________________

Jantungku berdebar hampir dua kali lipat dari biasanya. Suaranya itu membuatku mengurungkan niat untuk segera meninggalkannya dari sini. Aku memperhatikan Zayn dengan hati-hati, beberapa saat setelah ia menggumamkan namaku.

Aku menunggu, tanpa sadar aku menunggunya untuk membuka mata dan melihatku yang sedari berada di sini. Aku menunggunya untuk bangun lalu memelukku serta menjelaskan semuanya. Tapi, ternyata ia tidak kunjung membuka matanya sampai beberapa menit setelah ia memanggil namaku.

Aku menghela nafas lega sekaligus menyadari sebuah kebodohanku karena mengharapkan satu hal.

Kau ingin dia bangun lalu memlukmu serta menjelaskan semuanya? Demi tuhan, Clarisse, kau bahkan sudah tidak mau mendengar penjelasan apapun darinya.

Tersenyum masam akan suara yang kembali menyeruak dalam benakku, aku akhirnya segera membalikkan badan untuk mengambil buku materi yang berada di kamarku. Karena melihatnya, aku hampir lupa apa tujuan awalku ke sini. Lebih baik aku segera mengambil semua barang yang sedang kuperlukan lalu segera meninggalkan apartemen ini secepat mungkin.

Memang, sebagian dari diriku ingin ia tahu akan keberadaanku di sini. Tapi sebagian yang lain mengingkanku untuk segera pergi dari sini agar ia tidak mengetahui bahwa aku sudah sangat dekat dengannya tanpa perlu berlari menjauh. Mungkin hatiku memilih untuk menggunakan opsi pertama. Tapi, tidak. Aku harus menggunakan akal rasionalku sekarang. Aku harus mengingatkan pada diriku sendiri tentang apa yang sebenarnya ia lakukan.

Jadi, aku memaksakan diri menggunakan opsi kedua. Memilih untuk segera pergi dari sini. Cara inilah yang akan membuatku lebih cepat melupakannya. Karena aku tidak akan pernah sanggup melepaskannya jika terus menerus mengikuti kata hatiku yang selalu ingin dekat bersamanya meski aku sudah tahu kebenaran yang ada.

Buku-buku masih tertumpuk pada tempatnya ketika aku memasuki kamar. Aku segera mengambilnya dan memasukannya pada tas yang cukup besar yang kusimpan dalam lemari. Aku memasukan semua buku materiku, beberapa pakaian yang kuperlukan, serta laptop yang masih rusak. Mungkin aku akan memperbaikinya besok.

Lalu, untuk baju, aku mengemasnya karena aku masih ingin tinggal bersama Liz sebelum mencari apartemen baru. Aku tidak mau repot kembali ke sini hanya untuk mengambil baju. Karena, siapa yang tahu kalau ia ada di sini lagi ketika aku kembali?

Setelah memastikan sudah tidak ada lagi barang yang ingin kubawa, aku segera keluar dari kamar. Ponselku yang hilang pasti masih ada di sini, mungkin terselip, tapi aku sedang tidak mau mencarinya. Lebih baik aku membelinya lagi nanti daripada harus mencari di sini yang membutuhkan waktu lama.

Ketika melewati ruang tengah, aku masih mendapati Zayn yang tertidur. Aku memendanginya beberapa saat sebelum menghela nafas panjang lalu memaksakan kakiku untuk kembali berjalan. Kututup pintu apartemen sepelan mungkin, lalu segera turun ke lantai dasar.

Dalam perjalan menuju kampus, pikiranku masih dipenuhi oleh pertanyaan tentangnya. Seperti, mengapa ia ada di apartemenku, mengapa ia terlihat sangat frustasi sampai memilih untuk meminum alkohol lagi, hingga pertanyaan yang terakhir. Mengapa ia memanggil namaku ketika sedang tidur? Apa yang ia mimpikan?

Aku menggeleng ketika berpikir kalau Zayn memang benar-benar tulus padaku. Ia pasti sudah sangat mabuk sehingga salah masuk apartemen. Ia pasti frustasi karena semua recananya gagal sebelum ia bisa mencapai itu. Ia pasti mengumamkan namaku dalam tidurnya karena ingin aku kembali, lalu dengan mudahnya ia akan meneruskan rencananya untuk memanfaatkanku tentang warisan yang diberikan kedua orang tuaku.

Pasti begitu.

Aku menghela nafas panjang. Mengapa semuanya terasa salah? Mengapa aku merasa tidak bisa percaya pada siapapun termasuk diriku sendiri?

Protect You || Malik [au]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang