Chapter 51

8.6K 860 108
                                        

Long chapter guys. sorry for typo(s)

Happy reading!

_____________________________

Ini memang efek terlalu senang atau aku saja yang terlalu ceroboh. Pertama, ketika aku memasuki apartement, aku langsung di sambut sebuah meja tak kasat mata yang langsung membuatku tersandung. Kedua, ketika aku mau keluar dari kamar mandi, aku lupa kalau ada pintu di tempat keluarnya sehingga membuatku secara sangat tidak sengaja menabrak pintu itu.

Ketiga, aku tidak bisa tidur malam itu. Merasa kalau kejadian beberapa jam lalu hanya sebuah mimpi yang sangat nyata. Bibirku tanpa terasa selalu menyunggingkan senyum saat mengingat saat-saat itu. Ketika Zayn memanggilku sebagai kekasihnya.

Menghela nafas, aku pun menyandarkan punggungku ke sandaran ranjang. Sialan, kejadian itu baru saja terjadi tadi malam dan hampir membuatku insomnia karena tidak bisa tidur. Dan sekarang, yang ke-empat, tanpa terasa aku sudah duduk lebih dari satu jam setelah aku terbangun dari tidur hanya untuk meyakinkan diriku sendiri kalau aku tidak sedang berkhayal.

Ingatan itu kembali, saat Zayn menggenggam tanganku ketika kami berjalan menuju apartemen masing-masing yang bersebelahan. Aku sempat menanyakan beberapa hal padanya.

“Kau tidak bercanda? Maksudku –aku sama sekali tidak mengira kalau-“

“Apakah aku terlihat bercanda? Dan tentu saja kau tidak akan mengira. Sudah kubilangkan kalau aku bisa melakukan segala hal tanpa kauketahui?” ucapnya seraya mengangkat telunjuknya yang tadi sempat menempel dibibirku untuk menghentikan ucapanku.

“Berarti benar, kalau aku akan membuka dirimu padaku? Seperti menceritakan masalahmu dan banyak hal mengenai dirimu sendiri?” tanyaku lagi.

Dia mengangguk, lalu menggenggam tanganku lagi. “Tentu saja. Apa saja yang kautanyakan akan kujawab,” aku sempat membuka mulutku untuk kembali berkata. Namun, dia sudah menyelanya. “Tapi, tidak sekarang. Ini sudah malam dan aku tidak mau kau sakit, Sayang.”

Detik berikutnya dia sedikit menunduk sebelum menciumku tepat di kening. Dia juga memasukan kata sandi pada pintu apartemenku sebelum membukakannya untukku.

Bayangkan, bagaimana aku bisa sadar kalau di depanku ada sebuah meja kalau Zayn baru saja melakukan hal yang menurutku begitu manis saat kami hendak berpisah? Itulah penyebab mengapa aku tersandung meja.

Dan saat ini aku hampir saja tidak kembali ke realita kalau Bels tidak berteriak-teriak memanggilku.

“Kak, kau sudah bangun atau belum? Bantu aku!” teriaknya.

Aku mengerjap dan berusaha menghilangkan senyum yang secara tidak sadar sudah kembali terukir di bibirku. Aku menurunkan selimut yang menutupi kakiku lalu turun dari ranjang dengan sedikit terhuyung.

Dengan cepat aku menghampiri Bels, takut kalau dia kenapa-napa mengingat suaranya yang terdengar mengkhawatirkan saat berteriak.

“Ada apa? Kau kau baik-baik saja?” tanyaku saat melihat Bels yang sangat kerepotan.

Ada banyak baju berantakan yang tergeletak begitu saja di atas kasurnya. Sebuah koper besar terbuka di tepi ranjang. Dan, Bels sendiri, dia sedang menyalakan pengering rambut dengan tangan yang sibuk mencatat sesuatu.

Aku mendekatinya, dan memandangnya dengan terheran-heran.

“Apa ini-“

“Aku lupa, Kak. Ada acara perkemahan yang diadakan sekolah selama tiga hari. Dan sialnya, aku lupa karena kemarin aku menginap di rumah Lily!” ucapnya sedikit frustasi.

Protect You || Malik [au]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang