61. Reckless Part 2

132 2 0
                                        

Adrian meringis pelan kala melangkahkan kakinya kembali usai dari toilet. Jahitan di perutnya berdenyut-denyut pun dua rusuknya yang retak. Jalannya sedikit tertatih, ia menarik napas dalam setelah berhasil mendaratkan bokongnya di atas ranjang. Bukannya merasa lebih baik, ia justru merasakan nyeri yang lebih menusuk. Bernapas saat dua rusuk tengah cidera sungguh tidak nyaman.

Diliriknya Eric yang masih terlelap dalam tidurnya. Netra madunya lantas beralih pada jam dinding di atas televisi besar yang tak berfungsi. Baru pukul tiga pagi. Sejenak ia merasa iri. Eric tidur seperti bayi sementara dirinya tak bisa memejamkan mata barang sebentar. Otaknya terlalu riuh. Kilasan peristiwa kemarin terbayang silih berganti. Setelah itu benaknya pasti diliputi rasa cemas tak berkesudahan. Adrian yang biasanya selalu tenang dan terkendali telah berubah menjadi pencemas dan overthinking.

"Pikirin diri lo dulu Yan. Lo gak akan bisa ngelakuin apa-apa kalau lo kayak gini. Lo harus pulih dulu." Itu nasihat Eric padanya kemarin usai dirinya membuat keributan dan berakhir dengan luka yang terbuka lagi.

Boro-boro memperoleh izin untuk keluar dari rumah sakit lebih cepat, yang ada Daniel malah memarahinya. Bukan itu saja, Daniel juga mengadu pada Clara hingga Adrian kembali mendapatkan omelan sore harinya. Parahnya, Clara datang bersama tante Sukma yang sepertinya akan selalu jadi orang yang paling bahagia saat mengetahui Adrian terjerat masalah. Sindiran yang berbalut nasihat dari wanita itu terdengar pedas di telinga Adrian. Tak masalah kalau saja tante Sukma tak mengutarakan pendapatnya di depan sang ayah.

"Kalau aku punya anak bandel kayak gini, udah aku kirim ke luar negri. Bisa jadi dia kayak gini karena pergaulannya. Kamu tuh harus tegas sama anak kamu Sur. Udah dua puluh tahun tapi kok bikin masalah terus."

Sialnya, sang ayah tercinta sepertinya menganggap usulan konyol sang tante layak untuk dipertimbangkan. Ancaman mengirim Adrian kembali ke London kalau terus membangkang lantas dilontarkan.

Oh... itu yang paling Adrian inginkan sejak dulu, sejak sang ayah membawa paksa dirinya ke negara tropis yang terletak di asia tenggara ini. Dia ingin sekali kembali ke tempat kelahiran sang bunda namun... tidak. Adrian tak menginginkannya lagi. Adrian tak akan pergi kemanapun. Sekarang, dia punya alasan untuk tetap tinggal.

Meski menyebalkan, kedatangan tante Sukma ada baiknya juga. Dari mulut sang tante yang terkenal cerewet itu keluarlah fakta yang tak bisa dijawab dan dijelaskan Eric selama ini. Soal keadaan di luar sana setelah insiden yang hampir merenggut nyawanya juga soal nasib si pelaku, Katrin dan Jeff.

Sesuai dugaan, opa dan ayahnya menuntut sang pelaku agar mendapatkan ganjaran yang setimpal. Tak peduli meski salah satunya adalah putra dari teman sekaligus rekan bisnis. Jeff mungkin masih bisa selamat. Keluarga Halim pasti akan melakukan berbagai macam cara untuk membela putra kesayangan mereka. Sedangkan Katrin, gadis itu dipastikan akan tamat. Jabatan, kekayaan dan kekuasaan ayah Katrin yang merupakan seorang pejabat  nampak tak berguna di hadapan Asad Arthadinata. Bocoran dari tante Sukma, sang kakek sudah memulai permainannya. Ayah Katrin tengah kelimpungan dengan rumor soal harta kekayaannya yang mencurigakan. Pria itu mungkin akan diciduk sebentar lagi. Asad bukan cuma menghukum sang pelaku tapi juga seluruh keluarganya. Gaya hedon nyonya Wijaya yang suka pamer di media sosial bahkan tengah disorot dan dikuliti oleh netizen.

Mengerikan! Tidak ada yang bisa menghentikan sang kakek kalau sudah bertindak.

"Kamu gak akan luluh sama bujuk rayunya si Resty kan, Sur?"

Sekali lagi, dari mulut tante Sukma yang tak pernah bisa menyimpan rahasia, Adrian tahu tante Resty pernah datang dan berusaha menemuinya untuk meminta maaf. Sayangnya, upayanya dicegah Clara. Tante Resty datang bersama Cindy.

Just Three Words  Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang