1. Minty Chocolate Boy

245 8 0
                                        

Angin panas berhembus di tengah cuaca terik siang itu, membuat Mia yang duduk sendirian di pojok kantin fakultas ekonomi Universitas Persada merasa tidak nyaman. Lebih tidak nyaman lagi ketika rungunya menangkap celoteh dan cekikikan tidak asing dari tempatnya berada sekarang.

Tiga orang gadis yang mengaku paling cantik dan fashionable di jurusan akuntansi berjalan angkuh mendekat. Mia hanya melirik sekilas dengan ekor matanya, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, berharap ketiga gadis itu tak menyadari keberadaannya. Kantin tengah ramai, Mia optimis dirinya yang tak pernah nampak mencolok tidak akan menarik perhatian. Mia tidak mau berurusan dengan kakak tingkat yang suka sekali sok akrab dan mengusilinya semenjak masa orientasi usai. Kalau saja dirinya tidak pingsan dan membuat heboh ketika dihukum lari bersama Tommy waktu itu, ia tidak akan pernah dikenal dan ditandai kakak tingkatnya. Ralat, kalau saja Mia tidak bermimpi buruk sampai telat bangun hari itu, Mia mungkin tidak akan terlambat datang ke kampus dan menerima hukuman lari keliling lapangan yang luasnya setengah lapangan bola. Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Tidak ada yang bisa Mia lakukan selain bersabar dan berdoa semoga ia bisa selamat menjalani perkuliahan selama kurang lebih tiga tahun disini.

"Tumben sendirian. Ivonne sama Tommy mana?"

Mia istighfar di dalam hati ketika salah satu kakak tingkat yang masuk dalam daftar orang harus dihindari menyapa dengan santainya. Mungkin sebenarnya tidak terlalu buruk kalau senior yang terkenal usil dan perayu wanita ini disini. Setidaknya tiga gadis yang masih cekikikan di seberang sana tidak akan berani membuat masalah selama ada si playboy kampus di dekat Mia.

"Ke perpus kak," sahutnya pelan seraya melirik sekilas orang yang menyapanya.

Tanpa sungkan, laki-laki yang tadi menyapanya mengambil duduk di hadapannya. Senyum menyeringai yang bikin merinding menyapanya. Mia balas tersenyum canggung. Kenapa ya cewek lain justru terpesona melihat senyum itu? Mia merasa biasa saja. Don Juan Universitas Persada ini memang tampan, berpostur tinggi dan atletis plus tajir melintir. Paket sempurna kalau para fansnya bilang tapi selalu ada nada peringatan di otak Mia tiap kali laki-laki itu mendekat. Dia berbahaya dan Mia tidak suka.

"Kan gw udah bilang, panggil nama aja, gak usah pake 'kak'. Masa orientasi udah kelar dan lo bukan anak SMA lagi." Sang Don Juan mengoceh.

Mia hanya membalasnya dengan senyum kikuk. Ya dia tahu tapi.. rasanya aneh saja, tidak sopan lebih tepatnya karena orang di hadapannya ini lebih tua darinya dua tahun. Mungkin Mia masih tergolong kolot karena teman-temannya yang lain tidak repot-repot memanggil 'kak' seperti dirinya.

"Kuliah apa?" tanya si Don Juan lagi.

"Matematika bisnis."

"Gak makan?"

"Masih kenyang... kak." Mia mengaduk jus stroberi miliknya.

Laki-laki di hadapannya mendengus. "Jangan sampai telat makan nanti bisa kena maag lho," sarannya sok tahu.

Mia hanya mengangguk sebagai jawaban. Ekor matanya melirik ketiga gadis cantik yang duduk tak jauh darinya. Salah satunya balas melirik dengan tatapan sinis. Mia menelan salivanya. Luna, si cewek sinis pasti tidak suka melihat interaksinya dengan Eric, si kakak tingkat tukang tebar pesona yang duduk satu meja dengannya siang ini. Mau bagaimana lagi, Mia mana berani mengusir Eric pergi. Mia juga tidak bisa kabur karena dirinya janjian dengan Tommy dan Ivonne di kantin. Mia cuma bisa fokus pada jus stroberinya sembari sesekali iseng mengecek ponselnya.

Hembusan angin panas kembali. Kali ini membawa aroma mint yang terkesan sejuk dan menyegarkan tetapi membuat Mia merinding seketika. Satu kakak tingkat lagi yang masuk daftar harus dihindari datang. Tanpa sadar Mia menegakkan tubuhnya, terlihat tegang dengan kedua jemari saling meremas di bawah meja. Kakak tingkat ini yang menempati daftar orang pertama harus dihindari.

Just Three Words  Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang