18. Let's Talk

113 1 0
                                        

Adrian meringis ketika sensasi rasa dingin menyentuh kulitnya. Ia menjauhkan sejenak es batu berbungkus kain yang dipegangnya lalu menempelkannya kembali ke atas pipinya yang memerah. Matanya beralih melihat tampilan dirinya sendiri di cermin yang terlihat menyedihkan. Pipi dan hidung merah yang pasti akan membiru besok. Pelipis yang lecet dan masih mengeluarkan darah juga sudut bibirnya yang terluka dan terasa perih. Adrian seperti korban yang kalah dalam sebuah pertarungan. Dia terkekeh sendiri tapi meringis kemudian. Dia memang kalah.

Tommy Wira Atmaja tiba-tiba muncul di depan unit apartemennya tadi usai Eric berangkat ke kampus. Adrian sendiri tidak kuliah hari ini lantaran perutnya masih sakit. Efek maag yang kambuh dan perbuatan sadis sepupunya semalam. Tanpa basa basi pewaris Wira Atmaja itu langsung melayangkan tinjunya begitu Adrian membuka pintu. Pukulan yang berhasil ia hindari bahkan Adrian juga menangkap tangan Tommy, memuntirnya ke belakang dan memojokkan Tommy ke dinding. Jangan remehkan refleknya yang sudah terlatih. Eric berhasil memukulnya semalam karena dia tengah kalut tapi tidak pagi tadi.

Ya Adrian unggul sampai Tommy menyebut nama Mia dan membuat pertahanan dan fokusnya mengendur. Tommy berhasil melepaskan diri, meninju perutnya, membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Tommy beruntung karena tepat mengenai bagian tubuh Adrian yang paling rentan saat ini. Tak puas sampai situ, sang keyboardist Grey juga melancarkan pukulan ke arah wajahnya berkali-kali sembari mengoceh soal Mia, trauma dan tanggung jawab.

"Lo bukan trigger, lo sumbernya."

"Jadi ini alasan lo deketin Mia? Lo yang bikin Mia trauma?"

"Lo mau apa lagi Yan? Gak cukup dengan apa yang udah lo lakuin di masa lalu?"

Adrian tak bisa membalas bahkan sekedar menangkis pun tidak. Bukan karena serangan Tommy yang tak bisa diatasinya, tapi karena ocehan Tommy membangkitkan rasa bersalahnya lagi. Otaknya mendadak lumpuh, tak mampu memikirkan langkah selanjutnya. Benaknya bilang ia harus diam dan menerima semuanya. Anggap ini sebagai hukuman yang pantas ia terima. Alhasil tubuhnya tak bergerak dan pasrah sampai pewaris Wira Atmaja itu puas.

"Lo bener. Gue emang marah banget pas tahu." Tommy terduduk di sebelahnya dengan napas terengah-engah. "Bahkan setelah mukulin lo pun amarah gue belum reda."

"Kalau begitu pukul lagi. Pukul sampai marah lo hilang." Adrian menawarkan solusi gila. Wajah dan perutnya sudah lebih dari sekedar nyeri tapi ia tak peduli.

Tommy terkekeh dan menggeleng. "Itu yang lo mau kan?" tanyanya. "Lo pengen rasa bersalah lo berkurang." Netra hitam Tommy menatapnya tajam. Mata yang seperti bulan sabit itu semakin mengecil begitu seringaian terbentuk di bibir Tommy. "Gue gak akan kasih yang lo mau."

Sahabatnya berdiri. "Jauhi Mia," tegasnya.

"Gak bisa. Gue--"

"Gak ada yang perlu lo perbaiki lagi. Udah telat."

"This guilty feeling. It's killing me."

"Itu hukuman yang harus lo tanggung."

Adrian mendesah. Hukuman? Seberapa berat hukuman yang harus diterimanya sampai rasa bersalah ini berkurang dan hilang. Apa kalau Mia memaafkannya, dia akan merasa lega? Apa kalau dia sudah menerima hukuman, semuanya selesai?

Tarikan napas berat dihembuskan lagi. Adrian meraih ponselnya, membuka ruang berkirim pesan yang nampak sepi kini. Percakapan terakhir adalah pesan yang dikirimnya sendiri, berulang kali hampir tiap hari setelah tahun baru. Gadis itu tak merespon satu pun. Ditaruhnya ponsel itu ke telinga usai menekan tombol panggil. Nadanya masuk tapi tak kunjung diangkat. Mana mungkin di angkat. Setidaknya Mia tak memblokir nomornya. Voice mail menjawab, Adrian terdiam lalu...

Just Three Words  Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang