60 - Farewell

285 26 6
                                        

Melvin menjalankan tugasnya. Dua belas jam yang Alya minta telah dikembalikan.

Pulang dari Jepang, Alya kembali menjadi petugas kasir minimarket. Tidak ada pria yang merengek meminta ia segera resign, tidak ada pria yang setiap hari mengunjungi minimarketnya, dan tidak ada bodyguard suruhan pria itu.

Hidupnya harus terus berjalan, meskipun tanpa Gino.

Alya menatap televisi di sudut atas minimarket. Ada berita yang sedang hangat dibicarakan.

Baru terkuak! Pesan terakhir dari Bandar Narkoba belasan tahun silam melalui kertas lusuh yang ditemukan di bawah kasur salah satu narapidana. "Saya tidak kerja sendiri." dalam tulisannya Bandar Narkoba itu juga mengungkapkan di mana ia menyimpan bukti bahwa ia tidak bekerja sendiri dalam aksi penyeludupan narkotika. Berikut rekaman CCTV yang baru ditemukan.

Alya menahan napasnya. Itu rekaman CCTV yang sama seperti yang Melvin tunjukkan.

Tangan kanan Bandar Narkoba berinisial GN diduga teman dekatnya. GN merupakan CEO di salah satu perusahaan besar Jakarta. GN terbukti mengedarkan narkoba jenis Lysergic Acid Diethylamide atau dikenal dengan LSD. Selain mengedarkan, GN juga terbukti mengonsumsi narkoba jenis ini.

"Padahal hidupnya terlihat sempurna. Sayang sekali. Manusia tidak pernah puas dengan apa yang dia punya." Seorang wanita paruh baya bergumam di dekat Alya.

"Bukankah eksekusi mati adalah hukuman bagi pengedar narkoba?" Gadis berseragam sekolah bertanya.

"Jika narkoba yang diedarkannya sangat berat dan banyak, hukumannya adalah eksekusi mati. Sepertinya dia telah lama mengedarkan narkoba, temannya saja tertangkap belasan tahun yang lalu. Sebentar lagi dia mungkin akan menyusul temannya. Itulah makna teman." Kini pria berkepala plontos menyahut.

Alya hanya bisa mematung, menatap hampa siaran berita dan mendengar percakapan para konsumen minimarket. Antrean kasir sudah mulai memanjang, beberapa dari mereka sedang menyimak berita.

GN terbukti mengedarkan narkoba.

GN juga terbukti mengonsumsi narkoba jenis ini.

"Alya!"

Alya tersentak kaget, ia menoleh dan mendapati teman pengganti shiftnya. Waktu kerja Alya sudah berakhir.

CEO berinisial GN baru memberlangsungkan acara pertunangan beberapa hari lalu. Berikut cuplikan pertunangan mereka.

"Bagaimana reaksi wanita itu ketika tahu bahwa tunangannya pengedar?"

"Kasihan tunangannya."

Alya menunduk, menutupi wajahnya, dan langsung pergi.

"Wanita tadi mirip tunangan itu," gumam gadis berseragam sekolah ketika Alya keluar dari minimarket.

Alya mempercepat langkahnya. Namun, beberapa orang segera mengerubungi dirinya. Suara jepretan kamera terdengar, Alya disodori mik dan ponsel, dimintai keterangan mengenai kasus Gino.

"Apa hubungan kalian berakhir?"

"Kalian baru saja bertunangan. Apa pendapat Anda?"

"Apa benar tunangan Anda pengedar?"

Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang membuat Alya terserangan panik.

Alya teringat dirinya pernah dikerubungi warga. Dicaci maki. Dihina. Dijambak. Ditendang.

Alya menutup telinga dengan kedua telapak tangannya. Air matanya berjatuhan. Ia menggeleng tak tahu. Ia ingin pergi.

"Saya tidak tahu." Alya menggeleng. Ia bisa-bisa pinsan karena seragan paniknya.

HaplessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang