***
Mereka bilang kemenangan itu akan selalu aku dapatkan, tapi mereka juga lupa bilang bahwa kemenangan ku bisa di rebut oleh orang lain kapan saja.
*
*
*
Akhirnya babak final di mulai hari ini. Para peserta yang memasuki babak final untuk mewakili kelas masing-masing kini sedang sibuk mempersiapkan diri. Begitu juga dengan panitia lomba. Para anggota Osis di buat semakin sibuk setiap harinya.
Perebutan juara 3 besar pada masing-masing lomba di mulai hari ini. Jadwal yang baru juga sudah di berikan pada ketua kelas. Shela menghampiri kelas Anya untuk sekedar menyapa teman-temannya. "Agam, Regan! Hai," sapa Shela melambaikan tangan.
Regan tersenyum tipis kemudian menyapa Shela. "Hai!"
Berbeda dengan Regan yang tersenyum, Agam hanya mengangkat kedua alisnya sebagai jawaban. Shela sudah terbiasa dengan hal itu. Ia meletakkan sebotol minuman di meja Agam dan memberikan sebotol minuman pada Regan. "Nih! Biar makin semangat."
Bohong jika Regan tidak senang dengan perlakuan Shela. Gadis itu selalu memberikan perhatian walaupun hanya hal kecil. Regan menerima botol itu sembari mengangguk. "Thanks."
Shela tersenyum kecil. "O iya, kelas kalian, final nya apa aja?"
"Semuanya masuk final, kecuali Balap karung, Volly putra, sama Basket putri."
Shela membulat kan bibirnya. Atensi semua murid teralihkan pada seseorang yang baru saja memasuki kelas dengan semangat. "Guys! Pokoknya kita harus geret juara lagi! O iya, persiapan nya kelar kan?" tanya ketua kelas.
"Beres, Pak ketu."
"Apa lagi ya... O, ini. Nya! Seperti biasa ya. Dukungan sekelas seratus persen buat lo. Bawa juara 1 kayak taun lalu, oke?"
Anya melepaskan salah satu earphone yang menyumpal telinga. Mengangkat dagunya sejenak tanda mengiyakan.
Shela menoleh pada Regan dan tertawa kecil. "Dia, kayak lo sama Agam, ya. Dingin!"
Regan mengangguk sebagai jawaban, tangannya mengacak rambut Shela gemas. Hal itu sukses membuat Shela merengut kesal. "Jangan di berantakin, jelek tau."
"Siapa yang bilang?"
"Ya, ada. Emangnya nggak jelek?"
Regan menggeleng, lalu merapikan surai coklat Shela. Menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga. "Cantik."
Shela membelalak, lalu menepuk tangan Regan. "Hush!"
Pandangan Shela beralih pada beberapa siswi yang duduk di kursi belakang. Ia mengerjabkan mata, melihat siswi-siswi itu menggigit tas. Ada juga yang menggigit jari. "Kenapa?" tanyanya tanpa dosa.
Salah satu siswi berdiri dan mengipasi wajahnya dengan tangan. "Wah! Siapa yang nyuruh lo, nebarin ke-uwuan di kalangan para jomblo?!"
"Panas, Mak! Astaga."
"Iriiii! Gue juga pengen."
Shela menatap heran ke arah siswi-siswi itu. Perasaan, tidak ada yang spesial. Shela sudah terbiasa dengan sikap Regan, jadi mungkin hal itu yang membuat nya merasa tidak ada yang spesial.
"Anya! Di cariin Letta." Dari arah pintu, seorang gadis mungil berlari menghampiri meja Anya sembari memegang ponsel di tangannya. Karena terlalu bersemangat, ia sampai tak tahu kalau dia baru saja menginjak kaki seseorang saat melewati mejanya.
Nayla yang mengekori Saci menggelengkan kepalanya. Untung mereka mengenakan seragam sekolah yang sama. Jika tidak, orang-orang pasti akan mengira, kalau dia sedang menjaga adiknya yang masih SMP.
KAMU SEDANG MEMBACA
4 Girls [ END ]
Teen FictionApa jadinya jika 4 gadis berbeda karakter dijadikan satu??? Ada tiga kemungkinan: 1.Kemungkinan pertama, mereka akan saling cakar mencakar alias nggak akur. 2.Kemungkinan kedua mereka akan saling diam seperti orang asing. 3.Dan kemungkinan yang ke t...
![4 Girls [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/339637934-64-k432437.jpg)