Aman.
Satu pesan yang dikirim Eddie membuat Adrian menghembuskan napas lega. Gadis itu baik-baik saja, Adrian bisa tenang sekarang meski tengah berada di situasi yang tak diinginkannya.
"Cobain ini deh Yan." Luna menyodorkan garpu berisi fetucini carbonara ke depan mulutnya. "Enak... Aaa," ujarnya sembari tersenyum manis penuh harap.
Dikiranya Adrian tidak bisa makan sendiri. Lagipula Adrian sudah tahu seperti apa rasa fetucini carbonara. Dengan terpaksa, Adrian membuka mulutnya, menuruti permintaan gadis yang sejak dulu mengejarnya dan sekarang dia beri harapan palsu. Luna semakin senang, senyum lebar tak kunjung hilang dari bibir merahnya.
Kalau bukan karena Mia, dia tidak akan melakukan tindakan konyol ini, mengajak Luna dan gengnya makan siang bersama. Ditambah mengajak sepupunya sekaligus Rey, Fendi dan Gatra. Eric karena Gina masih menyimpan rasa pada Eric meski mereka sudah jadi mantan sedangkan Rey karena Fely naksir Rey. Tawaran yang tak mungkin ditolak kedua gadis itu. Cuma ini caranya agar tiga perempuan usil ini sudi melepaskan Mia.
Sungguh suatu kebetulan Adrian menyaksikan Luna dan teman-temannya menyeret paksa Mia tadi. Sebuah kemajuan Mia sanggup mengatakan tidak meski pada akhirnya gagal. Gadis itu selalu saja membuatnya khawatir. Dengan cepat Adrian mengirim pesan pada Eddie untuk datang, membujuk dan merayu Luna agar mau ikut dengannya, mengirim pesan pada Eddie lagi untuk menjaga dan memastikan Mia baik-baik saja atau nyawa taruhannya. Untung dia punya Eddie sebagai kaki tangannya selama ini. Kaki tangan untuk tetap bisa mengawasi Mia dari jauh karena gadis itu tidak sudi berdekatan dengannya lagi. Tadi saja Mia memalingkan wajah darinya.
"Lo ngapain sih bawa-bawa mereka kemari?" bisik Eric padanya.
Jelas sepupunya tak suka dengan kehadiran Luna dan teman-temannya. Bukan Luna masalahnya tapi Gina.
"Lo tahu kan si Gina selalu cari cara biar bisa deket-deket gue lagi. Ogah bener! Haram hukumnya bagi gue balikan sama mantan," ucap Eric lagi.
Adrian tersenyum geli. "Tapi lo suka kan dikejar-kejar," godanya.
"Sialan lo!"
"Duh Eric jangan kasar gitu ah, aku kan jadi kaget." Gina merespon meski Adrian yakin gadis itu tidak tahu apa yang menyebabkan Eric sampai mengumpat kasar.
Dua cowok yang lain alias Fendi dan Rey sibuk mencari perhatian Luna. Gatra terlihat berada dalam dunianya sendiri. Gatra mirip Bobby yang cuek dan dingin. Bedanya Gatra tak segan bersikap kasar pada siapapun yang mengganggunya mau itu cowok atau cewek. Sedangkan Bobby hanya mulutnya yang kasar, Bobby tak pernah main fisik sembarangan. Tak ada yang berani mengusik Gatra yang dijuluki si preman kampus.
Fely terlihat cemberut dan kehilangan nafsu makan karena Rey lebih tertarik pada Luna. Pesona Luna memang tak bisa dilewatkan. Gadis itu selalu tampil menarik. Rias wajah yang memukau dan baju yang... Mmm... Sedikit terbuka.
Apa Luna gak pernah ditegur dosen ya pakai baju begitu?
Laki-laki pasti senang berdekatan dengan Luna. Otak mereka pasti sudah mengkhayal yang bukan-bukan. Eric mungkin sudah menaklukan Luna kalau saja Luna tidak menolaknya duluan. Dengan terang-terangan Luna mengakui hanya menyukai Adrian. Sekarang gadis itu terus mengajaknya mengobrol, seakan Luna tak kehabisan topik untuk dibahas. Bukan itu saja, Luna juga sengaja mendekatkan dirinya hingga Adrian bisa mencium bau parfumnya yang membuat pusing atau tak sengaja bersenggolan dengan bagian tubuh gadis itu yang seharusnya tak boleh tersentuh. Adrian jadi tambah pusing. Adrian sudah bergeser tapi Luna kembali menggeser duduknya. Lama-lama Adrian bergeser sampai depan pintu restoran sekalian.
"Lihat sini dong Yan," Luna merengek bahkan berani menyentuh wajahnya demi bisa membuat mata Adrian hanya menatap ke arahnya. "Lihat aku."
Adrian tersenyum kaku. Menyingkirkan tangan Luna dari wajahnya lalu fokus pada makanannya yang tak kunjung habis. Sejak kapan Luna menyebut dirinya sendiri 'aku'? Apa yang terjadi dengan 'lo-gue'?
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Three Words
Novela JuvenilTrauma di masa lalu membuat Amelia Renata (Mia) menghindari apapun yang berhubungan dengan darah. Cairan merah mengerikan itu selalu membuatnya panik dan ketakutan. Maka ketika Adrian Arthadinata masuk dalam lingkaran pertemanannya, Mia berusaha men...
