Kalau di Part kemaren tenang, adem, damai terus ada manis-manisnya dikit berarti di part ini bakal deg2an tapi bukan deg2an uwu ya 😛...
Tarik napas dulu deh yang banyak soalnya agak sesek nanti #eeh
❤️❤️❤️❤️
"Maaf kak, gak bisa. Ada kartu lain?" Kasir perempuan itu menyodorkan kembali kartu kredit yang diberikan Adrian beberapa saat lalu. Ini sudah kartu kedua yang ditolak. Perasaan Adrian berubah tidak enak.
"Pakai ini aja mba." Adrian mengulurkan kartu debit yang berisi tabungannya. Dia urung memberikan kartu debit yang biasanya berisi uang transferan dari sang ayah. Adrian berasumsi kartu itu juga tidak akan berfungsi.
Dugaannya tepat. Saat ia mencoba mengambil uang di ATM, kartu pemberian sang ayah itu ditolak. Adrian terkekeh sendiri. Sang ayah tengah menghukumnya. Malam itu usai pembangkangannya, Adrian belum sempat bicara lagi dengan opa. Opa Assad sudah lebih dulu beristirahat karena lelah. Adrian memang kembali ke rumah hampir tengah malam. Ia pergi mengunjungi rumah Mia juga bicara panjang lebar di telepon dengan gadis itu. Selanjutnya, ia hanya melajukan mobilnya tak tentu arah sebelum akhirnya pulang ke rumah. Opa dan sang ayah sibuk dengan urusan pekerjaan setelahnya tapi sang ayah sepertinya sudah bertindak lebih dulu tanpa basa basi lagi.
Akses keuangannya diblokir. Kartu-kartu itu tak berguna sekarang. Biarlah. Toh Adrian sudah lama tak bergantung pada kartu-kartu itu kecuali untuk keperluan kuliah. Adrian punya penghasilan sendiri. Dia juga tak terlalu sering menggunakan credit card seperti Eric. Tak masalah baginya tapi dia mencemaskan Mia. Ayahnya mungkin juga akan menghukum gadis itu. Ponselnya berdering tepat ketika ia memikirkan kemungkinan buruk yang akan dilakukan sang ayah. Nama Clara terpampang di layar benda pipih itu. Adrian menarik napas dalam sebelum menggeser tombol hijau.
"Kamu tau apa yang diperintahkan ayah padaku pagi ini?"
"Apa?"
"Ayah memintaku mencabut beasiswa milik Amelia Renata."
Tentu saja. Itu hal paling mudah yang bisa dilakukan pria arogan itu.
"Kakak akan melakukannya?"
"Kamu pikir aku bisa membantah ayah?"
"Apa alasannya?"
"Kamu tahu pasti alasannya."
"Aku gak bicara soal masalah pribadi."
"Temui ayah dan bicara sendiri padanya."
Adrian mengumpat usai Clara menutup sepihak teleponnya. Ini hadiah terburuk untuk ulang tahunnya yang ke dua puluh. Clara bahkan tak ingat kalau Adrian berulang tahun hari ini. Jangan mengharapkan perhatian semacam itu dari Surya Arthadinata. Tidak akan pernah terjadi. Waktu Adrian kecil, dia hanya merasakan ulang tahun yang dirayakan bersama mum. Selebihnya ulang tahunnya sama sekali tidak istimewa.
"Yan! thanks buat traktirannya ya." Alan berseru sembari menepuk perutnya yang pasti sudah terisi penuh sekarang. Teman-temannya yang lain juga turut mengucapkan terima kasih termasuk ucapan selamat dan doa-doa terbaik untuknya.
"Lo kenapa? Tampang lo bete bener." Imelda, pacar Alan sekaligus teman sekelasnya, sepertinya menyadari perubahan raut wajahnya begitu Adrian kembali ke mejanya.
"Duit lo gak abis gara-gara nraktir kita kan," timpal Edwin, temannya yang lain.
"Ya kali anak sultan bangkrut Win." Celetukan lain terdengar.
Adrian hanya tersenyum tipis. Mereka tidak tahu kalau Adrian Arthadinata bukan anak sultan lagi mulai detik ini. Penarikan fasilitas keuangannya baru permulaan. Setelah ini mungkin mobilnya bakal ditarik, diusir dari apartemen atau ditendang dari kartu keluarga sekalian. Adrian tak terlalu mencemaskan hidupnya ke depan tapi Mia persoalan yang lain. Sepertinya dia memang harus menghadap sang ayah secepatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Three Words
Fiksi RemajaTrauma di masa lalu membuat Amelia Renata (Mia) menghindari apapun yang berhubungan dengan darah. Cairan merah mengerikan itu selalu membuatnya panik dan ketakutan. Maka ketika Adrian Arthadinata masuk dalam lingkaran pertemanannya, Mia berusaha men...
