"Abang, mau kopi?"
Nathan yang pagi itu baru saja keluar dari kamarnya langsung tersentak, sedikit terkejut dengan Jeje yang sejak tadi menunggu di depan kamarnya.
"Tumben, Je?" tanyanya, kemudian melangkah berbarengan menuju halaman rumah untuk berjemur matahari pagi.
Mang Asep setiap hari sabtu dan minggu pulang ke rumahnya, bagian libur, makanya sabtu pagi itu Nathan yang membuka kunci gerbang dan berlanjut lari di luar sekalian menyapa tetangga.
Jeje yang berhenti sampai gerbang depan mengerucutkan bibirnya sebal. Ia kemudia memilih untuk melangkah kembali ke dalam rumah. Duduk di sofa ruang keluarga yang di sana ada Esa masih dengan muka bantalnya.
"Kak Esa, Jeje mau malam mingguan ya?" ucap Jeje meminta izin pada pria di sisinya.
"Sama siapa?" tanya Esa tanpa menoleh.
"Sama Joko," jawab Jeje seadanya.
"Kenapa ga sama Juan?"
"Kenapa jadi Juan?" celetuk kakang dari arah dapur, pemuda itu melangkah mendekat dengan semangkuk sereal di tangannya. "Udah bener sama Joko."
"Apa yang sama Joko?" sahut Nathan tiba-tiba muncul dari lawang.
"Si Jeje mau malam mingguan sama Joko," balas Esa.
"Kenapa nggak sama Jusuf?" tanya Nathan.
Kini Jeje jadi mengernyit bingung. Loh? Beda kubu semua?
"Apaansih! Ga usah bawa-bawa Jusuf, ga ada hubungannya!" sungut kakang yang langsung mendapat delikan tak terima dari Jeje.
"Jangan gitu ih! Nanti jadi do'a!" protesnya, kini ia melirik ke arah Esa. "Kak Esa, boleh ya?"
"Kalo sama Juan boleh," jawab Esa, sekarang malah fokus makan keripik pisang di meja.
"Kakang izinin Je, asal sama Joko," ucap kakamg seraya tersenyum mengizinkan.
"No! No! No!" celetuk Nathan. "Nathan ga izinin, kecuali sama Jusuf."
"Yang penting udah dapet izin dari kakang, jadi boleh!" pungkas Jeje kini melangkah menuju dapur untuk sarapan.
"Natahan juga mau malam mingguan," kata Nathan seraya sekilas melirik Abian dengan samar senyuman terlukis pada bibirnya.
Abian mengernyit bingung, terus memperhatikan Nathan yang melangkah menyusul Jeje. Ia tau, ada maksud tersembunyi dari senyuman juga lirikan Nathan, tapi apa ya?
Pemuda itu menghentikan kunyahannya berusaha berpikir, tetapi tetap buntu. Ia kemudian mengedikkan bahunya tak peduli dan memilih untuk duduk di sofa kosong samping Esa.
Mulanya ia fokus pada layar televisi, tetapi getaran ponsel di saku celananya bikin geli, akhirnya ia membuka ponselnya untuk melihat pesan yang terus bermunculan.
Barisan paling atas ke tiga ada pesan masuk dari Sherin. Di bawahnya ada dari groupnya bersama Sonia, Jusuf, Jesya, dan dirinya.
Jesya
| NIAA BANTU PILIHIN BAJU DONGGG
| MAKSUDNYA MINJEM BAJU
| GUE MAU MALMINGAN SAMA BANG NATHAN @Abian
Abian
| KENAPA NGETAG GUE ANJIR
Jusuf
| lo bisa pc sonia loh jes jangan bikin iri yang jomblo
Jesya
| emang sengaja mau pamer
Sonia
| bangsat
| gue lagi bikin vlog tapi sini aja gapapa
Jesya
| OTW
| btw lo ga malmingan ni?
| eh lupa ya jomblo
Sonia
| GUE LIPET JUGA YA INI ASPAL
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Princess
Aléatoire"Our princess," begitu katanya abang. Tapi Jeje nggak pernah ngerasa diperlakukan seperti princess oleh ketiga kakak laki-lakinya. ⚠️⚠️⚠️ tw // abusive tw // mention of bullying tw // harsh word Copyright © 2021, faystark_
