"Liburan? Lo lagi di tengah minggu ujian tapi yang ada di otak lo malah liburan." Adrian mencibir sepupunya yang pagi ini terus mengoceh soal rencana libur tahun baru yang tengah dirancangnya bersama sang gebetan yang entah anak fakultas mana atau anak universitas mana. Gebetan Eric terlalu banyak bahkan sering berganti orang, mana Adrian sempat mengingatnya. Tidak penting juga buatnya.
"Jessica mau ngadain party di Bali Yan. Ikut yuk! Temennya Jess cantik-cantik lho. Gampang lah buat lo ambil satu. Kita seneng-seneng." Eric menaik turunkan alisnya, membuat Adrian bergidik. Adrian tahu pasti apa yang dimaksud bersenang-senang dalam kamus Eric.
"Sama siapa aja?"
"Gatra, Fendi, Rey..." Eric mengabsen satu persatu teman tongkrongannya yang satu frekuensi dengannya. "Luna and the gank ikutan juga."
Adrian menghela napas. "Lo tau kan, abis liburan gue langsung ujian. Jadwal ujian gue gak sama kayak lo."
Giliran Eric yang menghela napas. Laki-laki itu menyambar satu permen mint yang berceceran di atas dashboard mobil Adrian. Mereka dalam perjalanan menuju kampus. Eric menumpang mobil Adrian pagi ini karena mobilnya sendiri tengah teronggok di bengkel akibat insiden tabrakan kecil beberapa hari yang lalu.
"Lo bisa mampir ke fakultas gue plus ngurusin dan ngobatin anak orang pas lagi minggu ujian tapi nolak pergi liburan sama gue cuma gara-gara abis liburan lo mau ujian. Alasan lo gak make sense Yan."
"Iya..iya." Adrian berdecak kesal. Ujian memang alasan yang dibuat-buat. Intinya Adrian menolak ikut.
"Jadi ikut kan?"
"Enggak," tegasnya yang langsung membuat raut wajah ceria Eric berubah manyun.
"Come on.." Eric merengek seperti anak kecil. "Temenin gue."
"Sumpah! Jijik gue denger lo ngerengek kayak bocah gini," sebuah celetukan menyambar dari belakang. Bobby yang berbicara. Alasan Bobby bisa berada di dalam hatchback merah kesayangan Adrian sepagi ini adalah karena semalam mereka menghabiskan waktu untuk belajar bersama. Ralat, main game bersama. Mana mungkin benar-benar belajar, mereka kan beda jurusan.
"Diem lo!" semprot Eric pada sahabatnya sejak SMU itu. "Lo mau ikutan gak Bob. Tenang, akomodasi gue yang tanggung."
"Enggak." Bobby menolak tanpa berpikir. "Tahun baru harusnya introspeksi diri bukannya bikin maksiat."
Adrian terkekeh mendengar jawaban Bobby. "Dengerin tuh," ujarnya pada sang sepupu.
"Lo kebanyakan gaul sama si Eddie," sindir Eric pada Bobby. "Lo juga. Akhir-akhir ini lo juga nempelin si Tommy. Jangan kebanyakan gaul sama bocah ntar lo berdua jadi gak asyik."
"Bagus dong! Itu tandanya gue beneran tobat. Nah lo kapan tobat? Umur makin bertambah Ric, bertobatlah sebelum umur lo habis." Adrian balik menyindir.
Eric tergelak. "Lo yakin udah tobat beneran?" Alisnya turun naik seolah mengejek Adrian. "Lo inget, dulu lo bilang mau berhenti cari-cari masalah, baru seminggu lo tiba-tiba muncul di kosannya Bobby dengan pinggang berdarah. Bikin gue hampir kena serangan jantung. Amazing Yan." Eric masih melanjutkan tawanya. "Dua tahun ini lo cukup baik. Semoga lo bisa bertahan but... Hey... Who knows right?"
Adrian mendengus. Dia tidak bisa membela diri untuk kasus yang satu itu. Alasannya berkelahi saat itu benar. Apa yang terjadi kalau Adrian mengabaikan teriakan minta tolong Mia? Dia akan menyesal seumur hidup, itu pasti. Percayalah, Adrian bahkan menjalani hukuman dari ayahnya dengan senang hati sesudah insiden itu.
"Kita dua puluh tahun aja belom, udah bahas umur. Perjalanan masih panjang Yan. Masa muda waktunya bersenang-senang." Eric belum selesai bicara.
"Lo yakin perjalanan lo masih panjang? Gak ada yang tahu berapa lama lo hidup di dunia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Three Words
Fiksi RemajaTrauma di masa lalu membuat Amelia Renata (Mia) menghindari apapun yang berhubungan dengan darah. Cairan merah mengerikan itu selalu membuatnya panik dan ketakutan. Maka ketika Adrian Arthadinata masuk dalam lingkaran pertemanannya, Mia berusaha men...
