Adrian tak percaya ia menjejakan kakinya ke tempat ini lagi. Tempat yang dulu pernah menjadi tempat favorit. Tempat yang ia tinggalkan sejak dua tahun lalu ketika ia memutuskan untuk memperbaiki hidupnya. Kalau bukan karena Eric, mungkin ia tidak akan pernah kemari lagi.
"Wah, gue gak nyangka bisa lihat lo lagi disini. Where have you been bro?" Seorang pria dibalik meja bar menyapanya. Pria itu mengulurkan tangannya yang lantas disambut Adrian sembari mengulas senyum.
"Makin rame aja disini," ujar Adrian berbasa basi setelah mereka selesai saling menanyakan kabar.
"Tempat ini gak pernah sepi Yan," jawab Hans, nama si bartender sekaligus pemilik tempat ini.
"Lo lihat Eric?" Adrian langsung pada tujuannya. Dia tak mau membuang-buang waktu. Sejujurnya Adrian merasa sedikit tak nyaman dengan tempat ini. Perasaan nostalgia sekaligus asing bercampur menjadi satu.
Dulu Adrian sering menghabiskan waktu di tempat ini bersama mereka yang disebut teman. Tertawa dan minum bersama meski mereka masih dibawah umur. Hans sepertinya tak peduli soal itu. Bagi Hans yang penting mereka membayar dan tidak membuat ribut.
Sekarang Adrian ingin menjauh dari tempat-tempat semacam ini. Dia tak mau terjerumus ke lubang hitam yang sama. Meski Adrian sudah tak tertarik lagi tapi dia sadar setan ada dimana-mana. Lebih baik menghindar daripada tergoda lagi. Sepupunya sendiri saja setan. Susah sekali menarik Eric ke jalan yang benar.
"Tadi sih ada, biasa sama cewek." Hans mengangkat kedua alisnya. Adrian mendengus. Mana mungkin Eric pergi ke tempat ini sendirian.
Tadinya Eric berencana pergi ke Bali bersama Jessica tapi batal ketika Om Haikal tahu Eric menabrakkan mobilnya saat hang over beberapa waktu lalu. Om Haikal menghukum putranya dengan melarangnya pergi kemanapun saat malam tahun baru. Masalahnya om Haikal sendiri pergi merayakan tahun baru bersama tante Sarah, meninggalkan urusan putra semata wayangnya di tangan Adrian.
Emangnya gue baby sitter, gerutu Adrian.
Kalau bukan karena om Haikal dan tante Sarah, Adrian tidak akan mau menyusul Eric kemari. Om Haikal sangat baik padanya, lebih perhatian dari ayahnya sendiri. Begitu juga tante Sarah yang lembut membuat Adrian sering teringat mum dan oma. Adrian menyayangi mereka. Oke, dia juga menyayangi Eric. Adrian tidak mungkin membiarkan Eric membuat masalah lagi.
Oh Shit!
Umpatan keluar dari mulut Adrian ketika melihat keributan kecil di lantai dansa. Itu Eric, berkelahi dengan seorang pria entah siapa. Eric memukuli lawannya membabi buta meski pria itu sudah terhuyung dan tak lagi sanggup melawan. Pengunjung lain menyingkir tapi tak ada satupun yang melerai. Sebagian malah tak peduli dan tetap berdansa. Seorang gadis terlihat berteriak di belakang Eric, entah apa yang dikatakannya, disini terlalu berisik. Gadis itu sepertinya hendak menghentikan Eric tapi tentu saja tenaganya tidak akan cukup. Eric yang mengamuk biasanya sulit ditenangkan.
"Hey... calm down mate." Adrian menarik paksa tubuh Eric. Sang sepupu meronta, masih dikuasai amarah. Adrian sedikit kesulitan lantaran tenaga Eric cukup kuat. Eric berbalik dan hampir saja melayangkan pukulan ke wajahnya kalau Adrian tidak sigap menahan serangannya. Napas Eric memburu tapi ia berubah tenang saat tahu Adrian yang menganggunya.
"What's going on?" Adrian bertanya. Katrin, gadis yang tadi berusaha melerai bergegas menghampiri Eric, menyentuh pipi Eric yang memar, memeriksa seksama keadaan sepupunya sembari menanyakan keadaannya. Kondisi Eric tidak parah hanya luka di sudut bibir dan memar di pipi. Pria lawannya justru yang harus dikhawatirkan.
Adrian baru ingin menghampiri pria itu yang tengah dibantu rekan-rekannya tapi keburu dicegah Eric. "Gak usah diurusin," hardiknya. "He deserve it." Mata Eric masih menatap nyalang lawannya yang kini tak berdaya. Adrian hanya cemas ini akan mendatangkan masalah nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Three Words
Teen FictionTrauma di masa lalu membuat Amelia Renata (Mia) menghindari apapun yang berhubungan dengan darah. Cairan merah mengerikan itu selalu membuatnya panik dan ketakutan. Maka ketika Adrian Arthadinata masuk dalam lingkaran pertemanannya, Mia berusaha men...
