Bab 56 : Pernyataan Vano

1.8K 144 5
                                        

***
Ada kok, orang yang mendem masalahnya sendiri padahal punya sahabat.

*
*
*

Tidak sulit untuk mencari seorang Kenan di sekolah yang sebesar ini. Menjabat sebagai ketua Osis membuat Letta dengan mudah menemukannya.

Sudah Letta duga, pemuda itu pasti sedang berada di ruang Osis pagi ini. Dengan santai, Letta mendudukkan diri di salah satu kursi di sana.

"Ekhem ... mejanya udah ganti aja nih," celetuk Letta mengamati meja baru di hadapannya.

Kenan mengalihkan pandangannya dari laptop. Seketika dia berdiri dan menarik tangan Letta agar menjauh dari ruang Osis. Sungguh, dia tidak akan lupa bagaimana si bar-bar itu berani merobohkan meja rapat.

"Ngapain lo di sini?" tanya Kenan menaikkan alisnya sebelah. Kini keduanya berada di depan ruang Osis.

Letta mengganti cekalan Kenan, yang tadinya pemuda itu mencekal tangannya, bergantian dia yang mencekal tangan pemuda itu. Si bar-bar membawa Kenan ke taman belakang, karena di depan ruang Osis cukup ramai siswa-siswi.

"Gue mau ngomong. Penting," cetus Letta melepaskan cekalan nya.

Kenan tak banyak bicara, dia hanya menaikkan alisnya sebelah dan menunggu gadis itu berbicara.

Sebelum berbicara, Letta menoleh ke kanan-kiri, memastikan tempat itu sepi. Dia menatap manik mata Kenan, berjalan dua langkah mendekat. Membuat tubuh pemuda itu gugup dan berdebar di saat yang bersamaan. "L-lo mau ngapain?"

"Lo beneran guy, ya?!" tunjuk Letta tepat di hadapan Kenan. Tangannya beralih mencengkeram kerah baju Kenan dan menggerakkannya ke depan-belakang. Membuat tubuh lelaki itu terombang-ambing. "Woy! Jawab! Lo, guy?! Lo beneran suka sama Vano? Jawaaaab!"

"Stop!" seru Kenan menurunkan tangan Letta. Dia kembali merapikan bajunya yang lecek.

"Sumpah, Ken. Tampang lo tu kayak orang bener, nggak nyangka gue kalo ternyata lo tu belok. Mana masih muda lagi, lo nggak kasian sam——"

Kenan menarik tangan Letta dan memojokkan gadis itu di dinding. Mempersempit jarak, hingga tersisa beberapa centimeter di antara kedua hidung mereka.

"Jangan fitnah, kata siapa gue guy?" Tidak ada nada marah dalam kalimat Kenan. Hal itu berhasil membuat Letta gugup. Umumnya, kalau seseorang di tuduh, dia akan marah. Tapi kenapa Kenan tidak?

Letta menelan ludah. "Kata gue, lagian semuanya udah ke bukti kali."

Kenan hanya diam sembari menaikkan alisnya sebelah. Membuat Letta semakin di landa gugup. "U-udah ke bukti, kok. Pas di rumah hantu waktu itu, terus juga kemarin, yang lo minum air dari Vano buat gue. Sama, lo selalu kesel kalo gue deket sama Vano. Udah ke bukti, kan sekarang?"

Tidak ada balasan, Kenan hanya diam seraya mengamati wajah gugup gadis di depannya ini. Menurutnya, sangat lucu. Sial! Gelenyar aneh apa yang ia rasakan ini.

Mengalihkan pandangan, Kenan menyentil kening Letta. "Kebanyakan baca novel BL lo? Lagian ...." Kenan menjeda ucapannya, dia mengarahkan wajahnya ke samping telinga gadis itu. "Gue juga bingung ngapain gue nggak suka kalo lo deket-deket sama Vano. Lo ada alesan lain nggak ... Vio?"

4 Girls [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang