Bab 30 : Perlawanan Saci

1.8K 146 1
                                        

***
Aku pikir semua orang juga tahu. Kalau seorang monster itu terlahir dari orang baik yang sering di sakiti.

*
*
*

Masih kejadian di kantin, Nayla kembali ke tempat duduknya. Namun kepalanya masih menoleh pada Regan, kemudian kepalanya di gerakan sedikit menoleh pada mejanya sendiri seolah memberitahu Regan agar segera berdiri dan menghampiri.

Rahang Regan semakin mengeras dengan cengkraman pada bola yang juga semakin menguat. Dengan sekuat tenaga menyingkirkan rasa malunya yang meroket, Regan berdiri dari duduknya. Hal itu sontak membuat wajah teman-teman nya terkejut untuk ke dua kalinya.

"Regan, lo-" Shela tak bisa berkata-kata. Tidak mungkin 'kan?

Regan berjalan menghampiri meja Nayla. Tatapannya menghunus tajam gadis itu, namun tak di hiraukan oleh Nayla. "Apa?" tanyanya to the point.

Nayla menoleh pada teman-teman nya dan kepada Saci yang berdiri mematung. Dia berdehem sejenak. "Babu pinter. Oke, pesenin gue ... satu porsi nasi goreng, satu seblak ekstra pedas, dua porsi bakso tanpa seledri, satu mie ayam, dua porsi onion ring, tiga es teh, tiga botol air mineral, dua jus mangga, lima kue sus, satu chocolate cake, satu strawberry cake, sama seporsi kentang goreng."

Semua orang di buat menahan nafas karena pesanan Nayla yang tidak main-main banyaknya. Letta sendiri melotot saking herannya. Balas dendam sih balas dendam, tapi siapa yang akan memakan semua makanan yang di pesan itu?

"Heh! Lo apa-apaan nyuruh-nyuruh Regan kayak gitu?!" desak Shela ngegas.

Nayla memutar bola mata malasnya tidak menanggapi. Cewek itu tidak sadar apa? Semua ini kan berawal dari perbuatannya sendiri.

Agam menghela nafas gusar saat melihat Regan patuh-patuh saja dengan perintah Nayla. Tak berselang lama semua pesanan Nayla sudah tertata rapi di meja. Beruntung, Regan cukup pintar hingga sederet pesanan Nayla mudah ia hafal.

Nayla tersenyum sumringah saat makanan yang di sajikan tampak menggiurkan. Saci yang berdiri di antara kedua meja tersebut menatap ngiler pada makanan di meja teman-temannya. Namun lagi-lagi dia hanya bisa menelan ludah. Saci berjongkok karena kakinya pegal. "Nggak ada yang nyuruh lo jongkok, berdiri!" titah Agam yang langsung di turuti Saci.

"Berenti!" Instruksi dari Nayla membuat langkah Regan berhenti. Regan berbalik badan.

"Nggak ada yang nyuruh lo balik," kata Nayla sedikit melirik Agam. Niatnya agar pemuda itu membiarkan Saci duduk, tapi sepertinya pemuda itu tidak peka.

"Nya!" panggil Nayla pada Anya namun pandangan nya tak lepas dari Regan.

"Hm."

"Enakan mana, kayang, apa sikap lilin?" tanya Nayla memberikan pilihan pada Anya. Tak lupa kedua alisnya yang di naik turunkan. Membuat Regan kembali mengeratkan rahangnya.

"Nayla, lo gila?!" sentak Aji tak habis pikir. Tidak mungkin kan, Nayla akan menyuruh Regan melakukan kayang atau sikap lilin di sini. Bisa malu tujuh turunan kalau benar begitu.

"Lo jangan kelewata-"

"Ya, ampun! Saci, pasti pegel ya berdiri kayak patung gini?" Nayla memotong perkataan Regan, dia berdiri dan merangkul pundak Saci. Sekarang dia yakin, Agam mengerti maksudnya.

"Aduh, twemen gue... Gue yakin kwaki lo kwesemwutan nih, Ci. Yang sabar, ya. Semoga majikan lo peka," sahut Letta yang ikut memanasi. Tak lupa segelinding bakso yang sedang ia kunyah.

Agam dan Regan beradu pandang. Agam dengan tatapan tajamnya dan Regan dengan tatapan datar namun pasrah. Daripada Regan di buat semakin malu lagi, Agam memilih untuk mengalah. Remaja itu berdehem. "Lo, boleh balik!" katanya.

4 Girls [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang