Hujan di pagi hari memang kerap kali membuat sebagian besar orang malas untuk beraktifitas. Termasuk Jeje dan kakang yang pagi itu harus berangkat untuk sekolah.
"Kakang!! Buruan ih, udah siang!" panggil Jeje dari teras rumah, menunggu kakang yang masih belum juga ke luar dari dalam rumah.
Padahal Esa sudah siap mengantar dengan mobilnya di depan rumah.
"Santai dong ih!" sungut kakang. Sambil menyimpan selembar roti untuk dijepit mulutnya, ia memasukan kakinya ke dalam sepatu.
Lalu setelah masuk dengan sempurna, ia mengambil rotinya dengan tangan, dan segera menyusul Jeje memasuki mobil Esa yang sudah siap melaju.
"Liat ih! Lima menit lagi gerbangnya ditutup!" omel Jeje.
"Santai aja, kalo ujan gini gerbangnya dibiarin buka dulu biasanya dikasih waktu tambahan lima belas menit," sahut Abian ditengah kunyahannya.
"Tetep aja nggak tenang tau! Ih!"
"Dih? Dasar murid baru!"
"Mentang-mentang udah kelas duabelas, jadi seenaknya mau ke sekolah!"
"Nggak, kakang biasa tepat waktu kok!"
"Halah! Kalo bukan ketua OSIS mah, ga bakal tepat waktu!"
"Ketua satu, si Milan ketua umum nya!"
"Sama aja!"
"Beda anjir!
"Astagfirullahaladzim... bisa diem nggak? Berantem mulu, pusing nih!" omel Esa, segera melerai adu bacot kedua adiknya itu.
Abian dan Jeje segera merapatkan bibirnya mendengar itu.
Tapi yang namanya Jeje ini paling tidak bisa diam terlalu lama, tidak bisa menahan dirinya untuk memancing emosi Abian. Dan yang laki-laki pun sama, tidak bisa untuk tidak terpancing atas pancingan Jeje.
"Merah lu?" celetuk Jeje pagi itu, Esa hanya menghela napas pasrah saja jika terjadi lagi keributan.
"Elu kali yang merah?" sahut Abi.
"Lah? Elu lah! Tuh, mukanya merah-merah."
"Lo juga lagi merah, pantes ngomel-ngomel mulu."
"Yang penting ga keliatan."
"Je atuh ih! Kakang teh sebenarnya masih malu, tapi maksain sekolah takut ketinggalan materi," ujar Abian dengan nada sedihnya seolah-olah menjadi manusia paling menyedihkan sedunia.
"Kok nyalahin Jeje sih!"
"Jeje ngeledekin mulu kakang merah-merah!"
"Kakang juga sama aja! Ngeledekin Jeje lagi mens!"
"Ya kan beda!"
"Sama aja!"
"Heuras hulu pisan ih!"
"Gapapa, daripada elu? Merah."
"Tuhkan! Ngeledekin mulu ruamnya kakang, nanti kalo bocor mam-"
"Kok ngedo'ain yang jel-"
"ASTAGFIRULLAHALADZIM... BISA DIEM NGGAK?!"
♔♔♔
"Minta tisu dong!"
Nayla menoleh, kemudian memberikan selembar tisu kepada Abian di sisinya yang sudah berkeringat setelah selesai berolahraga. Pemuda itu sengaja udahan duluan, sementara yang lainnya masih bermain basket di lapangan siang itu, saat hujan sudah reda dan cahaya matahari mulai terlihat bersinar kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Princess
Random"Our princess," begitu katanya abang. Tapi Jeje nggak pernah ngerasa diperlakukan seperti princess oleh ketiga kakak laki-lakinya. ⚠️⚠️⚠️ tw // abusive tw // mention of bullying tw // harsh word Copyright © 2021, faystark_
