61 || Detik Terakhir

8K 330 14
                                        

Hai, bruv!

Jangan lupa vote komen nyaaa<3

Jangan lupa vote komen nyaaa<3

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"An, untuk kali ini aja. Gue mau lo ikuti perintah gue."

Aneska menatap mata Lion. Apa yang akan Lion katakan sudah bisa Aneska terka, pasti ia tidak boleh ikut masuk dan di suruh menunggu sendirian di luar sini.

"Lima belas menit aja. Gue mau lo tetap di sini. Kalau bisa lo sembunyi. Jangan ikutin kita masuk. Ini terlalu bahaya," ucap Lion dan seperti yang Aneska kira, ia pasti tidak boleh ikut.

"Tapi gue gak tenang kalau belum lihat Raden. Gue mau ikut mas-"

Lion menggeleng kuat. "Enggak. Lo diem di sini."

Aneska menghela napasnya. Tak ada pilihan lain selain mengangguk dan menuruti perintah Lion. Walau hatinya tentu tidak akan pernah tenang selama belum ia lihat Raden, atau bahkan anak-anak Bravos yang lain nya keluar dengan selamat.

Lion mengencangkan headband yang ia kenakan. Di samping nya, tatapan Arshaka menajam. Rafael dan Elgi juga sama. Bahkan Elgi sudah siap dengan balok kayu di tangannya.

"Cari masalah, siap buat kalah!"

Sekarang, sekitar dua puluh anggota Bravos melangkah maju. Masuk ke dalam sebuah bangunan tua yang diberi tahu Feri- salah satu anggota Razor yang mereka paksa untuk angkat suara itu kata bahwa Raden ada di sini.

"Tunggu!"

Baru beberapa langkah, mendadak suara itu terdengar dan menghentikan mereka. Semuanya berbalik dan mendapati Dikta- dengan tongkat baseball di tangan nya berdiri di sana.

"Mau berantem kok gak ajak gue? Kalah lo semua kalau gue gak ada," ucap Dikta lalu melangkah maju, mendekat pada mereka.

Lion terkekeh. Ia kira Dikta sudah tidak peduli pada Raden. Tapi ternyata tidak. "Dateng juga lo."

"Gue lagi gabut. Plus masih punya solidaritas," jawab Dikta enteng dengan senyum di wajahnya.

"Ya udah, tunggu apalagi?" Tanya Rafael yang kemudian menatap satu-persatu dan langsung mendapat seringaian.

- 🦋 -

BUGH

BUGH

Suara pukulan balok kayu yang terus dilayangkan ke tubuh Raden, terdengar seperti sebuah candaan yang pada akhirnya membuat semua anggota Razor tertawa dengan puas.

RadenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang