"Permisi! Sherinnya ada?"
Sherin yang semula sibuk bergosip dengan Jennie, menoleh ke arah lawang pintu kelas. Kemudian sebuah senyuman tertahan itu perlahan muncul pada kanvas wajahnya.
"Ke mana?" tanya Jennie.
"Ada janji ngantin bareng sama Kak Abi," jawab Sherin segera melangkah menghampiri Abian.
"Pegangan?" tawar Abian sembari menyodorkan telapak tangannya.
"Boleh?"
"Boleh dong!"
Sherin kembali tersenyum malu-malu dengan tangan juga yang menerima uluran tangan Abian.
Keduanya kemudian melangkah beriringan menuju kantin yang sudah mulai ramai.
"Kak Abi nggak papa?" tanya gadis itu ditengah-tengah langkahnya.
"Gapapa gimana?" jawab Abi malah balik bertanya.
"Itu... Kak Jesya, Sherin udah denger kabarnya, Kak Abi nggak papa?" jelas Sherin.
"Kok jadi nanyain Abi?"
"Soalnya Kak Abi sahabatan sama Kak Jesya, kan? Kak Abi juga pasti ikutan sedih?"
Abian mengangguk menanggapinya, langkahnya kemudian berhenti di sebuah bangku kosong di kantin itu. "Tunggu di sini ya? Sherin mau apa?"
"Samain aja kayak Kak Abi."
Abi mengangguk, segera memesan makanan. Meninggalkan Sherin sendirian di bangku itu.
"Itu pacar barunya Kak Abi, ya?"
"Siapa deh? Gue nggak kenal."
"Anak paskib itu."
"Oh temennya Ce Jennie ya? Pacarnya Kak Theo? Pantesan kenal sama Kak Abi."
Sherin mengusap tengkuknya merasa tak nyaman mendengar bisikan-bisikan itu. Kedua matanya bergerak mencari sosok Abian, tetapi yang di dapatinya justru adalah sosok Jeje yang juga sedang menatapnya tanpa ekspresi.
Gadis berpipi chubby itu baru saja hendak menyunggingkan senyuman ketika Jeje justru terlebih dahulu mengalihkan pandangannya pada teman-temannya.
Sherin menghela napasnya sambil menunduk, menatap pada layar hitam ponsel di atas mejanya. Kenapa Sherin jadi merasa tak pantas seperti ini ya? Padahal Sherin tak mendengar satu pun bisikan orang-orang itu yang menganggapnya tak pantas dengan Abian.
Tetapi tetap saja, kenapa rasanya Sherin tidak nyaman?
"Ini punya Sherin!"
Ucapan yang disertai dengan disodorkannya sepiring siomay itu segera menyadarkan lamunan Sherin. Gadis itu tersenyum, segera meraih sendok di atas piring.
"Makasih," ucap gadis pemilik indian dimple itu.
"Minumnya nanti dianterin."
"Oke!"
Sherin menunduk, melahap sesendok siomay itu. Satu sampai dua suap, semuanya berjalan normal, hingga sampai di suapan ketiga, Sherin baru menyadari sesuatu. "Kak Abi," panggil gadis itu.
"Iya? Kenapa Rin?"
"Sherin nggak suka telor di siomay," cicitnya diam-diam merasa bersalah.
"Oh maaf-maaf, Abian nggak tau," ucap Abi, tangannya bergerak menggeser piringnya ke dekat piring Sherin. "Barter aja, Sherin mau apa dari piring Abi? Nanti telornya pindahin ke piring Abi."
"Buat Kak Abi aja, nggak papa nggak barter juga," sahut Sherin segera memindahkan telornya ke piring Abian.
"Makasih!" Abian segera menarik kembali piringnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Princess
Random"Our princess," begitu katanya abang. Tapi Jeje nggak pernah ngerasa diperlakukan seperti princess oleh ketiga kakak laki-lakinya. ⚠️⚠️⚠️ tw // abusive tw // mention of bullying tw // harsh word Copyright © 2021, faystark_
