Bab 14 : Keganasan Violetta

2.1K 155 2
                                        

***

Cuman gue yang paham sama diri gue sendiri. Tapi, Kenapa gue masih ngerasa butuh pengertian dari orang lain....

*
*
*

Setelah berunding soal rencana di rooftop tadi, Saci memberanikan diri menghampiri Anya yang sedang bermain piano, ia tadi diberitahu oleh teman sekelas Anya kalau Anya sedang ada di gedung kedua. Tanpa basa-basi dia segera menghampiri gadis berwajah dingin itu.

Dibukanya pintu ruang musik itu, bisa ia lihat seorang gadis tengah memainkan piano dengan lihainya. Saci berjalan mendekat, saat akan menepuk pundak Anya, dengungan dari piano terdengar nyaring kala ditekan oleh pemain dengan kerasnya.

"Kenapa?" tanya Anya tanpa membalikkan badannya.

Sepertinya dugaan Saci benar jika Anya sedang marah besar padanya, mau bagaimanapun kemarin ia sudah berbohong pada Anya.

Di garuknya tengkuk yang tidak gatal itu. "A-anu, g-gue, anu," kikuk Saci. Tiba-tiba ia kehilangan keberanian untuk mengucapkan kata maaf, ditambah hawa dingin dari Anya yang mendominasi.

"Cara lo kemarin, kekanakan," ungkap Anya, ia beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Saci. Namun langkahnya terhenti saat Saci berucap, "maaf, g-gue minta maaf. Niat gue baik kok."

"Gue tau, tapi ...." Anya ingin marah, tapi entah kenapa ia tak bisa meluapkannya, apa mungkin karena selama ini dirinya tak pernah berurusan dengan seseorang.

"Gue bakal jelasin semuanya, nanti malem jam 7, lo mau kan ke rumah gue?"

"Gue kerja kalo lo lupa."

"Iya juga, ya. Atau gini aja deh, lo kerja aja ntar gue beli pizza ditempat lo, jadi sekalian aja gitu," tawar Saci memberikan solusi.

Anya mengangguk sekilas kemudian berlalu meninggalkan Saci yang diam-diam menghela napas lega.

Mumpung masih di gedung kedua lebih baik Saci mencari Nayla sekalian. Di jam istirahat begini biasanya Nayla akan melatih skillnya dibidang lain, kalau pulang sekolah sih sudah pasti dia akan berlatih basket.

Sibuk mengelilingi gedung, ekor matanya tak sengaja menangkap sosok yang familiar sedang bermain panah. Senyum manis mengembang di bibirnya, dengan perlahan Saci mendorong kayu berbentuk kotak yang menjadi akses keluar masuk ruangan itu. Ternyata tidak hanya Nayla yang sedang bermain panahan, banyak murid-murid lainnya yang juga bermain panahan.

"Nay," sapa Saci menepuk pundak Nayla membuat sang empu membalikkan badannya kaget.

"Eh, Ci. Ngapain?" tanya Nayla.

Saci mendadak cengo, kenapa jadi begini, ini tidak sesuai ekspektasinya. Harusnya kan Nayla marah padanya, ini kenapa malah biasa saja seolah tidak terjadi sesuatu.

Nayla mengibaskan tangannya didepan wajah Saci dan berhasil membuyarkan lamunan gadis itu. "Ci, Ngapain? Kok malah ngelamun sih, ti-ati ntar kesambet lagi."

"E-e elo, nggak marah sama gue? Kan kemarin ...."

Nayla tersenyum kecil. "Gue tau niat lo baik, lain kali jangan pake cara kayak gitu, kekanakan. Gue sih biasa aja, temen lo yang lain noh, gimana?"

"Hehe, tau aja lo. O iya, nanti malem mau nggak main ke rumah, jam 7, ya," tawar Saci penuh harap.

"Emm gimana ya, boleh. Tapi gue izin dulu sama Nenek."

Mata Saci tampak berbinar senang. "Iya, iya. Nggak papa, kabarin aja nanti. Kalo gitu, gue duluan masih ada urusan. Dadaah," pamitnya setelah mendapatkan jawaban yang di inginkan dari Nayla.

4 Girls [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang