46 – WHAT MAKES YOU BEAUTIFUL
SETELAH SINGGAH di New Jersey, kapal berlayar kembali menuju ke New York. Saat ini semua tamu undangan VVIP yang ikut menginap di kapal tengah sarapan pagi. Semua tamu undangan di jamu di lantai satu.
Vannesya ikut sarapan di meja keluarga Willson. Tadinya meja yang berisi sepuluh orang itu penuh dengan keluarga Willson—keluarga dari pihak William. Sebelum akhirnya satu per satu mulai pergi dan membaur dengan rekan bisnis yang mereka kenal yang menjadi tamu undangan. Richard dan Carollin telah pulang sebelum acara selesai. Karena kesehatan Carollin yang tidak baik, maka Richard memutuskan untuk segera pulang menggunakan yacht pribadi.
William hanya mempunyai satu orang anak, yaitu Richard. Sementara paman dan bibi Nicholas yang tadi ikut sarapan di meja keluarga merupakan paman dan bibi Nicholas yang berasal dari keponakan William. Vannesya merasa sedikit canggung ketika tadi William memperkenalkan dirinya kepada anggota keluarga Willson. Pria tua itu memperkenalkannya sebagai calon cucu menantu yang akan menikah dengan Nicholas.
Tentu saja, banyak dari anggota keluarga Willson yang sedikit tidak percaya. Apalagi setelah melihat bagaimana William memperlakukan Vannesya dengan sangat baik, William dan Vannesya juga terlihat dekat. Mengingat bagaimana sikap William yang tidak terlalu ramah pada orang yang bukan anggota keluarga, membuat mereka takjub, dan menyadari kalau Vannesya benar-benar akan menjadi calon cucu kesayangan pria tua itu.
Sementara untuk Nicholas, mereka juga tidak menyangka kalau pria itu bisa dekat dengan wanita. Mereka semua tahu bagaimana sifat Nicholas yang tidak ada bedanya dengan William. Sama-sama kaku dan dingin.
Vannesya menikmati hidangan penutupnya seorang diri di meja. Nicholas diajak William untuk bertemu dengan beberapa kenalannya di dunia bisnis. William benar-benar ingin Nicholas mengetahui dunia bisnis sejak awal. Vannesya memakan cake dengan lumuran coklat, menikmati makanan penutupnya dengan tenang. Sebelum ketenangannya terusik, karena kehadiran seorang wanita yang tidak ingin ia tanggapi.
“Kau kelihatan bangga karena berhasil memacari Nick.”
Vannesya mengangkat sedikit matanya dari cake coklat yang sedang ia nikmati. Orang yang baru saja bicara sinis padanya ini adalah Laura—wanita yang semalam mencium Nicholas dengan tidak tahu diri. Vannesya membiarkan wanita itu mengoceh, tidak berniat untuk membalas ucapannya.
“Ck, kau bahkan kelihatan sombong.” Laura berdecak karena Vannesya tidak mempedulikan kehadirannya, wanita itu hanya memakan cake dengan tenang. Laura menilai wanita yang menjadi kekasih Nicholas. Meskipun tidak suka untuk mengakuinya, namun Laura harus mengakui, Vannesya adalah wanita muda yang sangat cantik. Dia mempunyai aura yang sama dengan Nicholas. Orang-orang yang tidak mengenal Vannesya pasti akan merasa segan berdekatan dengan wanita ini.
Laura meminta dibuatkan jus jeruk kepada pelayan yang lewat, dan tidak lama jusnya diantar oleh pelayan yang sama. Wanita yang pagi ini tampil cantik dengan gaun biru tersebut, meminum jusnya dengan gerakan anggun. “Berapa usiamu sekarang?”
Laura memperhatikan Vannesya yang tidak juga menganggapi. Dia berdecak kesal. “Ah, karena kau lebih muda dari Nick—aku tebak, saat ini usiamu tujuh belas tahun. Benar?” Laura merapikan rambutnya yang tidak berantakan sama sekali. “Dengan usia semuda ini, kau sama sekali tidak cocok dengan Nick.” Laura mengumbar senyum pura-pura miris. “Kasihan sekali, Nick harus berpacaran dengan anak kecil sepertimu.”
Vannesya berhenti makan, meminum sedikit jus apelnya, ia menatap Laura dengan tenang. Tidak lama Vannesya tersenyum miring. “Lantas menurutmu Nick lebih pantas berpacaran dengan wanita yang lebih tua sepertimu?” Vannesya tertawa culas, membuat Laura berkerut. Tidak menyangka kalau wanita ini bisa bersikap angkuh. “Kalau kau kasihan karena Nick berpacaran dengan anak kecil sepertiku. Maka aku lebih kasihan lagi, jika Nick harus berpacaran dengan wanita tua sepertimu.”
KAMU SEDANG MEMBACA
ENVELOVE
Teen FictionKarena kasus bullying, Vannesya Morris dipindahkan ayahnya ke New York. Vannesya mengira kehidupan barunya di Negeri Paman Sam tersebut akan membawa perubahan yang signifikan. Menjadi anak sekolahan yang baik dan tidak peduli dengan kehidupan New Yo...
