Mata abu sayu itu tak pernah lepas menatap sosok wanita dengan balutan jas formal berwarna hitam. Rambutnya yang panjang sepunggung diikat satu. Wanita itu mencalonkan diri sebagai sekretaris Melvin.
Melvin mengunci pintu ruang kerjanya, kakinya melangkah pelan mendekati bangku kerjanya. Satu jari Melvin menyusuri pinggiran meja, lalu ia duduk di tepiannya.
Wanita di hadapan Melvin memperhatikan papan nama akrilik yang berkilau di meja bosnya. Melvin Lazuard Nathaniel. CEO.
"Mrs. Nathaniel?" panggil Melvin.
Wanita di hadapannya mendongak, tersenyum. "Nama itu belum bisa dipanggil sekarang."
Melvin menyunggingkan senyum tipis, lalu membaca CV wanita itu. "Zira Dimitri Alzura Nathaniel," panggilnya.
Wanita itu menggeleng. "Just Zira Dimitri Alzura."
"I'm your boss." Melvin menatapnya, memperingatkan.
"Calon bos." Zira meralat perkataan Melvin sambil tersenyum kecil.
Melvin melonggarkan dasinya, ia melepas jasnya. Tangan pria itu memegang CV, membacanya dengan tak fokus karena ia terlalu sering melirik wanita di hadapannya diam-diam.
"Anda bukan kuliafikasi untuk menjadi sekretaris saya."
"Oh, benarkah?" Wanita itu sedikit kaget, tapi ia bisa mengendalikan ekspresinya. "Anda bisa mewawancarai saya."
Melvin melirik CV Zira, lalu menggeleng kecil. Ingin sekali ia membungkam bibir wanita itu, lalu melumat bibir ranumnya yang sangat menggoda Melvin hari ini.
Zira tersenyum singkat, lalu berdiri. "Baik. Terima kasih sudah meluangkan waktunya. Semoga ada perusahaan lain yang bisa menerima CV saya."
Tatapan Melvin menajam. "Di perusahaan mana kamu mengirim CV, Ra?"
"Saya tidak punya kewajiban menjawab pertanyaan Anda. Sampai jumpa. Semoga hari Anda menyenangkan." Setelah itu Zira melangkah ke arah pintu.
Punggung Melvin lebih dahulu menghalangi pintu yang hendak Zira buka. Pria itu menarik ke bawah semua tirai dinding kaca agar pegawai yang bekerja di balik kubikel tidak melihat apa yang akan terjadi di dalam ruangan bosnya.
"Raaa." Melvin memelas. "Bisa berhenti seriusnya?"
"Kamu harus profesional, Mel." Zira setengah menahan tawa melihat Melvin sejak tadi yang terlihat tersiksa dengan kedatangannya hari ini.
"Sama kamu doang aku kayak gini." Melvin melepas lembut ikatan rambut Zira hingga rambut panjang wanita itu terurai. "Jangan pernah tunjukin leher kamu selain ke aku, oke?"
Melvin menyisiri rambut lembut Zira menggunakan jemarinya. "Tarik semua lamaran kerja kamu. HRD yang baca CV kamu pasti gak bakal ada yang nolak kamu."
"Tapi, aku ditolak sama kamu, Mel." Zira mengeluh.
"Kenapa kamu keras kepala pengin kerja, Ra? Apa semua aset yang aku punya kurang?"
Zira menggeleng. "Aku mau kumpul sama teman-teman kerja aku, Mel. Mereka yang biasa aku ajak belanja bareng, ngobrol bareng, liburan bareng."
Melvin menangkup pipi wanita itu. "Kamu di rumah aja, ya? Bukannya masih bisa kumpul-kumpulnya di luar jam kantor?"
"Nanti aku gak ngerti topik pembicaraan mereka, Mel. Masa mereka ngomongin perkerjaan kantor, sedangkan aku kerjaannya cuma di rumah, leha-leha sama ngurus anak." Zira mengerucutkan bibirnya.
"Ra." Suara Melvin berat, sarat keseriusan. "Aku gak suka kamu kerja di sini. Aku nanti bisa-bisa gak bisa fokus."
"Aku di sini kerja, Mel. Bukan ganggu kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hapless
Teen FictionKomitmen adalah landasan penting yang harus dimiliki pasangan dalam menjalin hubungan. Bagi Smara hidup orang dewasa itu rumit dan banyak drama. Komitmen bukan landasan orang tuanya untuk menjalin hubungan, tapi kesalahan yang menjadi landasan mere...
