Bab 48 : Pasar Malam

1.7K 131 3
                                        

***
Tenang. Kalian tidak akan gila hanya karena sebuah masalah yang masih bisa di selesaikan.

*
*
*

"Assalamualaikum, Ibu." Tangan Anya membuka pintu rumah. Melangkah masuk meskipun tidak ada yang menjawab salamnya. Sekarang baru pukul enam sore, mungkin Ibu sedang sholat magrib.

Anya mendudukkan dirinya di kursi belajar setelah selesai bebersih diri. Dia mengambil kertas dan menyalin poin-poin yang sempat ia potret tadi sore. Merasa ada yang membuka pintu, buru-buru Anya menimpa kertas itu dengan buku paket.

"Anya, kamu udah pulang? Kok tumben cepet," ujar Sifa setelah memasuki kamar. Dia mengelus rambut putrinya halus. "Kamu udah makan? Makan dulu, gih."

"Udah, kok, Bu. Ini Anya mau lanjut belajar, aja."

"Ya udah, jangan capek-capek. Ibu mau lanjut nyetrika," tutur Sifa, kemudian berdiri dan meninggalkan kamar itu. Membuat Anya diam-diam menghela nafas lega.

Anya kembali menyingkirkan buku paket itu, membuat ringkasan dari hasil dugaannya. Dari data yang ada, informasi yang di peroleh yaitu : 1. NC group menang tender atas proyek pembangunan hotel di Aceh. 2. Perebutan tender melibatkan lima perusahaan. 3. Ada sekitar tiga orang yang menemui Pak Nando di malam hari sebelum kejadian. 4. Sejak dahulu rival bisnis NC adalah Bramara group.

"Oke, poin pertama yang harus gue cari adalah lima nama perusahaan yang ikut dalam perebutan tender di Aceh beberapa tahun silam. Yang ke dua, gue harus cari tau lebih dalam tentang Bramara group." Anya mengambil kesimpulan, dalam kondisi seperti ini, Anya tiba-tiba teringat kasus kecelakaan ayahnya.

Kak Vano udah dapet alamat sopir truk itu belom, ya? batinnya bertanya-tanya.

Tidak sampai di situ, Anya jadi teringat struk tagihan listrik yang tadi sempat ia cabut karena tertempel di pintu. Anya merogoh saku jaketnya dan mengambil kertas itu. Lagi-lagi Anya di buat menghela nafas panjang ketika melihat nominal yang lebih banyak dari bulan sebelumnya.

Meletakkan kertas itu ke meja, Anya mengambil ponselnya dan menelusuri laman lowongan kerja. Cukup sibuk jemari Anya berselancar di layar, lagi-lagi Anya di buat terdiam ketika netranya melihat pembatas buku. Anya mengambil buku itu dan membuka halaman yang di batasi. Anya belum mengerjakan PR nya.

Menghela nafas sejenak, Anya mengambil pulpen dan mulai mengerjakan tugasnya. Masalah pekerjaan, dia bisa pikirkan nanti. Masalah tagihan, dia bisa bayar nanti. Masalah kasus ayah, dia bisa urus nanti. Masalah om Nando, dia bisa urus lagi nanti.

Bagi Anya, belajar itu penting. Selagi tidak terlilit hutang, punya rumah dan masih bisa makan. Dia masih bisa mempertahankan kewarasannya.

****

"Lo yakin jalan sini aman?" tanya Vano sembari memerhatikan sekitar sekolah yang sudah sepi. KBM sudah di mulai sejak 15 menit yang lalu, dan sekarang, Vano tengah meminta bantuan Letta untuk bisa membolos pelajaran.

Letta lagi-lagi memutar bola mata malasnya. Dia berdecak. "Aman, udah lo tenang aja napa sih, Bang!"

"Ya gimana mau tenang! Ni sekolah banyak CCTV nya."

"Udah, lo ikut aja. Gue apal jalan yang aman!"

Vano tanpa banyak protes lagi tetap mengikuti langkah Letta. Sebenarnya dia tak cukup yakin mengingat adiknya ini seringkali ketahuan saat akan membolos pelajaran. Tapi, untuk saat ini tidak ada cara lain.

4 Girls [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang