Chapter 22

8.7K 860 25
                                        

“Bels, tolong ambilkan pisau di meja sana” ucapku dengan tangan yang sedang sibuk mencuci daging.

Well, bisa kalian tebak, aku sedang memasak sekarang. Memasak daging lebih tepatnya. Siang tadi, sehabis menemui Liz aku ternyata memutuskan untuk ke kampus saja. Kalian tau? Aku sepertinya sedang mendapatkan sebuah hidayah sampai-sampai bisa mendapatkan pikiran seperti itu.

Dan waktu pulang dari kampus, aku teringat akan persediaan bahan makananku dan Bels. Kami hanya mempunyai sayur, dan itu semua juga dari Liz. Dia memang sudah memberiku dan Bels banyak bahan makanan, tapi ya itu –sebatas sayur – asal kalian tau, aku merasa jika Liz adalah orang semi-vegetarian. Dia hampir tidak pernah makan daging, di bandingkan dengan ku dan Bels yang sangat menggilai daging.

So, bisa kalian tebak kalau sepulang kampus tadi aku mempir dulu ke sebuah minimarket dan membeli persediaan daging untuk makan malam.

“Ayolah kak, ceritakan” Bels merengek kepadaku saat memberikan pisau yang baru saja di ambilnya. Aku berdecak pelan, “Tidak Bels. Sudah berapa kali kau meminta dan sudah berapa kali aku menolak?”

Bels mencebikan bibirnya dengan tangan di lipat didepan dada. “Aku akan terus menerus bertanya jika kau tidak menjawabnya” jawabnya kesal.

Aku menghembuskan nafas panjang, Bels memang keras kepala. Dia agak mirip sepertiku, jadi kurasa itu bukanlah salahnya.

Sejak tadi –ralat, sejak aku pulang, Bels sudah memberondongku dengan pertanyaan anehnya. Dengan keinginanya untuk mendengar ceritaku yang tidak pulang semalaman. Dia terus menerus bertanya tentang aku dan juga Zayn, tentang apa yang kami berdua lakukan semalam.

Dasar bocah aneh, memangnya apa yang akan aku lakukan dengan lelaki brengsek seperti dia? Sebenarnya apa yang ada di dalam otaknya sekarang ini?

Lelah dengan segala rengekan Bels, aku pun meletakan pisau yang baru saja ingin ku pakai. Aku lalu memutar badanku menghadap ke arahnya. Ku putar bola mata jengah, “Kau ingin makan atau ingin mendengar cerita yang tidak perlu kau dengar?” ucapku sambil menatap Bels datar.

Selama beberapa detik, Bels terdiam. Dia lalu mengerjap dan langsung tersenyum lebar, “Mendengarkan ceritamu, tentu saja! Ayolah kak” jawabnya sumringah. Dia menyeret tanganku menuju kursi yang kemudian menyuruhku duduk.

“Mulai kak” ujarnya riang yang menurutku sangatlah menjengkelkan. Dia terlihat sangat kekanak-kanakan, padahal umurnya sudah 16 tahun.

“Kau kira aku mau menceritakan dongeng, hem?” ucapku malas. Bels berdecak tidak sabaran, “Ceritamu adalah dongeng untukku kak. Ayo cepat” jawabnya lagi.

Aku memicingkan mata padanya. Sungguh, sebenarnya hal apa yang ada dalam pikiran bocah ini sehingga membuatnya mati-matian memaksaku untuk bercerita?

“Seperti yang sudah ku katakana. Kemarin malam, aku mabuk. Dan saat aku pulang, apartemen ini sudah kau tutup. Kau juga tidak memberitahukan sandinya kepadaku. Karena tidak sadar, aku pun tidur di apartemen lelaki itu. Dan yeah, hanya itu. Paginya kau sudah tidak ada” ceritaku seadanya. Bels tampak tidak puas dengan apa yang kukatakan.

“Pasti ada yang lain” gumamnya tidak percaya.

Aku menghela nafas lelah. “Tidak, hanya itu” ucapku lagi.

“Tidak mungkin” Kali ini Bels malah menggelengkan kepalanya, membuatku heran.

“Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu? Bagaimana bisa kau berpikiran jika apa yang ku katakan tidak benar?” ucapku menyentak. Aku sudah di peringati Liz untuk menjauhi Zayn, dan sekarang adikku sendiri malah mengungkit-ungkit lelaki itu. Bagaimana mungkin aku bisa tahan dengan perilakunya yang menjengkelkan ini?

Protect You || Malik [au]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang