***
Kalau kepercayaan adalah dasar dari sebuah hubungan. Maka penghianatan adalah sebuah bom kehancuran.
#Bukan_mimpi
*
*
*
Tiga troli sudah penuh dengan jajanan, setelah menghabiskan waktu yang cukup lama. Kini mereka sedang mengantre untuk membayar, hari ini cukup ramai yang berbelanja, membuat mereka harus sedikit lebih sabar.
Kini tiba giliran mereka, pertama troli milik Nayla dan Regan dulu, di susul milik Saci dan Agam. Ke empatnya berdiri menunggu penjaga kasir mendata. Sementara masih ada satu troli terakhir yang belum di data.
Atensi ke empatnya teralihkan pada sosok ibu-ibu yang tiba-tiba datang menghampiri. Wanita itu tersenyum sumringah seraya mendekati Agam. "Eleh-eleh, kasep pisan," ujarnya dengan bahasa Sunda. Dia meraba rahang kokoh Agam, membuat sang empu risih dan sedikit menjauhkan wajahnya.
"Nak, ganteng. Mau nggak jadi mantu saya, anak saya cantik lho." Ibu itu mengambil ponselnya dan menunjukkan satu foto perempuan muda dan cantik. Usianya mungkin sama dengan Agam.
Sedikit penasaran, Saci mengintip. Benar saja, melihat foto perempuan cantik itu Saci merasa terbanting ke pelosok gorong-gorong. Wajahnya berubah masam.
"Mau, ya? Usianya kayaknya sama deh sama kamu," tawar Ibu itu lagi. "Anak saya cantik, kamunya ganteng. Cocok atuh, si cantik milik si ganteng."
Agam masih diam tak membalas, bingung juga mau membalas apa. Terlanjur kesal, Saci maju selangkah, dia tersenyum simpul. "Eh, Ibu. Anaknya cantik ya, Bu?" Saci melirik Agam. "Lo mau?"
Agam mengerjab. Meskipun berusaha tenang, nyatanya Saci tak pandai menutupi rasa cemburunya. "Dia cantik, kan?"
Jawaban Agam membuat teman-temannya membulatkan mata, sementara Saci mengerutkan alisnya kesal.
"Tuh, kan. Anak saya cantik, cocok kok," sahut Ibu-ibu itu.
"Enggak, Bu," balas Saci memperlihatkan senyum tipis nya.
"Loh, kenapa?" tanya Ibu itu sedikit terkejut.
"Soalnya si ganteng udah ada yang punya. Si ganteng punya si manis Bu, bukan punya si cantik." Saci merangkul lengan kekar Agam, mendongak seraya tersenyum manis, sangat manis sampai-sampai jantung Agam berdebar kencang. "Iya, kan? Gantengnya Saci?"
Mata Saci mengerjab lucu, membuat tubuh Agam serasa tersengat aliran listrik. Tanpa bisa di cegah, dia tersenyum geli bersamaan semburat merah merayap di sekitaran pipi dan telinga. Dia melting.
Ya Tuhan, kenapa pacarnya ini sangat manis kalau sedang cemburu. Sial!
Tubuh Saci menegang kala Agam tiba-tiba saja memeluknya di hadapan banyak orang. Sedangkan pemuda itu sendiri kini sedang menyembunyikan telinganya yang ia yakini sudah memerah.
Saci kembali memaksakan senyumnya. "Eh, maaf, Bu. Ganteng yang ini udah sold out."
Ibu itu menurunkan bahunya lesu, kemudian sedikit berbinar ketika melihat Regan yang fokus pada belanjaan. Menyadari itu, Nayla refleks merangkul lengan Regan.
Ibu itu kembali lesu. "Ya sudah, sepertinya sudah ada yang punya semua," ujarnya kemudian melenggang pergi.
"Loh, Bu. Saya masih jomblo ini," pekik Vano ketika Ibu itu sudah berjarak cukup jauh.
KAMU SEDANG MEMBACA
4 Girls [ END ]
Teen FictionApa jadinya jika 4 gadis berbeda karakter dijadikan satu??? Ada tiga kemungkinan: 1.Kemungkinan pertama, mereka akan saling cakar mencakar alias nggak akur. 2.Kemungkinan kedua mereka akan saling diam seperti orang asing. 3.Dan kemungkinan yang ke t...
![4 Girls [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/339637934-64-k432437.jpg)