14. Sometimes Shit Happened

111 2 0
                                        

Gadis itu tak mengacuhkannya. Lagi. Tidak. Ini lebih parah dari sebelumnya. Dulu Mia masih menatapnya meski dengan raut wajah takut, masih menjawab pertanyaannya dengan gugup, masih mau membalas pesannya meski terlambat, sekarang Mia bahkan tak mau menatapnya. Mia akan langsung pergi begitu Adrian mendekat. Pesannya hanya dibaca tanpa satupun dibalas. Teleponnya diabaikan. Adrian seolah dianggap tidak ada.

Minggu kemarin adalah minggu terburuk baginya. Menghadapi ujian dengan hati dan pikiran tak karuan. Ingin sekali dia langsung menemui Mia dan menjelaskan semuanya tapi dia harus memikirkan kuliahnya dulu, meski fokusnya sering terpecah beberapa kali. Entah apakah ia akan lulus atau tidak. Kalaupun lulus entah bagaimana nilainya nanti.

Dengan santai, seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya Adrian menyambangi fakultas ekonomi. Adrian menyapa sepupunya, menyapa Tommy dan Ivonne seperti biasa. Luna masih mencari perhatiannya. Ivonne tetap bersikap manja dan sesekali menggodanya. Adrian tertawa padahal dalam hati ia harap-harap cemas. Mia datang, mata mereka bertemu. Gadis itu memutuskan pandangan lebih dulu, terseyum amat manis pada Tommy lalu izin pamit. Mia pergi. Adrian menunggunya sampai kelas berikutnya dimulai tapi Mia tak kembali. Begitu selanjutnya selama berhari-hari.

"Jadi... Ada masalah apa?" Tommy akhirnya bertanya. Ini minggu kedua setelah Mia mendiamkan dan menganggap dirinya tak kasat mata.

"Nothing." Adrian meneguk sodanya dengan gaya tak acuh.

"Mia ngehindarin lo."

Adrian terkekeh. "Harusnya yang lo tanya dia. Kan dia yang ngehindarin gue."

"Lo bikin salah apa sama dia?"

Banyak Tom... Banyak.

"Lo kalo bikin salah buruan minta maaf."

Gimana mau minta maaf? Bicara aja gak bisa. Baru muncul dia kabur.

"Lo sebenernya mau apa sih sama Mia?"

Adrian menghela napas. Pertanyaan ini lagi.

"Emang bener. Harusnya lo jauhin Mia," oceh Tommy lagi. "Lihat Ivonne deh. Kayaknya dia udah mulai move on dari lo semenjak lo jaga jarak."

"Dia masih suka godain gue."

"Bercanda doang itu. Lo baper?"

Adrian tertawa. "Nope. Gue gak ada rasa."

"Yakin?"

"Bukan prioritas gue saat ini Tom."

Tommy mendengus. "Prioritas lo deketin Mia yang entah untuk tujuan apa."

"Astaga..." Adrian berdecak seraya menggelengkan kepalanya. Lama-lama ia ngeri dengan pewaris Wira Atmaja ini. Tommy punya insting detektif yang lebih baik dari Eric.

"Tom, gimana kalo lo gunain kepekaan lo ini buat hal lain?" Tommy mengernyit bingung. "Look around you. Gak usah jauh-jauh. Ada orang yang menaruh harapan besar sama lo."

"Lo ngomong apa sih?"

"Use your brain. Act now atau lo bakal nyesel nanti."

Adrian beranjak dari kursinya, meremas kaleng soda yang sudah habis di minumnya. Menyalurkan segenap kekesalan dan rasa frustasinya disana. Hari ini dia tetap gagal bicara dengan Mia. Jangankan bicara, melihat wajahnya saja tidak.

"Yan, gue sahabat lo," teriak Tommy begitu Adrian hendak pergi. Adrian berbalik dan menatap rekan satu bandnya itu, menunggu kelanjutan kalimatnya.

"Mia sahabat gue, lebih dulu sebelum gue kenal lo. Gue punya utang nyawa sama lo tapi..."

Just Three Words  Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang