38. Just A Good Business

123 1 0
                                        

Hai... Willy update lagi 😊

Boleh minta vote dan komennya biar aku semangat nulis. Makasih udah pilih cerita ini dan baca sampai part ini. Moga kalian setia sampai akhir he he

❤️❤️❤️❤️❤️❤️

Tidak akan bisa. Adrian tidak akan pernah bisa bersikap tidak peduli apalagi menjauhi Mia seperti yang diminta ayahnya. Bagaimana bisa jika mereka ada di kampus yang sama juga lingkup pertemanan yang sama. Selalu akan ada saatnya mereka berpapasan, minimal mendengar kabar. Jadi, bagaimana bisa Adrian mengabaikan Mia?

Kemarin melihat Mia tiba-tiba tertelungkup dengan kedua lengan memeluk lutut saja sudah membuat jantung Adrian mencelos. Wajah Mia sangat pucat. Mia tidak menangis tapi netra gelapnya sempat berkaca-kaca, hidungnya juga memerah. Bukti bahwa Mia menahan tangis sekuat tenaga entah karena apa.

Sebelumnya Mia terlihat baik-baik saja, meski irit bicara, selalu menunduk dan malu-malu mencuri pandang padanya. Eddie dan Ivonne tak mau menjelaskan. Nina bilang Mia begitu karena cuaca yang panas terik. Adrian tak bisa membuat Mia bicara, ia takut tangisan Mia bakal tumpah kalau ia memaksa. Adrian juga tak bisa menemani Mia karena masih ada kuliah lagi sampai sore. Selain itu terus bersama Mia bisa berbahaya. Mana tahu mata-mata ayahnya atau opa tengah mengintai. Adrian tak berani mengambil resiko. Jadi dengan langkah gontai Adrian meninggalkan Mia, mempercayakan Mia pada sahabat-sahabatnya.

"Bagus gak?" Cindy berkata sembari memutar tubuhnya, memamerkan gaun yang dicobanya entah untuk ke berapa kali. Adrian tidak benar-benar memperhatikan. Pikirannya berkelana kesana kemari. Di otaknya hanya ada Mia. Dia masih mencemaskan Mia meski sehari sudah berlalu tapi mungkin sebaiknya Adrian fokus pada gadis di depannya dulu. Biar urusan ini cepat beres.

"Bagus."

Bahu Cindy turun. Helaan napas kemudian terdengar. Bibirnya melengkung ke bawah.

"Dari tadi komentarmu bagus terus," dengus Cindy.

"Well... Everything looks nice on you."

Adrian tak mengerti di mana letak kesalahannya. Kenapa Cindy malah nampak kesal? Gaun biru muda model off shoulder yang masih cukup sopan itu memang terlihat bagus di tubuh ramping Cindy. Gadis itu juga terlihat cantik seperti biasanya tapi perasaan berdesir dan jantung berdebar tak lagi Adrian rasakan. Rasanya sama saja seperti tengah melihat Clara yang melenggak lenggok di depannya.

Cindy kembali menghela napas. "Fine," katanya dengan nada ketus. "Jadi... Mana yang kamu suka?"

Adrian mengerjapkan matanya.
"Kok aku?" tanyanya polos. "Pilih aja yang kamu suka."

"Astaga... Adrian!" Cindy memekik jengkel. "Aku cape tau dari tadi ganti baju terus. Kamu gak merhatiin ya."

Baiklah, drama kembali di mulai. Cindy mulai bertingkah bagai pacar yang tidak dipedulikan padahal mereka tidak benar-benar pacaran. Apa Cindy lupa atau terlalu terbawa sandiwara mereka?

"Ambil itu aja." Adrian asal memilih, menunjuk gaun biru muda yang tadi terakhir di coba Cindy. Adrian tak mau memulai perdebatan lagi di antara mereka.

"Ya udah. Mba saya pilih gaun yang merah itu ya." Cindy menunjuk gaun lain bertali tipis dengan bagian dada lumayan terbuka dan punya belahan tinggi di salah satu sisi roknya.

Netra coklat Adrian melotot tajam. Dasar aneh! Tadi Cindy menanyakan pendapatnya tapi gadis itu akhirnya malah memilih yang lain.

"Apa? Kamu suka warna merah kan? Ini cocok dengan stilleto merah yang barusan aku beli. Gaun ini sempurna." Cindy memandang gaun merah itu dengan tatapan berbinar. Tangannya membelai pelan gaun itu. Adrian bergidik melihatnya.

Just Three Words  Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang