Trauma di masa lalu membuat Amelia Renata (Mia) menghindari apapun yang berhubungan dengan darah. Cairan merah mengerikan itu selalu membuatnya panik dan ketakutan. Maka ketika Adrian Arthadinata masuk dalam lingkaran pertemanannya, Mia berusaha men...
Mia terduduk lemas usai menutup pintu kamarnya. Air mata kembali meluruh dari kedua matanya seakan tak ada habisnya. Kepalanya pening karena tak berhenti menangis sejak... Entahlah. Mia tak menghitung berapa lama ia sudah menangis, ia tak peduli. Matanya pasti akan sembab besok pagi. Dadanya terasa perih, sesak hingga ia kesulitan bernapas. Tangan mungilnya kembali memukuli dadanya sendiri, tak dihiraukannya rasa sakit yang tercipta. Itu tak sebanding dengan rasa sakit yang ia buat pada seseorang yang kini terbaring lemah di kamar tamu rumahnya.
Benaknya mengucap maaf berulangkali meski orang yang ia sakiti tak mendengar, meski orang yang ia sakiti bilang tak memerlukannya.
Kenapa kayak gini kak? Kenapa kak Ian baik banget? Kan Ian itu egois, kak Ian itu jahat...kenapa kak?
Mia menggelengkan kepalanya berulang kali. Tangannya tak berhenti memukuli dadanya sendiri.
Aku yang jahat. Aku yang bego.
Nina pernah bilang kecerobohan Mia bisa melukai orang lain suatu saat nanti. Nina mungkin cuma bercanda tapi Nina benar karena malam ini Mia melakukannya. Sebuah kesalahan fatal yang bisa saja merenggut nyawa seseorang.
Ya Tuhan. Tubuh Mia menggigil saat menyadari ia bisa saja menjadi seorang pembunuh. Mia beruntung tusukan yang dibuatnya tidak dalam dan kebetulan Adrian memang memiliki fisik yang kuat. Adrian menopang dan menyeret tubuhnya yang lemas ke dalam mobil, masih sempat melayangkan pukulan dan tendangan pada bajingan yang tersisa. Adrian menyetir dan mengantarnya pulang, tak mengeluh, tak menunjukkan kesakitannya. Adrian menenangkannya sepanjang jalan, menghibur dan mengalihkan perhatiannya. Namun, topeng yang terlihat kuat itu runtuh di depan rumahnya usai Mia memeluknya, di hadapan papi yang marah besar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Apa Mia menyakitinya? Menambah rasa sakitnya karena telah memeluk tubuh itu erat hanya karena rasa takut yang tak bisa diatasinya sendiri. Mia kalut, Mia sangat ketakutan. Adrian disana, berdiri menyandar pada hatchback merahnya, menatapnya dengan sorot khawatir, menunggu sampai Mia masuk ke dalam rumah. Entah setan mana yang merasuki Mia, tubuhnya berbalik, kakinya setengah berlari menghampiri Adrian, Mia menghambur dan memeluk tubuh yang mendadak kaku itu. Tangan mungilnya melingkari pinggang itu, kepalanya terbenam di dadanya, Mia menangis disana.
Adrian tidak mendorongnya, malah membalas pelukannya, mengusap lembut kepalanya tanpa mengatakan apa-apa. Lalu suara papi yang menggelegar menyadarkan Mia. Ia mendorong sekuat tenaga orang yang sebelumnya telah memberikan penghiburan dan ketenangan.
Mia menutup mulutnya saat tangisnya kembali meledak. Oh Tuhan... Mia memang menyakiti Adrian, menambah rasa sakit yang sebelumnya ada. Padahal Adrian tak sedikit pun menyalahkannya. Adrian tidak marah, tak menerima permintaan maafnya karena menurut laki-laki itu Mia tak berhutang maaf. Ini hanya kecelakaan, tak disengaja, bukan salah Mia.
You don't have any idea how this guilty feeling is killing me, ungkap Adrian padanya kala itu.
Sekarang Mia tahu apa itu perasaan bersalah. Rasa bersalah yang dalam, menggerogoti dan membunuh perlahan. Perasaan tidak enak yang Mia rasakan sebelum ini tak ada apa-apanya. Mia pernah merasa salah karena menganggap kecelakaan di ayunan itu karena kecerobohannya tapi rasa bersalah itu tertutup rasa sakit hatinya oleh kebohongan dan pengabaian Adrian. Rasa bersalah itu tak sebesar rasa bersalahnya sekarang. Tidak. Mungkin... Rasa bersalah itu bertambah sekarang. Bukankah rasa bersalahnya tertuju pada orang yang sama?