Bab 23 : What is love?

1.8K 141 2
                                        

***

Ada hal yang sulit di mengerti, tapi mudah di rasakan. Dia 'Cinta'

*
*
*

Hari ini para anggota Osis sedang melaksanakan rapat untuk merundingkan perihal perayaan hari kemerdekaan. Kenan selaku ketua Osis, membuat susunan acaranya. Dari mulai upacara bendera hingga akhir acaranya.

"Apa aja lombanya, Na?" tanya Kenan pada sekertaris.

Naina maju ke depan dengan membawa laptopnya. Mencolokkan kabel proyektor hingga menampilkan sederet kalimat di layar putih. "Data ini masih sama, sama lomba taun lalu," ujar Naina.

Daftar lomba 17 Agustus :
–Golf
–Lari estafet
–Memanah
–Bowling
–Basket
Volly
–Cerdas cermat

Dengan teliti, Kenan melihat jadwal. "Golf sama Bowling nya di hapus aja. Nguras waktu, taun kemarin aja kakak kelas keteteran."

Naina mengangguk, ia segera menghapus Golf dan Bowling dari daftar lomba. Ia setuju saja karena memang tahun lalu anggota Osis keteteran hingga berakhir terkena hukuman dari guru. Sebenarnya anggota Osis tidak salah, yang salah itu para murid yang meminta agar di adakan lomba Golf.

"Berarti lombanya ini aja?" tanya salah satu siswi anggota Osis.

"Yah, mana seru," celetuk seorang gadis yang baru saja memasuki ruang Osis itu. Tidak sopan memang, tapi begitulah sifatnya.

"Ngapain lo disini? Minta di hukum lagi? Ini rapat anak Osis, anak rimba nggak usah ikutan," ketus seorang siswa.

Letta memutar bola mata malasnya, dengan pedenya ia menarik salah satu kursi dan duduk dengan santai. Kaki kanannya bertumpu pada kaki kirinya. Punggungnya menyandar sempurna di sandaran kursi, menambah rasa nyaman ketika posisi duduk.

Letta membaca satu persatu list lomba yang akan di adakan. "Lombanya segini doang? Gue kasih usul deh, itu yang dua lagi isi aja lomba makan kerupuk sama kelereng," usul Letta santai.

Naina dan para anggota Osis lain bersitatap satu sama lain. Tak kuasa menahan tawanya, mereka tertawa renyah, menertawakan ide Letta. Lomba makan kerupuk katanya. Astaga, pemikiran Brandalan ini terlalu kolot rupanya. Dia pikir ini perlombaan anak SD? Yang benar saja, sekolah besar seperti AHS mengadakan lomba makan kerupuk.

"Ahahahah, nggak sekalian lomba makan gudeg?" ceplos Naina di sela-sela tawanya.

"Iya, nggak sekalian aja tuh lomba ngitung beras," tambah seorang siswa berkacamata.

"Atau, lomba nangkep anak ayam. Kan seru tuh, ntar hadiahnya kulkas lima pintu," timpal anggota Osis yang lain. Yang berhasil mengundang gelak tawa yang memenuhi seisi ruangan.

Letta terdiam menahan kesal, yang mereka ucapkan tadi bukan usulan tapi ejekan, dan Letta tau itu. Tapi memangnya apa yang salah? Lomba makan kerupuk kan seru. Pikirnya.

Para anggota Osis itu masih belum menghentikan tawanya, sampai-sampai rasanya Letta ingin membogem mulut mereka satu persatu. Sebenarnya Letta bisa saja melakukannya sekarang, tapi mengingat dia saat ini berada di sekolah, jadi sebisa mungkin Letta menahan emosinya. Kalau saja saat ini ia sedang berada di markas dan ada yang berani menertawakan nya, maka sudah bisa di pastikan. Orang yang berani menertawakan nya akan rata dengan tanah.

"Ada yang lucu?" tanya Kenan dengan wajah datarnya. Hanya dia yang tidak tertawa sedari tadi. Mungkin menurutnya tidak ada hal yang lucu.

Anggota Osis pun seketika menutup mulut rapat-rapat, tidak berani tertawa lagi. Naina pun berhenti tertawa, ia kemudian menatap Letta tidak suka. "Mending lo keluar deh, lo nggak berkepentingan kan?"

4 Girls [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang