06. Yasa dan Indomie Aceh

212 48 6
                                        

Jeje menggigit bibir bawahnya dengan pikiran yang berkecamuk. Matanya menerawang menatap langit-langit ruang keluarganya.

Di sisinya ada Abian yang kini sama-sama rebahan di karpet seraya menonton tayangan kartu pada layar televisi. Esa pergi menemui Anya, dan Nathan ada di kamarnya sedang tidur siang.

Menghela napas berat, akhirnya Jeje memilih untuk bercerita.

"Kang," panggil gadis itu yang tidak mendapat respon apapun dari Abian. Perempuan itu menggigit bibir bawahnya semakin ragu.

Tetapi harus bagaimana? Jeje juga tidak kuasa jika harus memendam hal ini sendirian. Kakang juga satu-satunya orang yang mungkin dapat Jeje percaya.

Kakang yang kemarin mengkhawatirkannya karena membeli cutter baru. Kakang yang sadar bahwa Jeje tidak baik-baik saja.

Jeje memejamkan matanya, dengan dada yang perlahan terasa sesak dan mata yang mulai menghangat. "Kang, emang salah ya? Kalo Jeje jelek?"

Jeje menutup kedua matanya dengan telapak tangan saat dirasa mulai membasah. "Katanya percuma kaya, percuma pinter kalo jelek. Emang orang jelek serendah itu ya kang? Nyampe mereka bisa ngelakuin sesuatu seenaknya aja?" ungkapnya lagi kini dengan air mata yang perlahan mengalir dari sudut-sudut matanya.

"Jeje gamau diperlakukan seenaknya sama mereka, tapi Jeje jelek. Jeje harus gimana kang?"

Jeje kini diam, menunggu respon kakang di sisinya. Tetapi lama kelamaan ia sadar, bahwa kakang tak kunjung jua merespon.

Perlahan, perempuan itu membuka matanya. Menoleh ke arah sisinya.

Kampret!

Ada kakang di sana, sedang tertidur pulas dengan mulut yang terbuka dan sisa-sisa remahan cemilan terdapat pada sekitar bibirnya. Kaosnya sedikit tersingkap menunjukkan perutnya yang tidak buncit, tidak berotot apalagi.

Jeje memberenggut kesal melihatnya. Sia-sia ia bercerita. "Gue do'ain lo keselek ludah sendiri!" umpatnya yang setelahnya, kakang terbatuk-batuk kecil.

Do'a Jeje langsung dikabulkan Tuhan.

Abian tersedak ludah sendiri, terbangun dengan mata yang memerah khas orang bangun tidur. Pria itu kemudian beranjak duduk, meraih gelas yang masih terisi air mineral, dan dengan segera meminumnya.

Pria itu menggaruk pipinya, menoleh dan sadar sedang diperhatikan Jeje.

"Apa?" tanya pemuda itu yang sedetik kemudian, ia tersadar. "Eh? Jeje abis nangis ya?"

Jeje tidak langsung menjawab, diam sejenak kemudian menoleh ke arah televisi. "Kartunnya sedih," ucapnya, akhirnya memilih kembali berbohong dan menutup diri.

Gadis itu kemudian berdiri, beranjak pergi dari sana. Meninggalkan Abian yang mengernyit bingung. Loh? Tom and Jerry bisa bikin nangis ya?

Tetapi pikiran pria itu segera teralihkan saat seseorang tiba-tiba memasuki rumah seraya bernyanyi-nyanyi amat bersisik.

"A-A-A-A, AISYAH
BOJOKU JATUH Cinta
PA-PA-PA, PADA JAMILAh"

"BERISIK ANJING!" umpat Abi melirik sinis pada Yasa yang baru saja memunculkan diri di hadapannya. Pria itu kemudian menghela napas seraya mengusap dada berusaha sabar. "Astaghfirullah...."

"Insyaflah wahai manusiaaa, jika dirimu bernoda..." ucap Yasa lagi-lagi melantunkan nyanyian dihadapan Abian lengkap dengan ekspresi wajah yang menyebalkan.

"Ngapain sih?" tanya Abian, benar-benar tak habis pikir dengan tingkah Yasa yang nyebelinnya ampun-ampunan.

"Masak mie Indomie Aceh dong brother!" jawab Yasa seraya menunjukkan sebungkus mie di tangannya pada Abian.

Our PrincessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang