Jantung Mia berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Perutnya terasa seperti tergelitik, sementara peluh mulai membanjiri padahal siang ini tidak terlalu panas. Kepalanya hanya bisa menunduk sejak tadi dan kedua tangannya mengepal kuat di bawah meja.
Ah, kemana Ivonne dan Tommy saat dibutuhkan?
Mia mau kabur tapi tidak sempat. Wangi mint tercium lembut di hidungnya. Asalnya dari seseorang yang duduk di hadapannya, yang sibuk menikmati makan siangnya tanpa suara. Aneh karena biasanya Adrian selalu bawel. Laki-laki itu tak pernah kehabisan topik pembicaraan. Meski Mia gugup luar biasa tapi ia tak memungkiri hatinya merasa senang juga. Siapa yang tidak senang kalau disapa dan dihampiri orang yang disuka? Tidak ada. Semua orang pasti senang. Mia pun begitu, walaupun perasaan ini salah.
"Aku udah gak ada hubungan lagi sama Cindy." Mia tersentak saat informasi itu yang memecah keheningan di antara mereka. Kenapa Adrian malah membahas topik ini? Mia tidak mau tahu soal Cindy. Bukan urusannya.
Benarkah Mia? Lalu kenapa perasaannya makin senang mendengar kabar hubungan yang kandas itu? Oh tunggu. Ini bukan gara-gara dia kan? Adrian pernah bilang sayang padanya. Apa Adrian lebih memilihnya daripada Cindy? Oh ya Tuhan, memikirkannya membuat pipi Mia memanas. Mia malu. Bukan. Mia tidak mau menjadi perebut kekasih orang.
"It's nothing to do with you. Kami dijodohin dengan alasan keuntungan dan bisnis."
Wow! Mia pikir hal semacam itu cuma ada dalam film, komik atau novel yang dibacanya. Mia jadi merasa iba. Ternyata menjadi anak orang kaya tidak selalu menyenangkan. Masa depan anak-anak itu sudah diatur, pendidikannya, pergaulannya, menjadi pewaris bahkan mungkin sampai harus menikah dengan siapa. Mendadak Mia ditampar kenyataan pahit. Dirinya dan Adrian tak mungkin bisa bersama. Keluarga Adrian pasti tidak menginginkan gadis biasa sepertinya.
"Aku gak bisa nolak tapi... Lama-lama muak juga. Resikonya gak kecil kalau aku membangkang. Sebenernya aku takut." Adrian terkekeh pelan. "Aku pikir aku gak bakal setakut ini." Netra madu itu kini menatapnya teduh,seolah ingin menyampaikan banyak hal begitu Mia tak sengaja melirik. Adrian tak mengalihkan pandangan, membuat Mia meneguk ludah. Rasanya Mia lemas ditatap seintens itu.
"Jaga dirimu baik-baik."
Mia tak suka kalimat itu. Rasanya aneh. Kenapa tiba-tiba berpesan seperti itu? Adrian tidak akan pergi meninggalkannya kan? Malam itu Adrian berjanji akan tetap disisinya meski Mia tak paham benar apa maksudnya.
"Kamu selalu bikin aku cemas," lanjut cowok bule itu lagi. "Apa masih ada orang yang ganggu kamu lagi? Are you really ok?"
Mia tersentak. Darimana Adrian tahu?
"Mereka gak akan ganggu kamu lagi. I'm sorry. Semua ini gara-gara aku."
Tidak. Gina mengganggunya karena Eric. Haruskah Mia bercerita soal paket mengerikan yang sudah dua kali diterimanya. Jangan! Mia tidak boleh merepotkan Adrian. Tapi... Jangan-jangan Adrian juga tahu soal itu.
"Nanti pulang sama aku ya."
Mia mengangkat kepalanya yang sejak tadi hanya tertunduk. Netra beningnya mengerjap beberapa kali. Jantungnya makin bergemuruh hebat kala Adrian tersenyum manis padanya. Mia harus jawab apa?
"Gak mau?"
Mia menggigit bibirnya. Dia bingung. Hatinya berteriak mengatakan iya tapi otaknya terus membantah. Ini tidak boleh. Ini tidak benar.
Kenapa tidak boleh? Cuma pulang bersama. Rumah mereka kan searah. Lagipula status Adrian sekarang adalah cowok single. Mia tidak pergi berduaan dengan pacar orang lain. Tapi ini terlalu cepat. Orang yang melihat akan berpikir buruk. Mia akan jadi bahan gunjingan lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Three Words
Fiksi RemajaTrauma di masa lalu membuat Amelia Renata (Mia) menghindari apapun yang berhubungan dengan darah. Cairan merah mengerikan itu selalu membuatnya panik dan ketakutan. Maka ketika Adrian Arthadinata masuk dalam lingkaran pertemanannya, Mia berusaha men...
