19 - Keluarga Sempurna (Harapan)

421 33 9
                                        

Sejak dulu harta, tahta, ataupun warisan selalu membuat Zira goyah. Mungkin semua orang juga akan seperti itu? Dulu ia sempat memeras harta keluarga Melvin, yang hanya dipermasalahkan sebentar oleh pria itu sendiri.

Menurut Zira, Melvin terlihat tak peduli dengan kegelimangan harta warisan keluarganya hingga menunjuk Zira sebagai pengurus semuanya. Makanya Zira syok dan panik ketika Melvin beberapa hari yang lalu datang ke kantornya dan mempermasalahkan tahta kepemilikan perusahaan keluarga Melvin yang selama ini ia urus.

Apalagi Melvin sempat menyangkut pautkan ke ranah perceraian dan harta gono-gini.

Zira mencengkeram erat setir mobil. Merasa pikirannya kacau, ia memilih menepikan mobil di tepi jalan. Berkas-berkas tersimpan berantakan di jok sebelahnya. Zira meraih tumpukan berkas paling atas, berkas yang beberapa hari lalu ia sembunyikan dari Melvin. Berkas perceraian.

Baru saja tangan Zira bergerak untuk merobek semua isi berkas itu, tapi urung ketika ia melihat mobil yang baru parkir tak jauh dari mobilnya. Mobil Melvin.

Seorang gadis dengan rambut terikat schrunchie keluar dari mobil itu, disusul oleh Melvin dan wanita yng tampak seumuran Melvin, itu ... Alya?

"Taman?" gumam Zira ketika melihat tiga orang itu memasuki taman seberang jalan.

Diam-diam Zira bertanya, apa mungkin Melvin telah menikah dengan Alya tanpa sepengetahuannya? Mengapa mereka terlihat seperti sebuah keluarga?

Sakit hati? Tidak. Zira telah lama mati rasa, seolah sudah biasa, air matanya saja sukar dikeluarkan sekarang. Entah sampai kapan ia harus menunggu Melvin jujur dengan semuanya. Karena jika Melvin jujur, ia pun akan jujur juga.

Zira bisa saja sekarang keluar dari mobil, memergoki suaminya sedang bersama wanita lain dan anak di luar pernikahannya lantas marah-marah di tempat sampai menarik perhatian semua orang atau menangis tersedu-sedu meminta keadilan dan pengakuan bahwa ia telah disakiti oleh suaminya sendiri.

Sayangnya, bukan seperti itu cara main Zira.

Senyum tipis terlihat dari bibir Zira, ia kembali meletakan berkas perceraian dengan lembut di jok sebelahnya. Benda itu mungkin akan ia perlukan nanti.

Sebelum melajukan mobil, Zira membuka ponselnya. Memotret keluarga yang tampak harmonis itu dan membaca agenda yang akan datang.

Dua hari yang akan datang, ada acara besar. Ulang tahun perusahaan. Mungkin di hari itu akan Zira gunakan sebaik mungkin untuk mengakhiri semuanya.

"Saya menginginkan pertanggung jawaban yang baik-baik. Saya menginginkan Melvin menjadi suami saya, setelah Melvin telah siap menceraikan Anda. Dan saya rasa Anda tak mau diduakan oleh Melvin, kan?"

"Anda menang, Alya," kata Zira, sebelum mobil itu meninggalkan tempat.

* * *

Lebih baik terjadi sekarang daripada tidak pernah terjadi. Itu yang Smara syukuri sekarang.

Dulu kecil ia tak pernah bermain gelembung sabun dengan kedua orang tuanya, memberi makan kelinci dan rusa yang terpelihara di taman kota, atau sekadar memakan es krim dengan blepotan.

Namun sekarang, ia bisa merasakan itu semua. Malu? Tidak. Ini yang seharusnya Smara dapatkan sejak dulu; waktu dan kasih sayang kedua orang tuanya.

Mungkin anak-anak yang susah atau tidak mendapatkan waktu dan kasih sayang dari orang tuanya, akan menatap Smara dengan iri. Gadis itu hari ini bahagia dengan cara yang sederhana.

"Sebentar lagi," gumam Smara, ia menyaksikan Melvin dan Alya yang sedang berlomba menghasilkan gelembung berterbangan di udara. "Sebentar lagi kita jadi keluarga, benar-benar keluarga," lanjutnya dengan optimis.

HaplessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang