72. Sonia Deserve a Very Good Man

132 23 3
                                        

"Minggu free nggak, Rin?"

Sherin yang malam itu masih mengenakan seragam sekolahnya sambil menjilat es krim ditangannya, menjawab seadanya. "Ke gereja."

"Oh iya ya, sorry-sorry lupa," sahut Abian sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Bisa main nggak? Pulang dari gereja biasanya jam berapa? Nanti aku jemput."

"Nggak bisa." Sherin menggelengkan kepalanya. Ia berhenti melangkah, membuat Abian turut menghentikan langkahnya.

Pukul delapan malam itu, Sherin menurunkan tangannya yang memegang es krim ke sisi tubuhnya. Menatap lekat pada kedua mata Abian, sebuah tatapan yang perlahan membuat kedua matanya menghangat.

"Kenapa?" tanya Abian. "Aduh, es krimnya cair ayang...."

Abian berjongkok, segera membersihkan es krim yang meleleh dan terkena bagian pinggiran sepatu Sherin. Sebuah perlakuan yang membuat Sherin semakin tak kuasa menahan tangisannya.

"Loh? Loh?" Abian kembali berdiri dengan kini kedua tangannya memegangi es krim. "Kenapa nangis? Capek ya? Pulang sekolah langsung les?"

Pemuda itu melangkah, sudah hendak memeluk Sherin ketika kedua tangan Sherin mendorong tubuhnya pelan, menolak pelukan dari Abian.


"Sherin mau putus Kak Abi...."


Abian tertegun mendengar pernyataan yang sudah kedua kalinya Sherin ungkapkan. "Sini, duduk dulu ya? Kita bicarain baik-baik," ucapnya sudah hendak menuntun Sherin untuk duduk di salah satu bangku taman malam itu.

Tetapi Sherin menggeleng, lagi-lagi menolak ajakan Abian.

"Kalo gitu, coba bilangin alesannya. Biar aku ngerti," ucap Abi, berusaha terdengar tenang walau dalam hati sudah ketar-ketir takut kali ini putus beneran.

"Udah jelas Kak Abi. Aku Kristen, dan Kak Abi Islam, udah pasti ujungnya bakal kayak gini, jadi buat apa ditunda-tunda lagi?" jelas Sherin.

"Tapi Kak Abi masih sayang sama Sherin."

"Sama. Makanya Sherin mau berhenti nyampe sini aja, Sherin takut rasa sayangnya Sherin ke Kak Abi makin lama makin dalem. Sherin takut nanti makin susah ngelepasinnya."

Abian menunduk, menghela napasnya cukup berat. Kedua es krim di tangannya sudah meleleh bercucuran.

"Sherin nggak bakal jadi mualaf Kak Abi. Sherin juga nggak mau ngambil Kak Abi dari tuhannya Kak Abi," kata Sherin dengan suara bergetarnya.

Abian mengangguk, mengerti. "Ada lagi? Barangkali Kak Abi ada salah yang nggak Kak Abi sadari?" tanya pemuda itu.

Sherin menggeleng ragu.

"Nggak papa, bilang aja Sherin."



"Kak Abi... suka sama Kak Sonia kan?"

Abian mengernyit mendengar pertanyaan itu, lantas ia menggeleng menanggapinya. "Kenapa jadi Sonia?"

"Soalnya kalian deket banget." Sherin kini melengoskan kepalanya, mengusap air matanya dan kembali menatap Abian yang kini menatapnya dengan tatapan dinginnya. "Nggak usah denial, keliatan kok."

Abian berdecih pelan. "Jadi selama ini kamu ngira aku suka Sonia?"

Sherin terdiam, tak berani menyahuti Abian yang kini berbicara dengan nada seriusnya yang mencekam.

"Kamu nggak percaya aku dong?"

"Bukan gitu." Sherin menurunkan pandangannya, menggigit bibir bawahnya takut. "Sobi shipper, Sherin nggak bisa pacaran sama Kak Abi sementara orang lain masih ngeship Kak Abi sama Kak Sonia. Sherin ngerasa ngga dihargai sebagai pacarnya Kak Abi."

Our PrincessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang