***
Ibarat air danau yang terlihat tenang, tapi bukan berarti tidak ada bahaya di dalamnya.
*
*
*
Pukul 06.15 WIB. Masih terlalu pagi bagi siswa-siswi untuk berada di sekolah. Namun hal itu hanya berlaku untuk siswa-siswi lainnya. Berbeda dengan Anya yang kini sudah anteng di mejanya.
Gadis itu sibuk mengerjakan PR nya yang belum selesai ia kerjakan. Dan hal ini adalah untuk yang pertama kalinya. Anya menghela nafas gusar. Selama 3 hari ini dia terlalu sibuk hingga melupakan PR nya.
Semenjak Saci memberikan alamat itu, Anya jadi sedikit terganggu dengan kegiatan belajarnya. Hingga sekarang waktu menunjukkan pukul 06.45 WIB. Anya sudah selesai mengerjakan tugas-tugas nya.
Gadis itu merenggangkan otot-otot leher dan tangannya setelah menutup buku. Memandangi ke arah pintu cukup lama. Sampai dia teringat sesuatu. Anya membuka tasnya dan mengambil map plastik berwarna hijau yang ia bawa.
Membuka map itu dan menarik beberapa lembar kertas. Anya membaca sekilas kertas itu dan kembali memasukkan nya ke dalam map. "Gue harap semuanya bakal lancar," gumamnya.
"Aamiin!"
Anya terperanjat saat ada yang menyahut ucapannya tepat di samping telinga kanannya. Gadis itu menoleh dan sedikit menjauhkan wajahnya. "Lo, ngapain di sini, Kak?"
Vano menampilkan sederet gigi putihnya. Menunjukkan kotak makan yang sedari tadi ia bawa. "Nih! Gue bawain lo sarapan."
"Nggak perlu, gue nggak butuh belas kasihan." Masih seperti biasa, Anya terus menolak.
Bahu Vano meluruh bersamaan dengan senyum nya yang kian memudar. Namun Vano tak menyerah, pemuda itu kembali tersenyum manis. "Tapi gue ikhlas kok, lo pasti belum sempet sarapan, kan?"
Anya menghela nafas lelah, butuh berapa banyak kata untuk mengingatkan pemuda ini agar tak mengganggunya? Cara apa lagi yang harus Anya gunakan agar pemuda ini enyah?
Terdengar kejam, tapi Anya tak peduli. Dia tidak suka di ganggu oleh pemuda ini. Anya mengambil kotak makan itu. "Ikhlas, kan?"
Vano mengangguk antusias dengan senyum nya. Namun lagi-lagi senyum itu harus luntur saat Anya memberikan kotak makan itu pada teman sekelas gadis itu yang baru sampai.
Tak menghiraukan kotak makan itu, Vano segera berlari menyusul Anya yang sudah berjalan keluar kelas. "Kok di kasih orang lain sih?"
"Ikhlas, kan?"
"I-iya, ikhlas." Vano pasrah.
Saat tengah berjalan ke kantin, seorang siswa menghentikan keduanya. Tanpa bertanya 'ada apa' siswa itu memberi tau Anya jika gadis itu di minta ke kantor karena di panggil wali kelasnya.
Tanpa berlama-lama, Anya pun mengganti arah menuju kantor. Gadis itu membuka pintu, dan mengucap salam. Setelahnya dia duduk di kursi depan meja bu Anja. "Ada apa ya, Bu?" tanya gadis itu to the point.
Bu Anja tersenyum, dia menyatukan kedua tangannya di atas meja. "Begini, Nya. Buku kamu yang semester ini belum di bayar kan, ya? Maaf, terkesan buru-buru. Tapi, uang nya harus segera di setorkan. Tinggal kamu saja yang belum."
Anya mengangguk paham. "Iya, Bu. Insyaallah secepat saya bayar."
Bu Anja tersenyum simpul. "Makasih ya, Nya. Itu, saja. Sekarang kamu bisa kembali ke kelas," tutur Bu Anja halus.
KAMU SEDANG MEMBACA
4 Girls [ END ]
Novela JuvenilApa jadinya jika 4 gadis berbeda karakter dijadikan satu??? Ada tiga kemungkinan: 1.Kemungkinan pertama, mereka akan saling cakar mencakar alias nggak akur. 2.Kemungkinan kedua mereka akan saling diam seperti orang asing. 3.Dan kemungkinan yang ke t...
![4 Girls [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/339637934-64-k432437.jpg)