"Karma sih ini. Hukuman buat tukang selingkuh dan pelakor."
"Emang ya pelakor tuh selalu lebih jelek. Ini cowoknya yang buta atau ceweknya yang pake pelet sih?"
"Fix mulai detik ini gue bukan fans Grey lagi."
"Padahal tampangnya goodboy, gak taunya badboy juga. Duh... Cowok mana lagi yang harus gue percaya?"
"Itu cewek pelakor tampangnya juga polos, innocent gitu. Gak taunya ganjen juga."
"Cocoklah badboy (brengsek) sama ganjen (jalang).
Mia memejamkan matanya seraya menutup kedua telinganya. Kepalanya menggeleng kuat seolah ia bisa mendengar semua komentar buruk itu langsung di hadapannya. Ini salahnya, kebodohannya yang nekad menyalakan ponsel dan membuka media sosial. Papi sudah meminta ponselnya sejak kasus kemarin mencuat dan jadi pembicaraan hangat tapi Mia menolaknya. Mia tak mau jauh dari benda pipih dengan casing merah muda itu. Benda itu satu-satunya harapan untuk tetap terhubung dengan seseorang yang sekarang terus memenuhi benaknya. Orang yang tak menjawab ataupun membalas panggilan dan pesannya. Orang yang Mia tidak tahu bagaimana keadaannya. Orang yang ditangisi Mia siang dan malam.
Media sosialnya yang tak lagi pernah dilirik dalam waktu lama penuh dengan caci maki. Kalimat yang mereka tuliskan begitu menusuk tanpa perasaan, seenaknya mengambil kesimpulan tanpa tahu cerita yang sebenarnya. Komentar pedas dan jahat juga banyak bertebaran di akun-akun gosip. Mereka sok tahu dan sibuk berdebat sendiri, menambah masalah menjadi semakin rumit. Sosial media milik Adrian pun tak luput dari serangan mereka. Kekecawaan, kemarahan bahkan tuntutan cancel culture dikemukakan. Mia merasa makin bersalah. Ini jelas akan berakibat buruk pada karir Grey yang baru saja dimulai.
Ponselnya berdenting beberapa kali, menandakan ada pesan yang masuk. Mia hanya terdiam, menatap kosong dinding putih di hadapannya. Mia tahu teman-temannya sering mengirim pesan untuk menanyakan keadaannya namun tak ada satupun pesan yang dibalasnya. Mia tak tahu harus mengatakan apa. Mia bahkan tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Mia tidak ingin melakukan apapun, hanya diam dengan pikiran penuh yang makin membuat benaknya sesak luar biasa. Saat semua tak bisa dibendung lagi, ia pun mulai memukuli dadanya sendiri seraya menjerit dan menangis membuat mami dan semua orang di rumah yang ia tempati sementara ini panik. Mia merasa sakit namun bukan secara fisik.
"Mia..." Kirana, kakak sepupunya memanggil. Mia bahkan tidak menyadari kehadiran Kirana di dalam kamarnya. Ia hanya menoleh sebentar sebelum kembali menatap dinding kosong di hadapannya kembali, mengabaikan Kirana.
"Kamu nyalain ponsel kamu?"
Mia tak menjawab, hanya melirik sekilas benda pipih yang ia letakkan di sampingnya. Mia baru bereaksi begitu Kirana meraih ponselnya tanpa permisi. Mia berusaha merebutnya tapi Kirana malah sengaja menjauhkan benda berwarna pink itu.
"Teman-teman kamu khawatir sama kamu."
Kirana sepertinya mengecek dan membaca pesan-pesan yang masuk. Tidak sopan tapi Mia tak punya keinginan untuk sekedar memprotes.
"Oh... Pacar kamu kelihatannya baik-baik aja."
Kepala Mia langsung menoleh cepat begitu kata pacar disebut. Dia tidak punya pacar tentu saja, tapi benaknya seolah mengerti siapa yang Kirana maksud. Netra gelapnya mengerjap begitu Kirana memperlihatkan apa yang terpampang di layar ponselnya kini. Foto Adrian yang sepertinya diambil secara diam-diam, berdiri di depan jendela di dalam sebuah kamar. Cahaya matahari yang masuk dari jendela di belakang Adrian membuat tampilan cowok itu tak manusiawi.
"Ganteng," puji Kirana. Mia mengamini dalam hati. Adrian terlihat tampan meski dalam balutan piyama rumah sakit dan dengan keadaan masih sedikit pucat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Three Words
TienerfictieTrauma di masa lalu membuat Amelia Renata (Mia) menghindari apapun yang berhubungan dengan darah. Cairan merah mengerikan itu selalu membuatnya panik dan ketakutan. Maka ketika Adrian Arthadinata masuk dalam lingkaran pertemanannya, Mia berusaha men...
