Bab 63 : Pengkhianat

1.7K 134 7
                                        

***
Pada akhirnya, pengkhianatan selalu menjadi bom penghancur sebuah hubungan yang paling dahsyat.

*
*
*

Selepas pulang dari panti, Anya segera mengganti pakaiannya menjadi lebih nyaman. Dan kini dia tengah berbaring di paha Ibunya sembari menonton TV.

Gadis itu memejamkan mata kala usapan lembut yang nyaman itu masih ia rasakan. Sampai dia teringat sesuatu, sesuatu yang mungkin akan membuat Ibunya marah padanya.

Anya membuka mata, kemudian duduk dengan benar. "Bu," panggil nya pada sang Ibu.

Sifa yang semula menonton TV menoleh. "Kenapa, Nya?"

"Anya mau ngomong."

Sifa terdiam sejenak, merasa pembicaraan putrinya cukup serius, dia mematikan TV. Wanita itu tersenyum tipis pada putrinya. "Mau ngomong apa?"

Diraihnya punggung tangan Sifa setelah menghela napas pelan. Anya menundukkan kepalanya. "Bu, Anya mau minta maaf. Anya selama ini nggak jujur sama Ibu," ujarnya lirih.

Sifa terhenyak, dia memeluk putrinya dan mengelus punggung gadis itu. "Memangnya kamu nggak jujur tentang apa?"

Air mata yang menggenang di pelupuk tak akan pernah Anya biarkan jatuh. Setelah mengontrol diri, Anya melerai pelukan.

"Sebelumnya Anya mau minta maaf." Anya menjeda ucapannya, dia menelan ludah. "Selama ini, tanpa sepengetahuan Ibu, diam-diam Anya cari tau tentang penyebab kepergian Ayah."

Kontan Sifa membulatkan matanya, emosinya tersulut. "Anya!"

"Anya minta maaf Bu, Anya——"

"Istighfar, Nak!" Sifa mengguncang kedua bahu Anya. "Kamu ini kenapa?! Ayah pergi karena kecelakaan! Ikhlasin, Nak!"

"Bukan Ibu! Kecelakaan Ayah di sengaja!"

Sifa berdiri. "Tau darimana kamu? Polisi saja sudah usut kasusnya, dan Ayahmu pergi karena kecelakaan itu. Astaghfirullah, ya Allah, Nak. Jadi selama ini kamu belum ikhlasin kepergian Ayah?" tandas Sifa tak habis pikir. Kecelakaan itu sudah bertahun-tahun lamanya dan dia kira Anya sudah ikhlas, tapi apa yang di lakukan putrinya ini?

Anya ikut berdiri. "Anya udah ikhlasin Ayah, Bu. Tapi Anya nggak tenang kalo kebenarannya belum ketemu."

"Kebenaran apa? Kamu ...."

"Kecelakaan Ayah di sengaja! Dan orang yang udah bikin Ayah celaka, adalah orang yang bikin Om Nando dan Tante Lyla tewas."

Sifa amat terkejut, darimana putrinya tau tentang Nando dan Lyla. Selama ini dia tak pernah memperkenalkan mereka. Dan apa tadi, Anya mengatakan kalau penyebab kepergian suaminya adalah orang yang menyebabkan kepergian Nando dan Lyla?

"Sahabat Ayah itu ... orang tuanya Nayla, Bu." Suara Anya bergetar. Dadanya sesak, namun tak ada air mata yang keluar.

Lagi, Sifa di buat terkejut. Air matanya luruh tanpa bisa di cegah. Dia syok sampai tak bisa berkata-kata. Anya tak suka melihat air mata Ibunya, dia memeluk sang Ibu dengan sayang.

"Bu, besok, Anya bakal serahin bukti-bukti yang Anya sama temen-temen dapetin ke Paman. Ayah dulu pernah bilang, kalo keadilan harus di tegakkan. Semoga setelah ini, pelakunya dapet hukuman yang setimpal, Bu."

4 Girls [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang