Dua

1.1K 60 1
                                        

Satu dari beberapa hal yang harus disegerakan dalam islam adalah menguburkan orang yang sudah meninggal tapi ternyata, hal ini cukup sulit dilakukan oleh keluarga Alif saat Hawa yang sedari tadi meronta-ronta di samping jenazah Alif.

Iya, ujung dari cerita cinta Aretha Hawa Wardhana adalah ditinggalkan.

Perempuan ini sudah mengalami banyak kehilangan sebelum ini, akan tetapi kehilangan kali ini tentu beda versi. Meski tak mengikrarkan berpacaran tetap saja hubungan kedekatan yang Hawa dan Alif jalin meninggalkan bekas. Mengklaim bahwa Alif nanti lah yang akan menjadi "rumah" nya selanjutnya tentu membuat perempuan itu tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Dimulai saat dokter mengatakan "rumah" yang belum sempat ia masuki itu sudah lebih dulu luruh, detik itu pula luka tak terlihat tergores besar di tubuh Hawa. Mimpi akan menua bersama kandas bahkan sebelum dimulai. Bisa dipastikan setelah ini, Hawa bukan lagi orang yang sama.

Tak hanya Hawa yang menangis tanpa jeda. Ada pula Manda yang sejak tadi juga melakukan hal yang sama. Matanya memerah dan terlihat seringnya ia mengusap bagian wajahnya yang terlihat itu. Meski tak bisa menebak langsung bagaimana raut wajahnya saat ini tapi bisa dipastikan jika ia tak kalah sedih dengan Hawa. Sodara satu-satu yang Manda punya setelah kepergian kedua orang tua nya, tentu menjadi luka tersendiri bagi Manda. Kembali harus mandiri membuatnya merasakan kehilangan yang tidak hanya sedikit.

"Kami harus segera membersihkannya Pak" Kata dokter yang sedari tadi menyaksikan kami menumpahkan rasa kehilangan itu.

Adit yang merasa memang sudah terlalu lama mereka meratapi semua ini, lebih dulu memberi kode ada Arion untuk segera membawa para perempuan keluar dari ruang keramat itu.

Berjalan lebih dulu menatih sang istri, Adit kembali mendudukkan diri di kursi tunggu tadi lagi. Berikutnya Arion juga melakukan hal yang sama pada Hawa, namun belum sampai langkahnya menjangkau pintu, kepalanya berputar saat menyadari bahwa Manda tidak mengikuti mereka untuk keluar dari ruang gawat darurat itu. Perempuan itu hanya diam mematung di depan jasad sang kakak yang sudah terbujur kaku.

Tak ingin kembali membuat Hawa juga melakukan itu, Arion memilih meneruskan langkah kakinya sampai luar dan  meninggalkan Manda sendiri di dalam sana.

Hawa, Arion duduk kan tepat di sebelah sang papi, memastikan kenyaman sang adik lebih dulu lalu lelaki itu menekuk pelan kakinya di hadapan Maya, menghapus pelan air mata ibu sambungnya itu sambil berucap "Mi, di dalam sana masih ada orang yang harus ditolong tapi kemampuan Abang terbatas, Mami bisa gantiin Abang nolong orang itu?"

"Siapa?" Tanya Maya lirih.

"Adeknya Alif" Jawaban Arion membuat Maya memperhatikan sekitar. Maya hanya melihat Hawa yang sudah masuk kedalam dekapan Adit di sisi yang berlawanan dengannya, sedangkan perempuan yang Arion maksud tidak terlihat di ruang tunggu.

Sedikit membenahi dirinya dan mengusap habis air matanya, Maya akhirnya bangkit dan kembali masuk ke dalam unit gawat darurat, dimana di dalamnya masih ada jasad Alif, mendekat pada perempuan berbaju hitam yang tengah berjongkok di samping tempat ranjang maut Alif.

Manda menangis sambil menutup hampir seluruh wajahnya dengan telapak tangannya. Bahunya bergetar namun tak ada suara rintihan yang keluar dari bibirnya. Bisa dipastikan perempuan itu sedang menahan tangisnya agar tak terdengar orang lain.

Maya yang paham akan apa yang dirasakan adik dari menantu kilat nya itu, langsung memeluk tubuh Manda tanpa banyak kata. Mengelus pelan puncak kepala dan punggung Manda pelan, mencoba menyalurkan kekuatan yang tak kasat mata, memberi dukungan meski ia tahu, semua itu tak akan bisa mengembalikan air mata yang sudah tertumpah.

