Chapter 74

5.9K 711 107
                                        

Sorry for typo(s)

____________________________________

C L A R I S S E

Aku menatap beberapa orang yang sedang terlihat bersama keluarganya. Seperti halnya Kayla, teman satu kelasku selama semester akhir ini. Ia sedang menunggu namanya dipanggil dengan beberapa orang yang ia sayangi berada di sampingnya. Ayah, ibu, adik, dan juga kekasihnya. Orang-orang lain juga datang ditemani dengan keluarga mereka. Kebanyakan memang hanya dengan salah satu orang tuanya atau bahkan hanya dengan kaksihnya. Tapi yang jelas, mereka terlihat ... bahagia.

Sedangkan aku?

Jeanny memang benar-benar mengesalkan. Aku tidak tahu lagi harus melakukan apa agar wanita itu mau datang ke acara wisuda ini. Bels sebenarnya sudah menawarkan diri, tapi aku menolaknya karena ia yang sedang menjalani ujian akhir semesternya sebelum liburan panjang. Tidak mungkin aku membiarkannya mengikuti susulan hanya karena dia yang ingin menemaniku di sini.

Aku juga sudah berbicara pada George—pamanku. Ia memang lebih baik dibandingka dengan istri dan juga ketiga anaknya. Tapi ketika aku memintanya kemari tadi malam, George belum bisa mengiyakan karena jam kerjanya yang belum menentu. Kemungkinan besar ia akan pulang terlambat malam ini karena lembur. Meskipun sudah berjanji untuk sebisa mungkin agar bisa datang, tetap saja aku merasa tidak yakin ia akan datang.  Acara wisudaku dimulai pukul sembilan pagi, tidak mungkin George bisa minta izin pulang seawal itu pada atasannya.

Seseorang menepuk pundakku, membuatku sedikit melonjak kaget.

"Clarisse?" ujar Marissa dengan nada bertanya.

Aku mengelus dadaku karena terlalu lega melihat gadis ini. "Kau kemari?" balasku mengabaikan nada aneh dalam suaranya tadi.

Ia bergumam gugup lalu menganggukan kepalanya. Marissa duduk di sampingku. Namun anehnya, perempuan ini sama sekali tidak mengucapkan satu patah kata pun. Ia masih diam dan hanya memperhatikan orang-orang yang berada di sekitar kami. Hal yang sangat tidak biasa untuk seorang Marissa yang kukenal.

"Jadi, kenapa kau ke sini? Kukira kemarin kau berkata mau urusan sehingga membiarkanku mengikuti wisuda sendirian," tanyaku karena tidak tahan melihatnya tetap diam.

"Aku ... aku hanya kebetulan melewati gedung ini dan langsung teringat padamu. Iya, itu saja," ujarnya terburu-buru.

Aku mengeryitkan alis, mengapa Marissa terlihat begitu ... berbeda? Dari penampilannya saat ini ia juga terlihat lebih kalem. Biasanya ia akan mengenakan jeans kemana pun ia pergi dan sama sekali tidak berniat memakai dress. Tapi, lihatlah apa yang sekarang ia kenakan.

"Kau disuruh oleh Nathan?" tanyaku lagi. Sebut saja, lelaki itu bersikap terlalu baik padaku sehingga sempat menawarkan diri untuk menemaniku di sini. Tapi tentu saja aku menolaknya. Kami hanya berteman. Itu pun tidak terlalu dekat karena aku masih belum bisa membuka pertemanan yang lebih jauh dengan seorang lelaki. Jadi, aku lebih senang meminta bantuan Marissa meskipun awalnya ia berkata tidak bisa datang.

"Tidak," aku semakin menatap Marissa dengan heran. Ia akhirnya menghela nafas panjang, seperti menyerah pada sesuatu yang ditutup-tutupinya sendiri. "Marline yang menyuruhku."

"Marline? Ia mengenalku?" ujarku bingung.

"Sebut saja begitu," Marissa tersenyum. Jenis senyum yang jarang sekali ia gunakan kecuali saat ia menceritakan kekasih yang ditinggalkannya karena perjodohan itu. "Ia baru kembali dari London sebulan lalu. Karena terkadang, jarang sekali ada orang yang bisa membedakan kami. Walaupun sebenarnya kepribadian kami sangat mudah untuk dibedakan."

Aku perlu beberapa menit hanya untuk memahami perkataannya. Jelas sekali Marissa yang sedang bersamaku terlihat berbeda.  Kata yang ia gunakan juga terdengar lebih dalam dari biasanya. Sedangkan Marissa yang biasa bersamaku...

Protect You || Malik [au]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang