"Athan, panggil Abi sama Jeje, Tan."
Begitu bunyi dari perintah Esa. Satya Mahesa Madyama, namanya. Seringkali disapa Esa, dan di panggil kakak oleh ketiga adiknya. Esa itu anak sulung, jadi yang paling bertanggung jawab atas adik-adiknya.
"Athan," panggil Esa lagi, kini berbalik menghadap Athan yang baru saja menghampiri meja makan, sudah menggeser kursi siap untuk duduk. "Panggilin dulu Jeje sama Abi."
"Oh iya!" seru Athan pelan seraya menepuk jidatnya pelan, merutuki dirinya yang tidak fokus.
Nah, yang kedua ini namanya Nathan Rahsya Ratadikara. Walau bukan anak sulung, tapi dia ini yang terlihat paling dewasa. Paling kalem juga paling pintar. Abang kesayangannya si bungsu.
"Abi buruan udah siang," ucap Athan saat menaiki tangga, berpapasan dengan Abi yang menuruni tangga. "Jeje?"
"Masih di kamar," jawab Abi seadanya sambil melangkah menuruni tangga, membiarkan Athan menjemput Jeje.
Abian Yusuf Yudayana nama lengkap dari anak ke tiga ini. Sama sodara-sodaranya biasa di panggil Abi, tapi sama temen deketnya biasa di panggil Ucup, dan sama Jeje sendiri di panggil kakang.
Abi ini yang paling sering ngusilin adik satu-satunya, apalagi kalo sudah kerja sama dengan Esa, kadang nyampe nangis Jeje diusilin mereka. Ujung-ujungnya diomelin Athan, minta maaf, lalu giliran Jeje yang balas dendam.
Porotin sampai miskin.
"Jeje?" tanya Esa begitu Abi sampai di ruang makan.
"Lagi dijemput bang Athan," jawab Abj seraya mendudukkan diri di atas kursi meja makan.
Tepat setelahnya, Esa terlihat baru saja menuruni tangga bersama dengan Jeje.
"Masih pagi kok udah lesu gitu sih?" tanya Athan sambil memperhatikan Jeje yang menunduk lesu.
Jeje sendiri terlihat tidak berniat menjawab tanya dari abangnya. Diam saja sambil terus melangkahkan kakinya.
"Jeje," panggil Athan. Kini suaranya terdengar lebih tegas. Menghentikan langkahnya sambil memegangi kedua bahu Jeje. "Abang liat-liat sekarang Jeje kok keliatan lesu terus ya? Kenapa?"
"Nggak papa. Capek aja banyak tugas," jawab Jeje.
Haura Jingga Jiana namanya. Anak bungsu yang juga menjadi satu-satunya perempuan di keluarga ini. Panggilannya Jeje, tapi kalo di sekolah biasa di panggil Jia. Kalo kakang beda sendiri, kadang ngusilin Jeje dengan manggil dia si Oren.
Tiga tahun terakhir ini Jeje terlihat lebih berbeda. Tidak seceria dulu lagi dan lebih tertutup, para abangnya juga baru menyadari akhir-akhir ini. Mereka pun belum mengetahui apa penyebabnya.
Sempat berpikir, Jeje lesu begini karena ditinggal lama oleh mama. Tetapi Jeje biasa saja jika sudah membahas tentang mama.
"Jeje kalo ada apa-apa harus cerita sama abang ya?"
Jeje mengangguk saja menanggapinya. Segera melangkah mendahului Athan.
"Jeje nanti mulai pengayaan ya?" tanya Esa setelah menyajikan sarapan dan duduk bersama di meja makan.
Jeje lagi-lagi hanya mengangguk menanggapinya.
"Pulang kira-kira jam berapa Je?"
"Jam empat kak."
"Sama kakang bareng pulangnya ya."
Kakang mendelik tidak terima mendengar hal itu, tetapi sedetik kemudian berubah menjadi sebuah senyuman manis. "Kak, kalo gitu beliin kakang motor baru ya?? Kan kakang sering antar jemput Jeje, jadi harus ganti motor dong jadi yang lebih bagus. Abang aja bagus motornya, masa kakang nggak?" bujuk kakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Princess
De Todo"Our princess," begitu katanya abang. Tapi Jeje nggak pernah ngerasa diperlakukan seperti princess oleh ketiga kakak laki-lakinya. ⚠️⚠️⚠️ tw // abusive tw // mention of bullying tw // harsh word Copyright © 2021, faystark_
