66. He Is (not) Okay

129 2 0
                                        

Mia menghela napas panjang usai menjejalkan buku-bukunya ke dalam tas. Ia tak yakin dengan esok hari. Ia tak yakin dengan keputusan yang dibuatnya kemarin. Dengan percaya diri Mia mengatakan pada orang tuanya kalau dia akan baik-baik saja, dia tidak takut tapi sejujurnya dia mencemaskan segalanya.

Mia tak bisa berhenti memikirkan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi seandainya dia keluar rumah dan menghadapi dunia. Astaga! Mia cuma ingin kuliah. Mana mungkin dia terus bolos. Mia cuma anak biasa bukan anak orang kaya yang punya privilege. Dia tak bisa berlaku seenaknya. Ada presentase absensi yang berlaku kalau mau mengikuti ujian. Ada juga syarat lain sebagai penerima beasiswa. Kampus sudah memberikannya keringanan, dia tak bisa menuntut lebih. Mau tidak mau, suka tidak suka, Mia harus kembali kuliah besok.

Matanya melirik ponsel berwarna merah muda yang ia letakkan begitu saja di atas ranjangnya. Ponselnya hening. Semua media sosialnya sudah di non aktifkan untuk sementara waktu. Aplikasi perpesanan yang biasanya agak berisik juga ia bisukan kecuali nomor seseorang yang ia tunggu pesan dan teleponnya sejak kemarin.

Kemana perginya orang itu? Adrian berjanji akan segera menghubunginya kalau sudah mendapatkan ponselnya kembali. Adrian bilang ponselnya disita kakaknya. Apa ponsel Adrian masih belum dikembalikan? Mia mana berani menghubunginya duluan. Bagaimana kalau Clara yang mengangkatnya atau membaca pesannya?

Apa Adrian baik-baik saja? Apa Adrian sudah sembuh?

Malam itu Adrian menolak bantuan tante Prita yang ingin memeriksa lukanya. Adrian bersikap seolah ia baik-baik saja padahal semua orang juga tahu kalau laki-laki itu menahan sakit. Wajahnya bahkan semakin pucat. Elang yang diminta tante Prita untuk membuntuti Adrian mengatakan kalau laki-laki itu tiba dengan selamat di villanya. Adrian bahkan terlihat bercengkrama santai dengan sepupunya. Tapi.... tante Prita juga bilang dengan keadaan luka yang seperti itu, seseorang biasanya sudah lemas atau mungkin tidak sadarkan diri. Bagaimana bisa Adrian menahan semuanya?

Mia menggigit bibirnya sendiri sembari menimang ponsel merah mudanya. Sudah beberapa hari sejak malam itu tapi tak ada kabar sama sekali dari Adrian. Jari kurus Mia menggulir beberapa nomor kontak di ponselnya. Jarinya berhenti tepat di nomor kontak Eric.

Haruskah ia bertanya pada sang gitaris Grey?

Tarikan napas panjang dia hembuskan usai menekan tombol panggil. Suara menunggu terdengar lalu terangkat. Suara riang Eric menyambut di seberang sana. Mia menelan ludahnya.

"K-kak... A-aku..." Mia tergagap. Jantungnya berdetak cepat.

"Nyariin Adrian ya? Ada nih di sebelah gue. Mau ngomong?"

"Bo-boleh?" Mia bersyukur Eric mengerti maksudnya tanpa dia harus menjelaskan panjang lebar.

"Bolehlah. Dia juga mau ngomong sama lo. Hapenya masih disita. Udah gue bilang beli aja yang baru, dia gak mau. Ribet nih anak." Eric bercerita panjang lebar.

Eric masih berceloteh hingga suara berisik orang di sampingnya menginterupsi. Mia tak terlalu mengerti apa yang mereka perdebatkan. Hanya ada beberapa kata yang mampir ke telinganya dan cukup membuatnya mengernyitkan dahi.

Hutang? Darah? Hati-hati? Apa maksudnya?

Perasaan Mia berubah tidak enak. Otaknya kembali memikirkan hal buruk.

"Hei... I miss you." Suara sehalus beledu itu membuyarkan pikiran  negatif Mia seketika. "Aku baru mau nelpon kamu."

Aku juga merindukanmu, jawabnya dalam hati.

"Kak Ian dimana?"

"Aku di... Mmm... Rumah." Jawaban Adrian yang terjeda sempat membuat Mia curiga tapi gadis itu segera menepiskan prasangkanya. Adrian tidak akan berbohong padanya. Mereka sudah berjanji akan saling terbuka, tak ada masalah yang disembunyikan sendiri. Setiap persoalan yang menyangkut mereka berdua harus dibagi.

Just Three Words  Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang