Mia mengerjapkan kedua matanya, sedikit memicing ketika cahaya temaram memasuki penglihatannya. Aroma dan pemandangan asing menyambut. Ranjang berukuran besar, tivi plasma, sofa, dinding bercat putih dan gorden berwarna emas. Kamar ini luas, selain pintu besar yang Mia yakini adalah pintu keluar, ada juga pintu lebih kecil yang sepertinya menuju kamar mandi. Ini seperti di dalam kamar hotel. Mia ingat kalau sebelumnya ia tengah menghadiri pesta ulang tahun seorang pengusaha bersama Tommy. Asad Arthadinata. Hotel ini juga milik Arthadinata group. Degup jantungnya semakin cepat disertai bulir keringat yang muncul perlahan. Rasa cemas dan takut menjerat perlahan menciptakan satu keinginan. Lari.
Perlahan, Mia bangun. Sedikit terbatuk ketika napasnya tiba-tiba tercekat, seperti ada sesuatu yang menyumbat kerongkongan atau mungkin dadanya. Kilasan ingatan muncul dalam benaknya. Hak sepatu yang patah bersamaan dengan seorang pelayan yang lewat dengan keranjang berisi piring-piring kotor. Pelayan itu menyenggolnya atau mungkin Mia lah yang melakukannya. Entahlah. Kejadiannya sangat cepat. Tahu-tahu Mia sudah terpeleset lalu tercebur ke dalam kolam yang dingin.
Mia tak bisa berenang dan dia panik setengah mati, menggerakkan kaki dan tangannya kesana kemari agar tubuhnya tetap di atas air. Sia-sia karena air itu seperti menyeretnya ke bawah. Kolam itu hampir dua meter dalamnya dan tinggi Mia hanya satu setengah meter. Beberapa kali kepala Mia tenggelam lalu paru-parunya mulai menghirup air, membuat Mia kesulitan bernapas. Dalam keadaan putus asa dan kesadaran yang makin menipis, Mia melihat seseorang berenang mendekatinya. Tommy.
Jantung Mia berdegup kencang saat mencoba mengingat kejadian selanjutnya. Tak banyak, samar.
Mi... Bangun Mi... Mi jangan bikin gue takut
Stay with me Mia... Come on... breath...
Ah... Hanya kata-kata itu yang diingatnya. Dua suara yang berbeda. Woody dan mint, dua aroma yang ditangkap indera penciumannya sebelum Mia benar-benar kehilangan kesadarannya. Itu berarti Tommy dan...
"Mi... Lo udah bangun?" Suara yang menyapanya menghentak kesadaran Mia. Mata bulat Mia kembali mengerjap saat melihat Tommy tahu-tahu sudah berdiri tak jauh dari ranjang yang ditidurinya dalam balutan bathrobe. Mia bahkan tidak sadar kalau pintu besar itu telah terbuka.
Mia melirik keadaannya sendiri. Terkejut mendapati kalau dia juga hanya mengenakan bathrobe. Beruntung tubuh bagian bawahnya tertutup selimut.
"Aaargh!" Mia jelas panik. Dia berada dalam kamar hotel, berdua dengan laki-laki dan hanya mengenakan bathrobe. Mia bisa dibunuh papi. Tidak. Tommy yang dibunuh papi.
"Kenapa? Kenapa teriak?" Belum usai dirinya terkejut karena melihat kondisinya dan Tommy yang mencurigakan, kini Mia dibuat melongo mendapati Ivonne dan Bobby menyeruak dengan tergopoh-gopoh. Reflek, Mia menutupi bagian depan tubuhnya. Ia malu.
"Sori... Sori. Gue tunggu di luar aja." Bobby seperti paham apa yang Mia rasa. "Lo juga Tom. Lo sih masuk sembarangan. Kaget kan dia." Bobby lekas menarik Tommy keluar. Ivonne berjalan menghampirinya sementara Mia masih mencerna situasinya.
"Gimana keadaan lo? Ada yang sakit gak?" Ivonne sudah duduk manis di atas ranjang, menatap seksama ke arahnya.
"Ivonne... Kok bisa disini?"
"Papa gue kepala cabang Artha bank jadi dapet undangan. Gue ngikut karena mau makan enak." Ivonne nyengir menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi. "Mama minta Bobby ikut buat nemenin gue dan nyetirin. Lo tau kan papa gue kalau bawa mobil gak enak, kebetulan juga sopir papa lagi cuti dan papa gak bolehin gue yang bawa."
Sepertinya Bobby sudah semakin dekat dan akrab dengan keluarga Ivonne sampai diajak ke pesta segala. Mama dan papa Ivonne terkenal ramah dan terbuka pada teman-teman anaknya. Mia jadi penasaran apa Bobby dan Ivonne hanya berteman atau sudah lebih dari itu? Belum ada pengakuan resmi dari keduanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Three Words
Teen FictionTrauma di masa lalu membuat Amelia Renata (Mia) menghindari apapun yang berhubungan dengan darah. Cairan merah mengerikan itu selalu membuatnya panik dan ketakutan. Maka ketika Adrian Arthadinata masuk dalam lingkaran pertemanannya, Mia berusaha men...
