16. Kurus Kerempeng dan Gepeng

184 41 6
                                        

Usai sholat Magrib, Abi segera melangkah menuju ruang keluarga yang di sana sudah ada Esa, Athan, juga Jeje yang sejak tadi menunggu.

Duh Abi jadi ngerasa nggak enak liat wajah merasa bersalah milik Esa dan Jeje.

"Maafin Kak Esa ya... Bi," ucap Esa begitu Abi mendudukkan raganya pada sofa.

Buset, tiba-tiba banget.

"Makanya jangan emosian mulu jadi orang, cepet tua mampus!" sahut Abi setengah menyumpahi, masih terasa sedikit emosi rupanya. "Jeje juga, lain kali tuh cerita kalo ada sesuatu, jangan diem aja ujung-ujungnya jadi bikin salah paham gini."

"Ngerasa paling bener lu ngomong gitu?"

Ketiganya terkejut mendengar sahutan dari Jeje yang terdengar begitu menusuk.

Lah? Kok jadi Jeje yang ngamuk.

"Nyuruh Jeje cerita tapi sendirinya pada sibuk masing-masing." Jeje meneguk ludahnya, merasakan sesak juga gejolak amarah pada dadanya. "Kak Esa sibuk terus sama kerjaannya, berangkat pagi pulang malem. Bang Nathan juga tiap Jeje mau cerita pasti sibuk rapat terus sama urusan kampus. Kakang juga! Sibuk tidur mulu lo!"

Kakang meringis pelan, paling ga berbobot banget alasannya.

"Kemarin juga pada ke mana, hah? Pada nggak bisa jemput Jeje kan?" Jeje kini mengusap kasar sebelah matanya yang mulai mengeluarkan air mata. "Udahlah kalo kayak gini mah, hidup masing-masing aja! Buat apa sih, rumah? Buat apa rumah kalo emang nggak bisa jadi tempat untuk pulang?"

Ketiga laki-laki itu tertegun. Sadar kini rumahnya sudah benar-benar rumpang. Sadar bahwa kini rumahnya sudah tak sehangat dulu lagi.

Buat apa rumah kalo emang nggak bisa jadi tempat untuk pulang? Benar, untuk apa rumah jika tidak bisa jadi tempat pulang untuk berkeluh kesah?

Bukan hanya Jeje, Abi, Nathan, bahkan Esa sendiri kini merasa sudah hilang arah. Sudah merasa ragu akan rumahnya sendiri.

Kemana rumah itu pergi? Ada, tapi tak seperti dahulu lagi. Kini semuanya terasa begitu hampa.


Esa meneguk ludahnya, mendongak berusaha menahan tangisnya. Ia menatap satu-persatu para adiknya. Ia merasa gagal.

"Maafin Esa," ucap laki-laki itu. "Maaf gagal bikin rumah yang nyaman. Maaf gagal memperbaiki rumpangnya rumah ini. Maaf malah membuat rumah ini semakin rusak."

Jeje menggigit bibir bawahnya mendengar itu, merasa bersalah sudah berkata sedemikian kasarnya.

Merasa kasian, pada Esa yang harus memperbaiki rumah yang telah dirumpangkan oleh orang tuanya.

"Kalo boleh Esa meminta izin." Esa meneguk ludahnya. "Izinkan Esa untuk memperbaiki rumpangnya rumah ini. Sekali lagi, beri Esa kesempatan buat memperbaiki rumah ini."

"Kita," sela Nathan. "Kayaknya nggak adil kalo Kak Esa doang yang memperbaiki. Nathan juga mau bantu."

"Abi juga."

Ketiganya kini secara spontan menoleh pada Jeje yang menunduk. Menunggu gadis itu hendak turut memperbaiki juga atau tidak.

"Jeje juga," ucap Jeje pelan, kini samar terdengar isak tangisnya. "Pasti berat ya, kak? Nanggung semuanya sendirian, maafin Jeje cuma jadi beban doang."

"Aduh, jadi mau nangis juga nih," ucap Esa kembali mendongak seraya mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan matanya. Capek juga ya, ternyata.

Our PrincessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang