"Boleh"
"Pi!! Enggak!!" Arion seketika menentang keras keputusan yang Adit.
Menginjinkan Hawa tinggal di rumah ini dan melepas penjagaan pada adik perempuannya bukan ide yang bagus. Rasa kesedihan yang mendalam akibat kehilangan orang yang di cintai, sedikit banyak akan memperngaruhi kondisi psikis orang yang ditinggalkan. Dan kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan tentu berpeluang besar.
Arion berpikir seperti itu, bukan hanya karena melihat banyaknya kasus yang terjadi di luaran sana, akan tetapi ia mengingat betul bagaimana keadaannya saat Adam meninggal kan dunia fana ini. Meskipun usia Arion saat itu baru sepuluh tahun, tapi tetap saja luka menghampirinya.
"Abang gak mau ya, Adek sendirian disini!"
"A-adek gak papa Bang" Jawab Hawa lirih. Tenaganya yang sudah banyak terkuras habis sejak semalam, membuatnya lemah dan tak bertenaga, kelapanya berat dan untuk bernafas terasa sesak.
"Enggak!! Abang gak mau, Adek pulang!! Titik!!" Penegasan Arion terlihat jelas disetiap kata yang ia keluarkan, membuat Hawa semakin pusing mendengarnya.
"Bang... Tapi..."
Belum sampai Hawa menyelesaikan ucapannya, pandangannya menggelap dan akhirnya tubuhnya luruh dalam dekapan sang ayah.
"Hawa"
"Adek"
Suara beberapa orang di ruangan itu saling bersautan melihat Hawa sudah tak berdaya.
Tanpa berpikir panjang, Arion mengambil alih tubuh kurus adiknya itu lalu mulai bergegas keluar, menuju mobil yang sudah lebih dulu pamannya siapkan.
"Om cepet" Pinta Arion pada Zainal.
Tangannya tak berhenti mengusap-usah wajah sang adik. Berharap Hawa akan segera sadar sebelum mobil mencapai rumah sakit. Tapi nyatanya sampai rumah sakit pun, tak ada pergerakan berarti pada Hawa.
"Tolong Adek saya, Dok"
"Baik, Bapak tunggu di depan ya"
Arion mengangguk pasrah menuruti keinginan dokter tersebut. Kaki nya berjalan mondar mandir di depan pintu yang tengah tertutup rapat, berharap tidak akan terjadi hal buruk pada adiknya.
Kepanikan Arion sedikit terhenti kalau tepukan di bahunya ia rasakan. Dengan hanya memberikan kode dagu saja, Zainal bisa membuat Arion memandang kearah pintu masuk rumah sakit tersebut. Ada Maya, Adit, Zara, beserta kedua anaknya tengah berjalan mendekat ke pintu ruang gawat itu.
"Gimana keadaan Adek mu, Bang?" Tanya Maya sedih. Meski sudah tidak mengeluarkan air mata lagi, tapi bisa terlihat bahwa sebelum sampai disini perempuan yang sudah melahirkan Hawa itu sebelumnya menangis, terlihat dari adanya sisa air mata di sudut matanya.
Arion tak langsung menjawab pertanyaan yang ibu, lelaki itu lebih memilih menuntun Maya untuk duduk di kursi terdekat. Ia paham tak mudah bagi Maya dan Adit menguras energi mereka sejak semalam dengan usia yang tak lagi muda.
"Adek masih diperiksa di dalam Mi. Mami yang tenang ya, Abang yakin Adek gak akan kenapa-kenapa" Jawaban Arion jelas berbanding terbalik dengan suasana hatinya.
Pernah kehilangan satu adiknya, Adam membuat laki-laki itu takut untuk kehilangan adiknya yang tersisa. Hanya Hawa yang saat ini ia punya, dan Arion tak ingin terjadi apapun pada sang adik. Namun tentu, rasa khawatirnya itu harus ia sembunyikan saat ia berada di hadapan Maya karena menambah kekhawatiran ibunya tentu bukan ide yang bagus untuk dilakukan.
Seusai mengatakan itu, Arion menegakkan tubuhnya dan mendekat ke arah pintu unit gawat darurat kembali, berharap dokter yang sedang memeriksa Hawa segera keluar dan memberitahukan bagaimana keadaan adiknya saat ini.
Beberapa kali, pasien keluar masuk dari ruang tersebut namun kabar untuk Hawa belum juga Arion dapat. Fokusnya yang hanya memikirkan Hawa membuat lelaki itu tak memperhatikan sekitar. Sampai akhirnya, Lagi-lagi bahunya di tepuk pelan oleh Zainal.
"Ada apa Om?" Tanya Arion penasaran.
Ekor mata Zainal menoleh pada ujung dari ruang tunggu darurat itu. Disana duduk seorang perempuan dengan pakaian hitam hampir menutupi seluruh tubuhnya, hanya sedikit menyisakan bagian wajah saja. Iya, perempuan itu tak lain dan tak bukan adalah Amanda, adik dari mendiang suami Hawa, Alif.
"Kok dia disini?" Tanya Arion begitu matanya mengikuti arah pandang pamannya.
"Kamu lupa dia sahabat Hawa?"
"Oh"
Jawaban singkat yang Arion berikan membuat Zainal gemas. Pasalnya bukan poin keberadaan Manda lah yang sedang ia ungkap pada keponakannya tersebut, namun sosok Manda lah yang sebenarnya ingin lelaki itu bahas.
"Om sudah dengar dari Papi mu" Ucap Zainal mulai kembali membuka obrolan dengan Arion. Kedua lelaki itu berdiri tepat di depan pintu ruang ugd, sedikit menjauh dari keluarga yang lain.
"Denger apa?" Tanya Arion tak paham.
"Tentang rencana mu menikahi Manda" Arion tersedak ludahnya sendiri, begitu Zainal menyinggung percakapannya dengan sang ayah beberapa saat lalu.
"Itu gak serius Om. Aku cuma mencari opsi biar bisa jagain Hawa di rumah itu, karena jelas, disana aku akan kesulitan, apalagi bukan hanya Hawa yang tinggal disana"
"Om rasa itu bukan ide yang buruk Rion" Kata Zainal santai, seolah pernikahan yang Arion sempat kemukakan adalah hal sepele yang bisa keponakannya itu atasi. Ia mengesampingkan fakta bahwa selama ini Arion tak pernah mau hubungan dengan lawan jenis.
"Jangan gila Om"
"Loh emang Om salah? Kayaknya pikiran mu yang sempit deh Bang"
"Kok bisa?" Tanya Arion penuh tanya.
"Menikah itu mudah. Hanya perlu ijab dan semua jadi sah"
"Maksudnya?" Tanya Arion masih belum mengerti.
"Ya kayak kamu, yang bilang iya sama Mami tapi gak pernah ngelakuin yang Mami suruh" Jawab Zainal sedikit was-was. Pasalnya saat sang kakak ipar tahu bahwa ia mengajarkan Arion untuk berbuat tidak-tidak bisa dipastikan nyawanya akan terancam. Nanum, titik pentingnya bukan hanya pada itu, misi yang sedang Zainal emban adalah membuat keponakan gantengnya itu mau untuk menikah.
Mendengar cerita Adit bahwa Arion memberikan ide gila untuk tetap di rumah Alif, membuat Zainal berpikir, saat ini waktu yang tepat baginya turun tangan ikut menyukseskan ide gila sang ponakan tercinta.
"Maksud Om, aku tetep menikah sama tuh cewek?"
"Iya lah. Hawa perlu di jagain Bang. Kamu tahu kan gimana nekat nya cewek kalau udah di landa masalah? Mereka bisa melakukan hal-hal yang di luar nalar kita loh" Ucap Zainal membesar-besarkan.
"Na'uzubillahiminzalik... Jangan aneh-aneh ya Om"
"Makanya kamu perlu jagain adek kamu"
"Tapi gak dengan cara menikah sama adiknya Alif dong Om"
"Kenapa enggak? Toh Om tahu, sekalinya kamu menikah, kamu gak akan serius kan? Karena sejak awal hati mu udah mati sama cewek mana pun. Cukup sakit nafkah lahir semua beres Rion. Cewek itu butuhnya duit dan kamu punya itu"
Arion terdiam mendengar provakasi yang Zainal katakan. Otaknya berpikir keras, tindakan apa yang harusnya ia lakukan.
Sampai pada akhirnya, anak sulung Adit itu mendekatkan diri pada sang ibu "Mami, Abang bisa ngomong sebentar?"
"Apa Bang?"
"Abang mau menikah" Ucap Arion datar.
.
.
.
07012024
Borahe 💙
KAMU SEDANG MEMBACA
KARUNA
RomanceAwal nya tak pernah kenal sebelumnya, tak pula di jodohkan, keinginan menikah pun tak pernah terbesit, namun tiba-tiba hati Arion tergerak untuk menikahi sahabat adiknya itu.. Sayangnya, rencana untuk menikahnya tidak sesuai dengan kemauannya. Detik...
