Kenzie berdiri di lobi, menatap punggung Esa yang menjauh bersama Nana. Ia menghela napas dan berbalik berjalan memasuki lift menuju lantai apartmentnya.
"Bukan urusan gue"ujarnya setelah pintu lift benar-benar tertutup. Setibanya di apartemen, Kenzie langsung menjatuhkan tasnya di dekat sofa.
"Hh capek banget…"keluhnya. Apartmentnya terasa sangat sepi, biasanya ada suara Safi, atau Mama Caca yang cerewet dari dapur. Sekarang yang terdengar hanya suara AC dan helaan napas Kenzie.
Kenzie lalu berjalan ke kamar mandi, membuka keran dan berdiri di bawah air pancuran cukup lama. Kegiatan makrab selama dua hari benar-benar menguras energinya. Rasanya Kenzie perlu re-charge energi dengan mengurung diri selama tiga hari di apartment tanpa bertemu dan berinteraksi dengan siapapun.
Selesai mandi, ia keluar dengan kaos longgar. Rambutnya masih setengah basah. Kenzie membuka kulkas, melihat makanan persediaan yang ditinggalkan Mama Caca dikulkas. Tapi Kenzie menutup kembali kulkas dan memilih membuat mie instan untuk makan malam. Ia bosan dengan makanan dikulkas, membeli ataupun memesan diluar juga ia sudah tak ada tenaga. Satu-satunya yang paling praktis dan pastinya mengeyangkan ya membuat mie instan. Kalau disini masih ada Mamanya Kenzie sudah pasti kena omel.
Sambil makan, Kenzie duduk di sofa, menyalakan TV dan menonton. Meskipun ia tidak sepenuhnya fokus pada acara yang ditontonnya. Kenzie menghabiskan dua bungkus mie goreng dipiringnya dengan cepat. Usai makan Kenzie kembali duduk di sofa dan kali ini hanya memainkan ponsel, menscroll instagram dan menunggu pesan terakhirnya dibaca oleh Mikha.
Cukup lama Kenzie menscroll instagram, tak terhitung berapa reels yang sudah ia like tapi balasan pesan dari Mikha tak kunjung datang. Padahal pacarnya itu online saat Kenzie mengirimkannya pesan. Kenzie sampai ketiduran menunggu balasan pesannya.
Malam sudah cukup larut ketika suara beep dari smartlock terdengar. Kenzie yang setengah tertidur langsung membuka mata. Tak lama Esa masuk, menutup pintu dan melepaskan jaketnya. Kenzie merubah posisi berbaringnya menjadi duduk melihat Esa yang sibuk menggeret tas punggungnya ke sudut ruangan.
"Sorry kalau gue bangunin lo"
"Gapapa"gumamnya pelan. Pandangannya masih sedikit buram, rambutnya berantakan, dan butuh beberapa detik untuk sadar.
"Lu abis dari sama Nana?"ujar Kenzie. Sedetik setelahnya Ia langsung menyesali pertanyaan konyolnya barusan.
"Iyaaa--Lu belum jelasin ke gue kenapa lu sama Nana bisa sampe satu gedung apartment? Lu sebelumnya gak ada cerita apa-apa soal ini"
Kenzie langsung berdecak.
Keningnya mengernyit, rasa lelahnya langsung berubah jadi kesal.
"Kenapa sih gue harus jelasin hal kayak gini? Sepenting itu emangnya?"balasnya. Esa yang tadinya sedang membuka kulkas mengambil air minum langsung menoleh.
"Penting buat gue"balas Esa. Nada suaranya mendadak berubah.
"Gue kan nyuruh lu kasih info soal Nana selama disini. Tapi masa yang hal penting kayak gini lu gak cerita"
"Gue gak pernah iyain ya buat ngasih info soal Nana ke elo"Kenzie berdiri mulai tidak nyaman dengan pembahasan mereka.
"Kok lo kesannya emang pengen nyembunyiin sesuatu dari gue sih? Defensif banget"balas Esa yang jadi ikutan kesal karena balasan Kenzie padanya.
"Gue gak defensif. Cuma heran aja. Nana yang pindah, tapi narasinya jadi gue yang seolah-olah salah dan nyembunyiin sesuatu"
"Ya karena lu yang tinggal di sini"
balas Esa cepat.
"Terus? Ini apartemen umum, Sa. Bukan punya gue. Tanya Nana kenapa dia tiba-tiba pindah ke tempat yang sama kayak gue"Ia mengambil ponselnya dari meja.
Esa langsung terdiam.
