48. Bubur dan Sebuah Obrolan Ringan

114 31 8
                                        

Semenjak kejadian malam itu, kehidupan Nathan berubah 180 derajat.  Nathan yang awalnya seringkali tak terlalu mementingkan eksistensi Jesya, kini justru menjadikan Jesya prioritasnya.

Hari minggu pagi, Nathan baru pulang untuk mandi dan mengganti pakaian. Pagi ini, Jean dikebumikan.

Nathan ada di depan bersama bu Dian untuk menemani Jesya dan ibunya. Di bagian lain ada Abian, Jusuf, dan Sonia. Jeje juga turut datang bersama Esa. Teman-teman sekelas, rekan kerja bu Dian, guru-guru di sekolah SD Jean, wali kelas Jesya, turut hadir mengantar Jean ke tempat peristirahatan terakhir.

Sonia turut menangis, Oki bahkan Yuta turut menitikan air mata.

Rasanya baru kemarin Oki mengajak bermain Jean, rasanya baru kemarin Sonia bisa suka anak-anak karena Jean, sekarang ia sudah dikebumikan saja. Banyak yang mengantar Jean pagi itu.


Tapi bapak tidak ada.


"Jes...." panggil Sonia pelan seraya memeluk Jesya. Di sisi lainnya ada Abi dan Jusuf, juga teman-teman sekelasnya.

Jesya hanya menghela napasnya berat, menangis pun ia sudah lelah. Nathan bahkan sampai khawatir jika Jesya justru malah memendam sedihnya.

Karena sampai malam hari saat Nathan hendak pulang pun, Jesya masih diam tak mengeluarkan tangisannya.

Nathan memijat pelipisnya, merasakan pening yang sedikit menyiksanya. Pemuda itu merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidurnya. Masih terpikirkan Jesya.

Bagaimana wajah Jesya yang terlihat amat pilu, matanya yang sembab, benar-benar seperti sudah hilang harapan.

Nathan meneguk ludahnya getir. Tangannya kini bergerak meraih ponselnya yang tergeletak di sisi lain kasur. Menghubungi seseorang untuk mendengarkannya bercerita. Di panggilan ke dua telepon itu baru di angkat.

Nathan menghela napasnya, lalu berucap dengan suara bergetarya.





"Ma...."

♔♔♔

"Jesya suka apa ya, kang?"

Abian yang pada Senin pagi itu sedang sarapan bersama Jeje, menoleh. Melihat Nathan yang terlihat sudah segar dan rapi dengan pakaiannya.

"Suka elo," jawabnya asal.

"Kang."

"Konteksnya apa dong? Makanan atau apa?" tanya kakang kemudian tersenyum manis pada Jeje yang menyodorkan segelas susu. "Makasiih."

Jeje hanya meliriknya aneh, begitupula dengan Nathan. Tumben manis gini, biasanya kayak reog.

"Iya makanan, atau apalah yang bikin dia seneng?" jawab Nathan akhirnya segera membahas pada topik awal.

"Kasih bubur Mang Atang yang di perempatan aja, Jesya sama Sonia suka banget waktu itu gue liat-liat," saran Abian.

"Kenapa jadi Kak Sonia deh?" celetuk Jeje. Tapi Abian tidak menyahuti apa-apa, nggak penting.

"Oke," ucap Nathan sudah melangkah hendak pergi dari sana, tetapi beberapa saat kemudian segera berbalik. "Toppingnya apa aja?"

"Apa aja asal jangan pake kacang," jawab kakang.

Nathan mengangguk, sudah hendak melangkah dari sana ketika suara Jeje segera menahan pergerakannya.

"Bang Athan, Jeje mau nitip ini buat Kak Jesya, boleh?" pintanya sembari menyodorkan beberapa lembar tattoo stiker di tangannya. "Jeje nggak yakin, Kak Jesya bakal baik-baik aja."

Our PrincessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang