"Gamau tau ya anjir! Kita duduknya harus deketan, terus dibangku ujung paling belakang!"
Pemuda yang kini berjalan di sisi gadis yang mengomel itu berdecak sebal. "Gue bosen temenan mulu sama lo anjir!"
"Mau gue pukul lo?!"
Si pemuda langsung ciut mendengar ancaman itu, ia kemudian melangkah bersamaan memasuki ruangan kelas dengan papan gantung di atas pintu bertuliskan XI IPS 1, ia kemudian mengedarkan pandangan pada isi kelas yang sudah diisi oleh beberapa siswa. "Bangkunya udah diisiin orang Sin," ucapnya sebelum kemudian melangkah menuju bagian belakang pojok kelas.
Membuat sahabat perempuannya yang ditinggalkan segera berjalan menyusul dengan mata yang melotot protes.
"Hai, ini kosong ga sebelahnya?"
"Kosong, isi aja."
Jeje yang semula sibuk memperhatikan ruang jendela, kini mengalihkan pandangan mendengar percakapan itu.
"La...."
Si pemuda yang baru saja menduduki kursi kedua dari bangku paling belakang menoleh ke arah sahabatnya yang menatap protes ke arahnya, pemuda itu kemudian membalikkan badannya ke arah belakang.
Membuat Jeje yang semula memperhatikan tersentak kaget. "Temen gue yang ini pengen duduk di bangku belakang katanya, boleh nggak?" tanyanya.
Jeje yang mengerti segera berdiri dari duduknya seraya mengambil ranselnya yang ia simpan di atas meja. "Boleh-boleh."
"Eh, jangan gitu dong!" sahut Maula segera menahan pergerakan Jeje. "Cintya, elo sih ah!"
"Apaansih kok jadi nyalahin gue?!" sungut Cintya dengan wajah sangarnya. "Sebelah lo, kosong ga?" tanyanya kemudian menatap tak santai pada Jeje, membuat Jeje menciut begitu saja.
"Kosong," jawab Jeje pelan, kedua tangannya diam-diam sudah mulai berkeringat ketakutan.
"Gue boleh duduk di samping lo?" tanya Cintya lagi.
"Boleh," jawab Jeje seraya kini kembali duduk terbata-bata.
Maula yang sejak tadi memperhatikan jadi tidak enak, keliatan banget perempuan yang kini duduk bersama Sintia amat ketakutan. Berusaha mencairkan suasana, ia kemudian segera menyodorkan tangannya untuk berkenalan. "Kenalin gue Maula," ucapnya mengenalkan diri.
"Jeje," sahut Jeje segera membalas jabatan tangan Maula.
"Yang ini namanya Cintya disebutnya Sintia sih, jangan takut ya dia emang wajahnya barongsai banget tapi aslinya baik kok walau sering mukulin gue," ucap Maula mengenalkan Cintya yang lagi-lagi mendelik protes tak terima wajahnya disamakan dengan barongsai. "Kenalan dong anjir!"
"Cintya," ujar Cintya mengenalkan diri pada Jeje di sisinya.
"Jeje," balas Jeje.
Pemuda di sisi Maula yang semula menghadap depan, berdehem pelan. Kini membalikkan tubuhnya untuk menghadap belakang, bersua tatap dengan Jeje, kemudian menyodorkan tangannya seraya mengenalkan diri.
"Juan."
♔♔♔
"
OMAYGAT OMAYGAT GUYS!"
Jeje menoleh, menatap pada seorang laki-laki yang berlari heboh menghampiri bangku di sisi bangkunya. "Tau ga anjir pembimbing MPLS kelas kita Kak Abian!"
"SERIUS LO ANJIR??"
Jeje tersentak mendengar seruan Cintya yang amat tiba-tiba.
"Ih? Lo fansnya Kak Abi??" sahut si laki-laki antusias.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Princess
De Todo"Our princess," begitu katanya abang. Tapi Jeje nggak pernah ngerasa diperlakukan seperti princess oleh ketiga kakak laki-lakinya. ⚠️⚠️⚠️ tw // abusive tw // mention of bullying tw // harsh word Copyright © 2021, faystark_