Sebagai mantan dokter, tentu Maya paham apa yang terjadi pada sang menantu termasuk penyebab kematian mendadak yang tidak bisa dielakkan terjadinya. Jadi sebanyak apapun usaha yang dilakukan, operasi sekalipun tidak akan membawa efek yang berarti apabila pendarahan tidak bisa dihentikan.

Mendapatkan pelukan tiba-tiba membuat Manda menatap si pemeluk dengan raut wajah sulit diartikan karena sejak tadi, tidak peduli sebanyak apa air matanya mengalir, Manda harus sendiri, namun hal itu tak membuat perempuan dengan wajah tertutup itu merasa kesal. Ia bahkan menenggelamkan dirinya dipelukan Maya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh dari perempuan berstatus ibu itu. Mengandaikan dirinya yang berada di posisi Hawa yang masih memiliki orang tua lengkap, pasti akan membuat sedikit hatinya terhibur.

"Ayo keluar Sayang" Ajak Maya, sambil mulai membantu Manda menegakkan diri.

Semua interaksi keduanya itu tak luput dari pandangan Arion. Melihat Maya seakan mempunyai dua anak perempuan, tentu membuatnya merasa lega. Walau tidak ikut berpartisipasi apapun tapi berhasil membawa Manda keluar dari ruang itu saja sudah cukup.

"Kamu gak sendiri" Ucap Maya tiba-tiba begitu Manda sudah itu berjejer duduk di kursi ruang tunggu "kamu punya kita sebagai keluarga kamu" Imbuh Maya.

Mata Manda menyempit tapi air matanya masih merembes deras. Perempuan itu terharu mendengar kalimat yang Maya ucapkan. Hidup menjadi anak yatim piatu membuatnya banyak melewatkan kasih sayang ibu di kehidupannya dan tentu saja tawaran Maya itu menjadikan angin sejuk tersendiri dalam hatinya.

Kembali melihat kesedihan tak hanya di versi sang adik dan mami nya membuat Arion mengingat pertemuan pertamanya dengan Alif. Sulitnya restu yang Arion berikan, membuat lelaki pilihan Hawa akhirnya nekat menemuinya di luar pertemuan keluarga mereka.

"Apa yang bisa kamu janjikan untuk kebahagiaan Adek saya?" Pertanyaan pembuka dari Arion cukup membuat Alif panas dingin kalau itu.

Alif sangat tahu bagaimana kedudukan Arion dalam keluarga calon istrinya itu. Sebagai lelaki nomor dua di hidup Hawa setelah sang papi, sudah bisa dipastikan Arion pun ingin mendapat jaminan. Bukan lagi harta yang menjadi tolak ukur nya tapi kebahagiaan Hawa lah yang menjadi poin utamanya disini. Menjelaskan bahwa Hawa tidak akan pernah ia sakiti, menjadi tantangan sendiri bagi Alif untuk mendapatkan restu lelaki di hadapannya ini.

"Saya tak bisa menjanjikan banyak hal Bang tapi saya akan berusaha menjadikan Hawa, perempuan satu-satunya di dalam hidup saya sampai saya menutup mata"

"Brengsek! Kamu berniat menduakan Adek saya?!"

"Enggak Bang, tak pernah terbesit sedikitpun itu melakukan itu. Tapi saya tak punya kuasa untuk masa depan Bang, terlebih saya hanya laki-laki biasa"

Ucapan Alif kalau itu, benar-benar lelaki itu buktikan, menjadikan Hawa perempuan satu-satunya sampai akhir hayatnya. Meskipun luka baru Alif torehkan pada hati Hawa, namun Arion tak bisa melakukan apapun sebab ini lah yang Allah mau dalam hidup Hawa. Step yang mengharuskan Hawa bahagia dan kehilangan di satu waktu yang bersamaan.

Lalu tujuan menikah apa? Apabila semua sudah tahu akhir dari cerita mereka masih akan tetap membuat mereka sendiri? Bukankah lebih baik membiasakan sendiri sejak awal daripada harus menggantungkan hidup pada sosok lain yang tidak bisa kekal?

.
.
.

01012024

Borahe 💙

KARUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang